MBARU NIANG
Dari Ruteng ke Savana:
Riuh Lorong, Liang Bua, dan Sungai yang Harus Diarungi
Pagi itu saya terbangun bukan oleh alarm, tapi oleh suara riuh di lorong penginapan. Serombongan wisatawan bersiap melanjutkan perjalanan. Hotel sederhana ini memang jadi langganan travel-agent: tarifnya bersahabat, fasad bangunan berpadu arsitektur lokal, dan lokasinya strategis—cukup alasan untuk jadi persinggahan.
Sarapan tersaji di coffee shop mungil yang menghadap jalan utama. Roti bakar, teh atau kopi, lengkap dengan udara pegunungan yang menenangkan. Suhu 16°C, cukup dingin untuk membuat tamu-tamu duduk agak lama di bawah sinar matahari yang mulai ramah.
Tak jauh dari sana, mahasiswa dari kampus sebelah berjalan beriringan menuju kelas. Bangunan kampus yang berdiri menghadap jalan konon merupakan warisan masa kolonial Belanda. Temboknya tua, tapi masih berdiri dengan anggun.
Menjelang siang, saya tinggalkan penginapan. Rencana awal untuk mentransfer data ke CD di warnet saya batalkan. Sebagai gantinya, saya bersih-bersih isi laptop, menghapus program yang tak perlu, memberi ruang baru untuk rekaman perjalanan ini. Bekal memori terbatas membuat pemindahan data dari kamera ke laptop menjadi ritual wajib—meski kadang menyita waktu.
Ruteng tak luas, tapi rasanya seperti kota besar yang dipangkas halamannya. Fasilitas lengkap, trotoar rapi, bebas PKL—cocok untuk berjalan kaki santai sambil menyerap dingin pagi. Kota ini juga dikenal sebagai kota pelajar di jantung Manggarai dan menyimpan permata sejarah: Gua Liang Bua.
Gua Liang Bua, peninggalan prasejarah Indonesia, terletak di Dusun Rampasasa. Panjangnya sekitar 50 meter, lebar 40 meter, dan atapnya menjulang 25 meter. Di sinilah ditemukan Homo Floresiensis—manusia kerdil setinggi 100 cm, berat 25 kg, hidup 13.000 tahun lalu di antara gajah pigmi dan kadal raksasa. Tengkoraknya sebesar buah jeruk, dan keberadaannya mengubah cara dunia melihat sejarah manusia.
Gua ini terbentuk dari batu gamping dan pasiran, berasal dari periode Miosen Tengah, sekitar 15 juta tahun silam. Di Flores, karst tak hanya menyimpan fosil, tapi juga keunikan geologi yang berbeda dari daerah lain di Indonesia.
Keluar dari kota, jalan mulai menurun menuju Lembor di Manggarai Barat. Gunung Ranaka di kiri berdiri gagah, disiram cahaya pagi. Rem sepeda bekerja keras saat saya masuk lembah-lembah curam, air terjun di titik terendah menyapa dengan gemuruh pelan.
Rumah mulai jarang. Tanjakan kembali menghampiri, kali ini dengan tikungan-tikungan hairpin yang tajam. Di puncak, saya berhenti sebentar, meneguk air dan mengambil napas.
Seorang perempuan dari Belanda yang sedang menumpang ojek berhenti tak jauh dari saya, menggendong balitanya dengan santai. Ia memotret pemandangan. Katanya, ia hendak ke Teras—wisata sawah di Cancar, 25 km dari Ruteng. Ia berkeliling Flores berdua saja, menggunakan ojek sebagai kendaraan utamanya. Perjalanan dalam bentuk paling sederhana.
Tanjakan mulai melandai, tapi jalan masih panjang. Di kiri-kanan, pohon cengkih sedang berbuah, sebagian sudah dipetik, dijemur di pinggir jalan—menjadi mosaik dari ladang dan aroma. Angkutan antar kota sesekali lewat, dengan barang-barang ditumpuk di atas atap minibus.
Langit mulai menghitam saat saya tiba di turunan yang berakhir pada jembatan yang sedang diperbaiki. Jalur ditutup dari dua arah. Semua harus menyeberang sungai langsung, secara bergantian. Saya turun dari sepeda, menuntunnya perlahan melintasi kerikil basah yang membuat roda sesekali mogok. Untung bukan musim hujan.
Selepas sungai, tanjakan datang lagi. Di antara ladang dan savana kecil dengan aksen pohon lontar, saya tiba di sebuah kampung. Sepeda saya parkirkan di depan warung sederhana. Segelas jus sirsak pun saya pesan—pengisi vitamin C untuk tubuh yang terus diajak mendaki.
Menyusuri Cancar: Lodok, Rintik Hujan, dan Janji untuk Wae Rebo
Selepas istirahat, jalanan mulai bersahabat. Anak-anak pulang sekolah berlarian di pinggir jalan, menyapa dengan riang, “Hallo mister…!” seperti lagu yang tak pernah usang di pelosok Flores.
