28.2.18

GOLO MBELILING

bike to pulau

6 DESEMBER 2017. 

Etappe Terakhir:

Menjelang Labuan Bajo dan Langit yang Tak Lagi Terik


Hari ini adalah hari ke-10 sekaligus lembar terakhir dalam perjalanan saya menjelajahi Flores. Tak lagi ada bayang-bayang tanjakan atau medan berat. Yang tersisa hanya rasa takjub, bahwa Larantuka—titik awal peluh dan pedal—telah menjelma menjadi kenangan, dan Labuan Bajo… tinggal beberapa kayuhan lagi.

Segala tantangan sudah saya lalui: tanjakan, hujan, panas, dan lelah. Tapi yang paling mengesankan bukan hanya bentang alamnya—melainkan orang-orangnya. Masyarakat yang terbuka, hangat, ringan tangan… interaksi yang membuat perjalanan ini bukan sekadar lintasan, melainkan pertemuan.

Penunjuk jarak di sepeda menunjukkan angka 653 km. Kurang lebih 50 km lagi menuju garis finis. Setelah menyeruput kopi dan menyantap roti di pos keamanan penginapan, saya mulai mengayuh pelan, meninggalkan Lembor dengan udara sejuk pegunungan yang masih menggigit lembut.

Jalan lurus terbentang, mendatar, dengan hamparan sawah di kiri-kanan. Gunung-gunung mengawal dari ujung horison. Sebagian petak sawah sedang dipanen. 

Di pinggir jalan, padi dijemur. Beberapa petani masih menggunakan ani-ani, sebagian sudah beralih ke mesin pemotong. Entah efisiensi atau mungkin memang tenaga muda sudah langka di kampung-kampung.

Beberapa warga sempat mengatakan, generasi muda banyak yang pergi ke kota—baik di Flores maupun di Jawa. Sebagian bahkan menjadi TKW, dan tak jarang, mereka tak kembali lagi ke tanah kelahiran.

Ketika otot kaki mulai panas, pedal saya pacu lebih cepat. Jalanan sepi, hanya ada satu jembatan kokoh dari besi berdiri di atas sungai yang nyaris kering. Setelah itu, tanjakan panjang mengarah ke lembah berikutnya dan itu terus berulang.

Di tengah kayuhan, sepeda mulai “berbicara”—rantai enggan pindah ke gir terkecil. Tapi saya tak terlalu memikirkan itu. Labuan Bajo sudah dekat, rasanya seperti ditarik magnet pulang.

Di satu titik, sinar matahari mulai menyengat. Saya mampir di warung kecil di pinggir bukit batu, sekadar berteduh dan melepas peluh. Sepeda saya sandarkan di dinding. Saya pesan segelas jus mangga—manis, dingin, menyegarkan. Sebuah motor juga singgah. Seperti biasa, rokok jadi teman sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Turunan membawa saya ke jembatan besar. Dua sungai bertemu di bawah sana, air mengalir deras. Batu-batu besar berserakan—diangkut truk oleh penduduk, dijual keluar daerah. Sungai tak hanya mengalirkan air, tapi juga rejeki.

Medan kembali mendaki. Langit mendung. Tanjakan terjal melingkar seperti ular batu. Hujan pun turun. Saya berhenti, bergegas mengenakan jas hujan. Tapi rintiknya semakin deras, memaksa saya mencari tempat berlindung.

Di bibir tebing, saya temukan pohon besar dengan cekungan di bawah akar-akarnya. Saya masuk, jongkok diam di dalamnya—sedikit lega, sedikit was-was. Di antara petir dan rasa dingin, saya menunggu hujan reda. Tempat sempit itu tak ramah, tapi cukup untuk sejenak berlindung.

Setelah reda, saya keluar. Sepeda kembali menyatu dengan jalan. Basah, dingin, tapi semangat tetap hangat. Di ujung sana, Labuan Bajo sudah mulai menampakkan bayangnya.






710 Kilometer, Sepeda, dan Sunset di Ujung Flores

Tak lama di atas sadel, sebuah warung kecil muncul di sudut jalan. Harapan saya sederhana—nasi hangat untuk makan siang. Tapi ternyata warung itu hanya menjual minuman. Untungnya, ada beberapa bungkus mie instan terselip di antara tumpukan botol plastik. Mirip kejadian di jalur Mborong–Ruteng tempo hari: makan siang tak ada, mie instan pun jadi penyelamat.

Perjalanan kembali dilanjutkan ketika hujan benar-benar reda dan kopi sudah tandas dari cangkir terakhir. Jalan mendaki terus menguji ketahanan. “Puncaknya lima kilometer lagi,” ujar pemilik warung. Dengan celana dan sepatu yang masih basah, saya pun menaklukkan tanjakan menuju puncak Golo Mbeliling.

Di sana berdiri baliho besar berisi himbauan untuk menjaga keberadaan burung Jalak Flores—satwa endemik pulau ini yang kini kian terancam punah. Jalak Flores diburu dan dijual secara ilegal, bahkan diselundupkan lewat kapal feri dari Labuan Bajo ke Sape, Sumbawa. Di pojok-pojok gelap kapal, kandang-kandang kecil disembunyikan. Jika tak diawasi, satu-satunya jalak asli Flores bisa lenyap dari hutan-hutan ini.

Di tengah kabut tebal yang turun selama hampir 10 km, saya melihat pembangunan menara telepon seluler. Semoga teknologi tak mengusir makhluk-makhluk yang sudah lama bermukim di habitat ini.

Jalan menurun berkelok-kelok mulai membawa saya turun dari Golo Mbeliling. Hairpin kembali muncul. Rumah penduduk tersebar jarang-jarang, berdiri di tengah kabut, di tepi tebing yang baru saja dipapas. Lembah di kanan jalan menghampar luas, pucuk-pucuk pohon sejajar dengan mata. Semuanya basah dan tenang, khas jalan Flores selepas hujan.

Menjelang kampung Dolong, masjid kecil mulai terlihat. Tanda bahwa pesisir sudah dekat. Dari atas, Labuan Bajo mulai tampak mengintip—dari kejauhan, di pelataran komodo. 

Sepeda saya pacu cepat. Tanjakan masih ada, tapi tak ada yang terlalu curam. Di medan yang mendatar, matahari sore sempat mencuri perhatian dari balik awan kelabu.

Saat lampu merah pertama muncul dan wisatawan warawiri naik motor sewaan, saya tahu: kota ini sudah menyambut saya. Sebelum mengambil dus sepeda yang saya kirim dari Maumere via Lion Parcel, saya singgah dulu di Kampung Ujung sebagai simbol dari akhir perjalanan saya bersepeda di tanah Flores, Alhamdulillah.

Kampung Ujung adalah salah satu  pusat kuliner pinggir pantai yang ramai dan hidup. Pemerintah menatanya jadi ruang wisata rasa: harga bersahabat, menu bervariasi, dan suasana khas pesisir. 

Saya pesan segelas jus alpukat dari warung yang dijaga oleh seorang siswi SMA yang tengah menggantikan ibunya yang sedang sakit. Perasaan saya campur aduk—antara lega dan tak percaya. 710 kilometer sudah saya tempuh di atas roda dan hasrat.

Di tengah sunset yang mulai merah jingga, saya membuka ponsel. Ada pesan dari teman di Jakarta yang mengabarkan nomor kontak yang bisa saya hubungi. Segera saya menelepon. Orang yang saya hubungi dengan ramah menawarkan tempat menginap di kantornya. Tapi saya memilih mencari tempat sendiri, tak ingin merepotkan.

Sebuah hostel backpacker di jalan utama dekat pelabuhan jadi pilihan. Bangunannya sederhana tapi bersih. Tempat tidur susun masih rapi, sepertinya saya satu-satunya tamu malam itu. Petugas penginapan berkata, banyak wisatawan membatalkan kunjungan karena erupsi Gunung Agung di Bali.

Harganya hanya 75 ribu per malam, lengkap dengan AC dan sarapan. Murah. Jauh lebih murah dari yang saya bayangkan sebelumnya. Labuan Bajo ternyata tidak sekeras dugaan saya sebagai titik akhir. Bahkan masih ramah untuk seorang bikepacker yang datang dengan peluh dan penuh cerita.

Setelah membayar dan mencatat KTP, saya masuk ke kamar berukuran 8x20 meter. Pannier saya copot dan bongkar perlahan. Kamar mandi di belakang jadi tempat pertama yang saya tuju. Tubuh ini sudah lama ingin disentuh air hangat.

Cacing-cacing di perut mulai berisik. Waktu mencari makan sudah tiba.


bike to pulau









bike to pulau

bike to pulau

bike to pulau

bike to pulau

Labels: , ,

27.2.18

MBARU NIANG

bike to pulau

5 DESEMBER 2017.

Dari Ruteng ke Savana:

Riuh Lorong, Liang Bua, dan Sungai yang Harus Diarungi


Pagi itu saya terbangun bukan oleh alarm, tapi oleh suara riuh di lorong penginapan. Serombongan wisatawan bersiap melanjutkan perjalanan. Hotel sederhana ini memang jadi langganan travel-agent: tarifnya bersahabat, fasad bangunan berpadu arsitektur lokal, dan lokasinya strategis—cukup alasan untuk jadi persinggahan.

Sarapan tersaji di coffee shop mungil yang menghadap jalan utama. Roti bakar, teh atau kopi, lengkap dengan udara pegunungan yang menenangkan. Suhu 16°C, cukup dingin untuk membuat tamu-tamu duduk agak lama di bawah sinar matahari yang mulai ramah.

Tak jauh dari sana, mahasiswa dari kampus sebelah berjalan beriringan menuju kelas. Bangunan kampus yang berdiri menghadap jalan konon merupakan warisan masa kolonial Belanda. Temboknya tua, tapi masih berdiri dengan anggun.

Menjelang siang, saya tinggalkan penginapan. Rencana awal untuk mentransfer data ke CD di warnet saya batalkan. Sebagai gantinya, saya bersih-bersih isi laptop, menghapus program yang tak perlu, memberi ruang baru untuk rekaman perjalanan ini. Bekal memori terbatas membuat pemindahan data dari kamera ke laptop menjadi ritual wajib—meski kadang menyita waktu.

Ruteng tak luas, tapi rasanya seperti kota besar yang dipangkas halamannya. Fasilitas lengkap, trotoar rapi, bebas PKL—cocok untuk berjalan kaki santai sambil menyerap dingin pagi. Kota ini juga dikenal sebagai kota pelajar di jantung Manggarai dan menyimpan permata sejarah: Gua Liang Bua.

Gua Liang Bua, peninggalan prasejarah Indonesia, terletak di Dusun Rampasasa. Panjangnya sekitar 50 meter, lebar 40 meter, dan atapnya menjulang 25 meter. Di sinilah ditemukan Homo Floresiensis—manusia kerdil setinggi 100 cm, berat 25 kg, hidup 13.000 tahun lalu di antara gajah pigmi dan kadal raksasa. Tengkoraknya sebesar buah jeruk, dan keberadaannya mengubah cara dunia melihat sejarah manusia.