Tiba di pertigaan Kecamatan Cancar, saya belok ke kanan, menuju tempat yang tadi disebut oleh wisatawan Belanda: sebuah sawah berbentuk sarang laba-laba. Masyarakat menyebutnya Lodok—sistem pertanian adat yang jadi kebanggaan Kabupaten Manggarai.
Untuk melihat pola indah itu, saya harus mendaki bukit, melangkah menapaki 250 anak tangga tanah yang ditata zig-zag, ditopang bambu sebagai penahannya. Di puncak, hamparan Lingko memukau: jaring simetris nan rapi, seperti lukisan geometri yang ditanam di bumi.
Lodok bukan sekadar estetika—ia adalah wujud pengelolaan lahan secara adat. Lingko adalah tanah komunal, dibagi oleh ketua adat untuk memenuhi kebutuhan bersama. Menurut Bang Hani, seorang warga yang saya temui, Lingko adalah simbol persatuan: warisan nenek moyang yang mengajarkan harmoni dan kebersamaan.
Sayangnya, tempat indah ini masih butuh sentuhan pengelolaan. Sampah plastik berserakan di beberapa titik. Saya sempat menegur pengelola swadaya agar menjaga kebersihan, demi kenyamanan tamu yang datang dari jauh.
Saat turun, saya ditawari segelas kopi oleh pemilik lahan parkir. Sayangnya, karena hari sudah bergeser ke siang, saya menolak tawaran hangat itu. Perut minta diisi, tenaga harus dipulihkan.
Rumah makan sederhana di pertigaan jadi tempat singgah. Sepiring nasi dan sup daging jadi penyelamat. Tapi belum selesai kopi hangat saya teguk, langit murung menumpahkan hujan. Saya tertahan di warung itu, udara jadi sejuk, suasana jadi sendu.
Beberapa mobil travel mampir. Pengunjung memperhatikan sepeda saya yang dijejali peralatan—mereka bertanya, bercanda, menyisipkan rasa ingin tahu yang tulus.
Setelah hujan reda, saya kembali mengayuh. Cancar perlahan ditinggalkan. Pesawahan menghampar di kiri dan kanan. Temperatur menurun, ketinggian sudah berada di 1050 mdpl. Medan mendaki lagi, jalan basah, sempit, belum lebar sesuai standar nasional. Tapi pemandangannya? Eksotis.
Hutan lebat menyembul di beberapa titik, suara burung dan serangga mengiringi kayuhan. Beberapa kendaraan lewat, memberi salam lewat klakson mereka.
Di jalan yang mulai landai, saya melihat papan petunjuk: kiri ke Wae Rebo, lurus ke Lembor dan Labuan Bajo. Saya berhenti. Seorang warga bertanya, “Mau ke Wae Rebo, pak?” Saya jawab, "Tertarik, tapi bukan hari ini—mungkin suatu saat nanti."
Awalnya saya ingin ke sana. Tapi saya putuskan, biarlah kampung Bena dulu mewakili napas tradisi di perjalanan ini. Karena Labuan Bajo sudah dekat—tujuan utama yang mulai menjelma dari harapan jadi kenyataan.
Wae Rebo, kampung di ketinggian 1400 mdpl, harus ditempuh 4 jam jalan kaki dari Denge. Jika beruntung, bisa menumpang ojek atau truk kayu berbangku papan. Perjalanannya berat, tapi katanya... pemandangannya membayar lunas segala letih.
Desa itu memiliki tujuh rumah adat kerucut: Mbaru Niang. Arsitekturnya unik, berdiri di tanah hijau di antara bukit dan kabut. Konon, rumah itu bertahan selama 19 generasi. UNESCO menetapkan Wae Rebo sebagai situs warisan dunia tahun 2012. Di sana, kopi khas Flores disuguhkan dalam kehangatan rumah adat, sambil menatap hutan yang seolah tak berujung.
Saya janji akan ke sana. Suatu hari.
Untuk sekarang, sepeda saya arahkan ke Trans Flores, melanjutkan perjalanan ke Lembor. Jalan mendaki berkelok, jurang menganga di kanan kiri. Setelah tanjakan yang panjang, turunan curam pun menanti. Saya pacu sepeda, langit mulai berwarna oranye. Di SPBU, petugas menyapa, “Sudah masuk Lembor, pak…”
Kota kecil yang sederhana ini menyambut saya dengan penginapan yang mudah ditemukan. Di seberangnya, ada satu lagi, tampak lebih baik. Saya pilih yang kedua. Meskipun AC-nya rusak akibat voltase listrik yang tidak stabil, kipas angin cukup untuk malam itu. Tarifnya 180 ribu rupiah—pas di kantong, cukup untuk istirahat.
Setelah mandi dan menata ulang energi, saya makan malam di restoran milik penginapan—walau berada di lokasi yang berbeda. Menu tak istimewa, tapi cukup untuk menutup hari panjang yang penuh sawah, tangga, dan sedikit janji yang masih tertahan di bukit bernama Wae Rebo.
Labels: bike to pulau, liang bua, manggarai, ranaka, rima hotel, ruteng













0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home