Gua ini terbentuk dari batu gamping dan pasiran, berasal dari periode Miosen Tengah, sekitar 15 juta tahun silam. Di Flores, karst tak hanya menyimpan fosil, tapi juga keunikan geologi yang berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Keluar dari kota, jalan mulai menurun menuju Lembor di Manggarai Barat. Gunung Ranaka di kiri berdiri gagah, disiram cahaya pagi. Rem sepeda bekerja keras saat saya masuk lembah-lembah curam, air terjun di titik terendah menyapa dengan gemuruh pelan.

Rumah mulai jarang. Tanjakan kembali menghampiri, kali ini dengan tikungan-tikungan hairpin yang tajam. Di puncak, saya berhenti sebentar, meneguk air dan mengambil napas.

Seorang perempuan dari Belanda yang sedang menumpang ojek berhenti tak jauh dari saya, menggendong balitanya dengan santai. Ia memotret pemandangan. Katanya, ia hendak ke Teras—wisata sawah di Cancar, 25 km dari Ruteng. Ia berkeliling Flores berdua saja, menggunakan ojek sebagai kendaraan utamanya. Perjalanan dalam bentuk paling sederhana.

Tanjakan mulai melandai, tapi jalan masih panjang. Di kiri-kanan, pohon cengkih sedang berbuah, sebagian sudah dipetik, dijemur di pinggir jalan—menjadi mosaik dari ladang dan aroma. Angkutan antar kota sesekali lewat, dengan barang-barang ditumpuk di atas atap minibus.

Langit mulai menghitam saat saya tiba di turunan yang berakhir pada jembatan yang sedang diperbaiki. Jalur ditutup dari dua arah. Semua harus menyeberang sungai langsung, secara bergantian. Saya turun dari sepeda, menuntunnya perlahan melintasi kerikil basah yang membuat roda sesekali mogok. Untung bukan musim hujan.

Selepas sungai, tanjakan datang lagi. Di antara ladang dan savana kecil dengan aksen pohon lontar, saya tiba di sebuah kampung. Sepeda saya parkirkan di depan warung sederhana. Segelas jus sirsak pun saya pesan—pengisi vitamin C untuk tubuh yang terus diajak mendaki.




Menyusuri Cancar: Lodok, Rintik Hujan, dan Janji untuk Wae Rebo

Selepas istirahat, jalanan mulai bersahabat. Anak-anak pulang sekolah berlarian di pinggir jalan, menyapa dengan riang, “Hallo mister…!” seperti lagu yang tak pernah usang di pelosok Flores.

Tiba di pertigaan Kecamatan Cancar, saya belok ke kanan, menuju tempat yang tadi disebut oleh wisatawan Belanda: sebuah sawah berbentuk sarang laba-laba. Masyarakat menyebutnya Lodok—sistem pertanian adat yang jadi kebanggaan Kabupaten Manggarai.

Untuk melihat pola indah itu, saya harus mendaki bukit, melangkah menapaki 250 anak tangga tanah yang ditata zig-zag, ditopang bambu sebagai penahannya. Di puncak, hamparan Lingko memukau: jaring simetris nan rapi, seperti lukisan geometri yang ditanam di bumi.

Lodok bukan sekadar estetika—ia adalah wujud pengelolaan lahan secara adat. Lingko adalah tanah komunal, dibagi oleh ketua adat untuk memenuhi kebutuhan bersama. Menurut Bang Hani, seorang warga yang saya temui, Lingko adalah simbol persatuan: warisan nenek moyang yang mengajarkan harmoni dan kebersamaan.

Sayangnya, tempat indah ini masih butuh sentuhan pengelolaan. Sampah plastik berserakan di beberapa titik. Saya sempat menegur pengelola swadaya agar menjaga kebersihan, demi kenyamanan tamu yang datang dari jauh.

Saat turun, saya ditawari segelas kopi oleh pemilik lahan parkir. Sayangnya, karena hari sudah bergeser ke siang, saya menolak tawaran hangat itu. Perut minta diisi, tenaga harus dipulihkan.

Rumah makan sederhana di pertigaan jadi tempat singgah. Sepiring nasi dan sup daging jadi penyelamat. Tapi belum selesai kopi hangat saya teguk, langit murung menumpahkan hujan. Saya tertahan di warung itu, udara jadi sejuk, suasana jadi sendu.

Beberapa mobil travel mampir. Pengunjung memperhatikan sepeda saya yang dijejali peralatan—mereka bertanya, bercanda, menyisipkan rasa ingin tahu yang tulus.

Setelah hujan reda, saya kembali mengayuh. Cancar perlahan ditinggalkan. Pesawahan menghampar di kiri dan kanan. Temperatur menurun, ketinggian sudah berada di 1050 mdpl. Medan mendaki lagi, jalan basah, sempit, belum lebar sesuai standar nasional. Tapi pemandangannya? Eksotis.

Hutan lebat menyembul di beberapa titik, suara burung dan serangga mengiringi kayuhan. Beberapa kendaraan lewat, memberi salam lewat klakson mereka.

Di jalan yang mulai landai, saya melihat papan petunjuk: kiri ke Wae Rebo, lurus ke Lembor dan Labuan Bajo. Saya berhenti. Seorang warga bertanya, “Mau ke Wae Rebo, pak?” Saya jawab, "Tertarik, tapi bukan hari ini—mungkin suatu saat nanti."

Awalnya saya ingin ke sana. Tapi saya putuskan, biarlah kampung Bena dulu mewakili napas tradisi di perjalanan ini. Karena Labuan Bajo sudah dekat—tujuan utama yang mulai menjelma dari harapan jadi kenyataan.

Wae Rebo, kampung di ketinggian 1400 mdpl, harus ditempuh 4 jam jalan kaki dari Denge. Jika beruntung, bisa menumpang ojek atau truk kayu berbangku papan. Perjalanannya berat, tapi katanya... pemandangannya membayar lunas segala letih.

Desa itu memiliki tujuh rumah adat kerucut: Mbaru Niang. Arsitekturnya unik, berdiri di tanah hijau di antara bukit dan kabut. Konon, rumah itu bertahan selama 19 generasi. UNESCO menetapkan Wae Rebo sebagai situs warisan dunia tahun 2012. Di sana, kopi khas Flores disuguhkan dalam kehangatan rumah adat, sambil menatap hutan yang seolah tak berujung.

Saya janji akan ke sana. Suatu hari.

Untuk sekarang, sepeda saya arahkan ke Trans Flores, melanjutkan perjalanan ke Lembor. Jalan mendaki berkelok, jurang menganga di kanan kiri. Setelah tanjakan yang panjang, turunan curam pun menanti. Saya pacu sepeda, langit mulai berwarna oranye. Di SPBU, petugas menyapa, “Sudah masuk Lembor, pak…”

Kota kecil yang sederhana ini menyambut saya dengan penginapan yang mudah ditemukan. Di seberangnya, ada satu lagi, tampak lebih baik. Saya pilih yang kedua. Meskipun AC-nya rusak akibat voltase listrik yang tidak stabil, kipas angin cukup untuk malam itu. Tarifnya 180 ribu rupiah—pas di kantong, cukup untuk istirahat.

Setelah mandi dan menata ulang energi, saya makan malam di restoran milik penginapan—walau berada di lokasi yang berbeda. Menu tak istimewa, tapi cukup untuk menutup hari panjang yang penuh sawah, tangga, dan sedikit janji yang masih tertahan di bukit bernama Wae Rebo.

bike to pulau






bike to pulau


bike to pulau

Labels: , , , , ,

25.2.18

RANAMESE

bike to pulau


4 DESEMBER 2017.

Etappe Borong–Ruteng: Di Antara Tanjakan, Batu Bata, dan Kelapa Muda

Pagi di Borong dibuka dengan aroma nasi kuning di warung sebelah penginapan. Penjualnya pendatang dari Sumbawa, dan antreannya jadi penanda bahwa rasanya tak main-main. Sepiring nasi hangat lengkap dengan irisan telur, sambal pedas, dan tempe kering yang renyah menggoyang lidah.

Kota kecil ini mulai menggeliat. Mobil travel plat hitam lalu-lalang menjemput penumpang. Di jalan-jalan sempit, kehidupan pelan-pelan mengambil posisi. Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur yang lahir dari pemekaran Manggarai tahun 2007, menyimpan ragam wisata: Danau Ranamese, Situs Watu Nggene, hingga pantai Cepi Watu yang menggoda dari kejauhan.

Sambil menyeruput kopi hitam di antara barang-barang yang berserakan, saya menata ulang pannier—bersiap untuk menghadapi medan berat ke Ruteng. Jalur hari ini akan terus menanjak, dari 4 meter di atas permukaan laut menuju 1200 mdpl dalam jarak 45 km saja. Sepeda saya angkut pelan menuju jalan raya, matahari mulai menyapa dengan suhu yang sudah menyentuh 28°C.

Awal perjalanan masih ramah. Sekitar 4 km jalur datar dilewati, termasuk sebuah jembatan yang membentang di atas sungai Wae Bobo. Sungai itu bermuara di pantai Cepi Watu, tempat favorit warga melepas penat. Tapi setelah itu, tanjakan mulai mengambil alih.

Rumah-rumah penduduk masih saling berdempetan, diapit oleh kebun palawija yang menenun hijau di kiri dan kanannya. Sepeda dengan beban 12 kilogram tetap stabil. Sistem rem yang dulu sempat bermasalah kini bekerja baik, mengikuti irama kaki yang pelan tapi pasti.

Saat kantor Kecamatan Ranamese terlewati, matahari mulai meninggi dan membuat bidon air jadi penyelamat. Bukit-bukit hijau di kejauhan berlapis tanaman keras dan pohon cengkih. Warga tampak banyak yang membawa ikatan kayu bakar dari ladang, diikat di punggung atau kadang boncengan motor tua.

Lalu lintas lengang. Sesekali mobil travel melaju, membawa rombongan kecil ke arah Ruteng. Flores memang ramah bagi petualang—jalan mulus, udara bersih, dan pemandangan yang bikin diam jadi doa.

Dua botol minum akhirnya tandas saat saya memasuki sebuah kampung. Warung kecil di pinggir jalanlah yang menjadi oasenya. Seperti biasa, kulkas jadi incaran pertama. Kaleng minuman dingin langsung habis dalam beberapa teguk. Seorang anak perempuan datang jajan, “Capek, baru ujian dari kampung sebelah,” katanya sambil tertawa kecil.

Selain menjual kebutuhan rumah tangga, warung itu juga memproduksi batubata. Suami sang pemilik sedang menjemur hasil cetaknya di halaman. “Belum bisa kirim ke luar kota,” katanya. “Masih pakai alat seadanya.” Tapi semangatnya tak terlihat terbatas.

Sepeda kembali dikayuh. Di depan SMAN Sita, beberapa pelajar nongkrong di gerbang—entah menunggu angkutan atau membahas soal ujian. Matahari tepat di atas kepala, perut mulai merintih. Saya bertanya pada siswa yang berjalan kaki. “Di kampung ini belum ada warung makan, coba di kampung depan,” jawab mereka.

Kampung berikutnya menyambut dengan sebuah warung di seberang kantor desa. Tapi nasi sudah diborong kontraktor tambang pasir sejak pagi. Tak ingin menyerah, saya minta direbuskan mie instan saja. Semangkuk hangat jadi pengganjal untuk medan menanjak yang menunggu.

Suhu mulai turun perlahan. Udara perbukitan di utara Mborong memberikan kesejukan. Pohon-pohon besar memayungi jalan, semilir angin menyejukkan napas, kabut tipis menggantung di puncak-puncak bukit yang terlihat samar di kejauhan.

Di sela-sela pendakian, saya berhenti di kebun seorang petani yang menjual kelapa muda. Lima ribu rupiah untuk segelas alami yang segar luar biasa. Air kelapa masuk ke kerongkongan seperti hadiah kecil dari alam.







Ranamese, Ranaka, dan Jalan Pulang ke Ruteng

Menjelang Ranamese, di kaki timur Gunung Ranaka, langit mulai gelisah. Hujan jatuh perlahan, ditemani kabut yang menyelimuti pohon-pohon tinggi. Suasana mendadak mistis, mungkin sugesti dari cerita warga yang sempat bilang: “Lewat sini hati-hati...”

Kabut makin tebal saat saya berhenti di sebuah tembok besar di pinggir jalan. Ada rasa penasaran, lalu saya turun dari sepeda. Di balik tembok itu—jurang terjal dan danau sunyi. Ranamese. Permukaannya sebagian tertutup awan tipis, pucuk-pucuk pohon bergoyang pelan, tak ada tanda-tanda kehidupan.

Tembok itu konon dibangun sebagai pelindung, agar kendaraan tak terseret masuk ke danau. Beberapa cerita mengenangnya tragis—kendaraan pernah tergelincir di sana, membawa nyawa dalam diam.

Tak jauh dari situ berdiri pintu gerbang Taman Wisata Ranamese. Tapi waktu mengejar, kaki masih harus bergerak. Hujan kembali mengguyur saat sepeda saya kayuh lagi, kabut setia hingga puncak pendakian.

Setelah melewati kampung Mano, jalan menanjak lagi menuju Robo. Di sana, sebuah pertigaan menuju Puncak Ranaka terbuka, menyapa pesepeda yang berani menantang langit. Gunung Ranaka, tertinggi di Manggarai, adalah bagian dari gugusan Mandusawu yang merentang dari barat ke timur.

Namanya berasal dari danau kecil di sekitar puncak: Rana berarti danau, Ka berarti burung gagak. Di timur puncaknya, berdiri kawah yang sempat meletus pada Januari 1988—melahirkan anak gunung yang bernama Nampar Nos.

Puncak Ranaka bukan sekadar tinggi. Di sana ada telaga yang dipercaya sebagai kampung asal nenek moyang suku Manggarai—Kuleng. Mereka mandi di telaga, hidup di lerengnya, dan dari sanalah menyebar ke kampung-kampung lain. Tempat itu disebut “Bangsa Kuleng”—jejak pertama peradaban Manggarai.

Saya tak naik ke sana, hanya melewati pertigaan, lalu mulai menuruni jalan yang basah. Jas hujan masih saya kenakan, bukit-bukit menghijau jadi pemandangan yang menyegarkan. Kota Ruteng semakin dekat.

Di dekat Terminal Lando, gapura bertuliskan “Selamat Datang” berdiri gagah. Kota mulai berdetak. Jalan mulai ramai, bangunan berdiri rapat, pompa bensin dipenuhi antrian. Ruteng menyambut dengan suhu yang menurun dan keramaian pelan.

Saya mencari penginapan sesuai rekomendasi seorang sales minuman yang saya temui di Batu Hijau, Ende. Tapi tempat itu tak mudah ditemukan. Hari mulai gelap, dan saya sudah lelah. Setelah bertanya beberapa kali ke warga, akhirnya bangunannya terlihat—sebuah resort sederhana di tengah sawah, dekat Bandara Ruteng.

Tapi lokasi yang terlalu pinggir membuat saya berpikir ulang. Logistik sulit, warung jauh, dan tubuh butuh tempat yang praktis. Maka saya balik arah, kembali ke kota, dan menemukan penginapan seperti rumah kayu di pinggir jalan utama. Tarifnya masuk akal, fasilitas air hangat dan sarapan jadi bonus.

Setelah membersihkan diri dari peluh dan debu yang menempel sejak pagi, saya langkahkan kaki ke persimpangan alun-alun. Sebuah restoran kecil dengan menu Capcay hangat jadi pelabuhan perut yang sudah lama kosong.

Sepanjang siang itu, saya belum bertemu nasi. Dan seperti kata orang Melayu, "kalau belum makan nasi, rasanya belum makan.



bike to pulau

bike to pulau
bike to pulau




Labels: , , , , , , ,

23.2.18

MINTA RESTU

bike to pulau


 3 DESEMBER 2017 .

Melintasi Bambu Bheto, Puncak Inerie, dan Sapaan Mangga Pinggir Jalan


Hari ini hari ke-13 di atas sadel, hampir dua minggu sudah meninggalkan rumah, jika semuanya lancar, seminggu ke depan roda akan berhenti di Labuan Bajo. Pagi ini sarapan disiapkan oleh Marlin Geli—gadis muda lulusan SMK Pariwisata yang mana leluhurnya berasal dari kampung Bena.

Bajawa bersiap dilepas, langit membiarkan mataharinya bersinar lembut di sela-sela pegunungan Ngada.dengan suhu sejuk 19 derajat, Manual book kembali dibuka, halaman elevasi dicermati, kontur menuju Mborong terlihat menurun panjang, datar, lalu menanjak lagi sebelum meluncur landai ke garis akhir. Perkiraan jarak: 86 kilometer.

Sepeda saya arahkan ke kanan dari pertigaan Trans Flores meninggalkan jalan yang menuju Boawae dan Ende. Di simpang itu angkutan kota berbaris menunggu penumpang, minibus dan truk dengan bangku dari kayu yang menjadi alat duduknya bersiap mengantar siapa saja yang ingin bergerak.

Karena Bajawa berada di titik tertinggi, jalan mulai menurun dan memeluk lereng-lereng bukit. Tujuan pertama: Aimere, kota kecil yang bersandar tenang di pesisir selatan. 

Jalanan berkelok, beberapa tikungan berbentuk hairpin membuat saya harus ekstra hati-hati tapi hari Minggu memberi berkah—lalu lintas cenderung sepi dan udara tetap bersih.

Bambu-bambu Bheto menjulang tinggi di kiri-kanan jalan bersanding dengan kebun cengkih dan kakao, komoditas kebanggaan daerah ini, Gunung Inerie tampak mengawasi dari kejauhan, gagah dan tenang.

Menurut legenda lokal, Inerie adalah istri Abulobo tapi mereka tak akur, dalam satu pertengkaran Inerie melempar sendok ke Abulobo dan mengenai giginya, maka lahirlah lekukan di bibir puncak gunung itu.

Hanya butuh satu jam menuruni lembah-lembah dengan latar pegunungan segitiga khas NTT itu, pantai Aimere perlahan muncul udara mulai panas, pohon lontar menyambut tinggi di kiri-kanan jalan memberi nuansa eksotis.

Warung-warung sederhana bermunculan yang mayoritas menjual buah. Saya mampir di salah satunya mengisi tubuh dengan air kelapa dan manisnya mangga golek. Di atas bale-bale, saya berbincang dengan sang pemilik yang sedang menggendong cucunya, bocah itu lahir di Tangerang, anak dari pasangan yang kini tinggal terpisah karena ayahnya masih mencari nafkah di tanah Jawa katanya.

Sementara sang Ibu yang asli Waingapu sedang sibuk di dapur, aroma masakannya sesekali menyeruak. Sebatang rokok dan mangga terakhir menutup persinggahan di siang itu. Saya lanjutkan kayuhan melewati pelabuhan Aimere yang sedang sepi karena hanya seminggu dua kali feri datang dari Waingapu atau Kupang yang singgah disini.


Jalur pesisir menyuguhkan lanskap pohon kelapa dan mangga yang bersahutan, buahnya berserakan di tepi jalan, seolah menunggu dikutip. Anak-anak melambaikan tangan sambil berseru, “Hallo Mister…!” Penginapan-penginapan tampak lengang, parkiran mereka kosong.

Rencana makan siang sempat saya tujukan ke warung cantik di bibir pantai berpasir putih di sebuah pelosok, namun jalan menuju ke sana begitu buruk, genangan air dan batu-batu besar membuat pannier saya sering berontak, terlepas beberapa kali dari dudukannya. Khawatir rusak dan tak ingin ambil risiko saya pun balik arah dan memutuskan untuk makan di warung Padang saja yang tadi sempat saya lewati.

Pemilik warung itu pasangan muda asal Payakumbuh, sebelumnya mereka sempat merintis usaha di Pelabuhan Ratu Sukabumi lalu memilih untuk menetap disitu. Makan siang itu ditutup dengan kopi pahit dan rokok, seperti biasa: ritual kecil sebelum lanjut mendaki. 

Di tengah seduhan seseorang menepuk bahu saya. Pemuda bertopi hitam, wajahnya familiar, rupanya kami pernah bertemu di Nangapanda dan ia adalah supir Canvaser perusahaan rokok asal Kediri itu. 

Ia bilang ia sedang pulang kampung dari Ruteng menuju Ende dengan motornya, mampir di warung karena perlu beristirahat, ia habis mengunjungi keluarganya khususnya sang oom, untuk minta restu untuk menikahi gadis pujaan hatinya yang asli Ende.

Kisah pun berlanjut di antara tawa ringan dan kopi hangat, jalur Trans Flores bukan hanya tentang tanjakan dan turunan, tapi juga tentang pertemuan—yang kadang datang tanpa diduga.

 

Dari Mangga Jatuh ke Lampu Senja Borong.

Siang mulai merangkak naik saat saya meninggalkan pesisir Aimere yang datar dan teduh itu. Jalanan perlahan berubah—menanjak dan berkelok menyusuri punggung pegunungan Manggarai Timur. Ladang-ladang penduduk terhampar di kaki bukit sebelum akhirnya vegetasi berubah menjadi pepohonan keras dan hutan tropis di atasnya.

Pendakian panjang mulai menguras tenaga. Di sebuah tikungan sunyi, beberapa buah mangga tampak jatuh dari pohon, tergolek manis di aspal, godaan tak tertahankan saya pun berhenti dan memungutnya beberapa.

Tak jauh dari sana seorang anak kecil duduk santai di pinggir jembatan, ia datang dan  memperkenalkan dirinya sebagai Yono, diambil dari nama aslinya Johanes. Di tengah obrolan saya minta tolong untuk meminjam pisau, iapun berlari ke rumahnya yang terletak di seberang jembatan dan kembali dengan semangat.

Yono, anak SD yang ayahnya mengajar di SMP kampung itu, terlihat gembira melihat pesepeda asing singgah di tempatnya. "Sekolahku cuma 5 kilometer dari sini, jalan kaki saja om" katanya bangga.

Setelah mangga terakhir saya habiskan dan pisaunya dikembalikan, ia menawarkan diri untuk memotret saya menggunakan HP dan hasilnya cukup bagus—saya berdiri di tengah jalan, berlatar hutan tropis dan rambu lalu lintas di sudut bingkainya.

Pendakian terus berlanjut hingga saya tiba di puncak, lalu menurun memasuki Waerana, di Kecamatan Kotakomba. Kabut tipis menyambut dan menari pelan di antara pepohonan Trembesi tua yang berdiri anggun di samping lapangan bola. Rumputnya hijau membalut lapangan dan beberapa anak-anak tampak sedang berlatih karate dipandu oleh seorang pemuda yang menggemakan aba-aba semangat.

Di samping lapangan itu berdiri Gereja sederhana namun megah, saya pun singgah. Tiga anak perempuan yang sedang berdiri di pertigaan tampak panik saat melihat saya bersepeda mendekat, mungkin sepeda besar ini seperti makhluk asing bagi mereka.

Gereja itu tak hanya menyediakan ruangan di dalam, tapi juga altar terbuka di halaman, dibangun di bawah pohon karet besar dengan kursi-kursi beton ditata rapi menyerupai teater. Konon, tempat ini digunakan saat hari raya besar saja bila ruangan utama tak mampu menampung umat yang datang.

Setelah mengambil beberapa gambar saya mampir ke warung di seberang untuk menambah persediaan air namun sempat terkejut ketika seorang pria muncul dari dalam tanpa sehelai benangpun! Ternyata ia adalah adik dari sang pemilik warung, penduduk lain yang sedang saya duduk mencoba meluruskan suasana dengan tawa canggung dan maaf di akhir percakapan.

Hari beranjak sore, langit barat mulai menguning, jalan mendatar di depan adalah tanda bahwa saya telah mendekati gerbang kota Borong. Warung-warung dan tempat usaha bermunculan. Di sebuah SPBU, kendaraan mengantri panjang—pasokan BBM tampaknya terbatas, di sisi lain BBM botolan dijual bebas di depan rumah warga.

Saya sempatkan bertanya ke seorang satpam bank pemerintah mengenai penginapan, ia pun menyarankan agar saya masuk ke kota dulu nanti akan ada katanya. Beberapa penginapan saya lewati hingga akhirnya memutuskan menginap di salah satu Guesthouse tepat di depan hotel besar yang belum beroperasi. Tarif awal 350 ribu namun mendapat diskon jadi 200 ribu saja per malam.

Kamarnya cukup luas dan ber-AC tapi banyak serangga kecil tengah menyerbu lampu-lampu, baunya sedikit menusuk sehingga saya minta kamar disemprot terlebih dahulu. Setelah sepeda aman di gudang, air dari bak mandi berhasil membersihkan badan dari debu dan peluh di sepanjang hari ini.


Menuju Borong.


Penjual buah di pintu masuk Aimere.



bike to pulau

Labels: , , , , ,

22.2.18

BLOKADE PESAWAT

bike to pulau

2 Desember 2017.

Pagi ini, efek dari malam yang gelisah masih terasa, rasa pening menggantung seperti awan yang enggan pergi, ingin melanjutkan tidur, tapi tak enak hati karena di rumah aktivitas telah berjalan—sang ibu mengelap lantai, anak-anak bersiap menuju sekolah sementara Pak Blas sudah pergi ke ladangnya. 

Segelas kopi Panas dari tuan rumah saya terima dengan syukur, hirupan pertama seolah menyisipkan harapan agar badan ini kembali pulih seperti biasa.

Dengan kamera di tangan saya berkeliling kampung. Langit pagi masih malu-malu, sinar mentari sempat menyusup lewat sela pohon bambu tapi lalu merunduk lagi di balik awan kelabu. Kampung ini kembali sunyi, hanya suara sapu menyentuh tanah dan langkah kecil anak-anak menuju sekolah yang mengisi udara.

Melihat suasana yang kembali lengang, saya ambil peralatan dari pannier menuju kamar mandi di rumah pusat informasi, air dingin yang keluar dari krannya menyentuh kulit seperti sentuhan pertama alam Flores.

Sang ibu mulai menyiapkan peralatan tenunnya di teras. Ia gantungkan beberapa kain hasil tenunannya di bambu panjang menanti tamu-tamu yang akan datang. Motif kuda, ciri khas dari kampung ini, terlihat jelas—sebuah simbol yang juga diukir di banyak fasad rumah-rumah di kampung Bena.

Sarapan pagi —nasi putih dan telur ceplok yang dipesan tadi malam—saya lahap dengan cepat. Barang-barang pribadi dirapikan saat wisatawan mulai datang berkunjung. 

Badan masih enggan diajak bekerja sama, saya akhirnya mohon izin untuk rebahan lagi. Tak lama suara negosiasi antara ibu rumah dan tamu asing membangunkan saya—sepertinya mereka sedang tawar-menawar tenunan. 

Karena tubuh masih belum juga membaik, akhirnya saya pamit. Biaya penginapan sebesar 150 ribu saya serahkan.

Sepeda saya tuntun ke tempat parkir pengunjung di bawah kampung, rencana menuju Borong saya batalkan berganti Bajawa untuk pemulihan. 

Karena tak ada angkutan umum di Bena, beberapa warga menyarankan untuk mendatangi rumah sebelah yang suka menyewakan mobil.

Tapi rumah itu sedang kosong. Saya pun melangkah ke area parkir yang cukup luas, melihat ada pertemuan di halaman sebuah rumah, saya bertanya pada seseorang untuk mencarikan sang pemilik rumah tersebut.

Setelah menunggu, seorang ibu dari kerumunan datang menghampiri, saya sampaikan untuk mencari kendaraan ke Bajawa, tanpa pikir panjang ia menelepon suaminya yang sedang di ladang.
 

Dari Ladang ke Homestay: Bambu Bheto, Bajawa, dan Secangkir Teh Hangat.

Sambil menunggu sang bapak pulang dari ladang, saya duduk selonjoran di terasnya, semilir angin Bena membuat mata menjadi berat dan perlahan terpejam... hingga saya dibangunkan oleh suara mesin mobil pickup yang siap melaju. 

Dengan hati-hati, sepeda dinaikkan ke bak belakang dan perjalanan menuju Bajawa pun dimulai. Di sepanjang jalan yang mendaki dan meliuk di bawah kaki Gunung Inerie, dalam obrolan ringan dengan Pak Thomas, sang pemilik kendaraan itu ternyata adalah pensiunan kepala desa disini, ia bercerita bahwa ia pernah ke Bandung diundang oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Ngada untuk belajar tentang potensi bambu—di Saung Udjo, tempat bambu menjadi seni dan warisan.

Kabupaten Ngada memang dikenal sebagai tanah sejuta bambu. Di sini, bambu tumbuh bebas, liar maupun sengaja ditanam. Sudah lama masyarakat memanfaatkannya: dari tiang rumah hingga anyaman dinding dan atap. Rumah-rumah yang serba bambu masih banyak dijumpai dsini, berdiri kokoh dengan estetika alami dan biaya yang ramah kantung.

Bambu Bheto atau Dendrocalamus asper, menjadi primadonanya. Batangnya besar dan panjang, bisa tumbuh hingga 25 meter dengan diameter 16 cm. Ia tumbuh tanpa pamrih, hadir tanpa harus ditanam—seperti berkah yang tak meminta balas.

Setelah melalui jalan berliku, kami tiba di pertigaan jalan Trans Flores. Saat Pak Thomas menanyakan ke mana saya akan menginap, saya jawab jujur, belum tahu. Ia lalu menyebut beberapa tempat satu per satu, hingga akhirnya saya setuju pada pilihan terakhirnya: sebuah homestay sederhana tak jauh dari jalan utama.

Bajawa, ibu kota Ngada, bersuhu sejuk karena berada di ketinggian 1.150 mdpl, penduduknya sekitar 50 ribu orang. Kota ini menyimpan sejumlah daya tarik wisata: air terjun Ogi, pemandian air panas Mangeruda dan tentu saja Kampung Bena, yang baru saja saya tinggalkan.

Kota kecil ini bisa dijangkau lewat darat dari Ende di timur atau Labuan Bajo di barat. Ada pula Bandara Soa, yang kini bernama Bandara Ali Alatas. Bandara ini pernah menggemparkan negeri, ketika sang bupati, berinisial MS, memerintahkan anak buahnya memblokade landasan pesawat hanya karena dirinya tak kebagian tiket untuk pulang kesini. 

Mobil pun dipalang di landasan pacu dan pesawat terpaksa balik ke Kupang, akhirnya kepala Satpol PP yang mengeksekusi perintah itu dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Setelah makan siang saya terlelap hingga terbangun saat sebuah minibus datang membawa empat turis perempuan dari Spanyol, mereka sedang keliling Flores, ujar sopir yang berasal dari Ruteng. 

Teh hangat disajikan menemani obrolan ringan diantara kita membuat suhu 18°C jadi tak terasa dingin, tawa mewarnai sore yang berkabut itu.

Tubuh sudah mulai pulih berkat istirahat dan sebutir tablet. Selepas Magrib perut kembali berdendang, dengan jas hujan membungkus tubuh dan senter di tangan saya melangkah ke luar dan menemukan tenda Soto Lamongan yang berdiri di halaman sebuah rumah kosong—hangat dan pedas cukup untuk menutup malam yang penuh cerita.


Catatan:
 Bupati MS (Marianus Sae) kemudian divonis delapan tahun penjara oleh KPK pada 14 September 2018 karena kasus suap pembangunan infrastruktur.


bike to pulau
Kampung Tradisional Bena di pagi hari.

bike to pulau
Gunung Inerie dilihat dari rumah tempat registrasi tamu.

bike to pulau
Ornamen kuda menjadi ciri khas budaya di tempat ini.

bike to pulau


bike to pulau
Homestay saya di Bajawa, di kejauhan tampak gunung Inerie.

bike to pulau
Papan informasi di depan homestay. 

bike to pulau
Speechless.




Labels: , , , ,