22.2.18

BLOKADE PESAWAT

bike to pulau

2 Desember 2017.

Pagi ini, efek dari malam yang gelisah masih terasa, rasa pening menggantung seperti awan yang enggan pergi, ingin melanjutkan tidur, tapi tak enak hati karena di rumah aktivitas telah berjalan—sang ibu mengelap lantai, anak-anak bersiap menuju sekolah sementara Pak Blas sudah pergi ke ladangnya. 

Segelas kopi Panas dari tuan rumah saya terima dengan syukur, hirupan pertama seolah menyisipkan harapan agar badan ini kembali pulih seperti biasa.

Dengan kamera di tangan saya berkeliling kampung. Langit pagi masih malu-malu, sinar mentari sempat menyusup lewat sela pohon bambu tapi lalu merunduk lagi di balik awan kelabu. Kampung ini kembali sunyi, hanya suara sapu menyentuh tanah dan langkah kecil anak-anak menuju sekolah yang mengisi udara.

Melihat suasana yang kembali lengang, saya ambil peralatan dari pannier menuju kamar mandi di rumah pusat informasi, air dingin yang keluar dari krannya menyentuh kulit seperti sentuhan pertama alam Flores.

Sang ibu mulai menyiapkan peralatan tenunnya di teras. Ia gantungkan beberapa kain hasil tenunannya di bambu panjang menanti tamu-tamu yang akan datang. Motif kuda, ciri khas dari kampung ini, terlihat jelas—sebuah simbol yang juga diukir di banyak fasad rumah-rumah di kampung Bena.

Sarapan pagi —nasi putih dan telur ceplok yang dipesan tadi malam—saya lahap dengan cepat. Barang-barang pribadi dirapikan saat wisatawan mulai datang berkunjung. 

Badan masih enggan diajak bekerja sama, saya akhirnya mohon izin untuk rebahan lagi. Tak lama suara negosiasi antara ibu rumah dan tamu asing membangunkan saya—sepertinya mereka sedang tawar-menawar tenunan. 

Karena tubuh masih belum juga membaik, akhirnya saya pamit. Biaya penginapan sebesar 150 ribu saya serahkan.

Sepeda saya tuntun ke tempat parkir pengunjung di bawah kampung, rencana menuju Borong saya batalkan berganti Bajawa untuk pemulihan. 

Karena tak ada angkutan umum di Bena, beberapa warga menyarankan untuk mendatangi rumah sebelah yang suka menyewakan mobil.

Tapi rumah itu sedang kosong. Saya pun melangkah ke area parkir yang cukup luas, melihat ada pertemuan di halaman sebuah rumah, saya bertanya pada seseorang untuk mencarikan sang pemilik rumah tersebut.

Setelah menunggu, seorang ibu dari kerumunan datang menghampiri, saya sampaikan untuk mencari kendaraan ke Bajawa, tanpa pikir panjang ia menelepon suaminya yang sedang di ladang.
 

Dari Ladang ke Homestay: Bambu Bheto, Bajawa, dan Secangkir Teh Hangat.

Sambil menunggu sang bapak pulang dari ladang, saya duduk selonjoran di terasnya, semilir angin Bena membuat mata menjadi berat dan perlahan terpejam... hingga saya dibangunkan oleh suara mesin mobil pickup yang siap melaju. 

Dengan hati-hati, sepeda dinaikkan ke bak belakang dan perjalanan menuju Bajawa pun dimulai. Di sepanjang jalan yang mendaki dan meliuk di bawah kaki Gunung Inerie, dalam obrolan ringan dengan Pak Thomas, sang pemilik kendaraan itu ternyata adalah pensiunan kepala desa disini, ia bercerita bahwa ia pernah ke Bandung diundang oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Ngada untuk belajar tentang potensi bambu—di Saung Udjo, tempat bambu menjadi seni dan warisan.

Kabupaten Ngada memang dikenal sebagai tanah sejuta bambu. Di sini, bambu tumbuh bebas, liar maupun sengaja ditanam. Sudah lama masyarakat memanfaatkannya: dari tiang rumah hingga anyaman dinding dan atap. Rumah-rumah yang serba bambu masih banyak dijumpai dsini, berdiri kokoh dengan estetika alami dan biaya yang ramah kantung.

Bambu Bheto atau Dendrocalamus asper, menjadi primadonanya. Batangnya besar dan panjang, bisa tumbuh hingga 25 meter dengan diameter 16 cm. Ia tumbuh tanpa pamrih, hadir tanpa harus ditanam—seperti berkah yang tak meminta balas.

Setelah melalui jalan berliku, kami tiba di pertigaan jalan Trans Flores. Saat Pak Thomas menanyakan ke mana saya akan menginap, saya jawab jujur, belum tahu. Ia lalu menyebut beberapa tempat satu per satu, hingga akhirnya saya setuju pada pilihan terakhirnya: sebuah homestay sederhana tak jauh dari jalan utama.

Bajawa, ibu kota Ngada, bersuhu sejuk karena berada di ketinggian 1.150 mdpl, penduduknya sekitar 50 ribu orang. Kota ini menyimpan sejumlah daya tarik wisata: air terjun Ogi, pemandian air panas Mangeruda dan tentu saja Kampung Bena, yang baru saja saya tinggalkan.

Kota kecil ini bisa dijangkau lewat darat dari Ende di timur atau Labuan Bajo di barat. Ada pula Bandara Soa, yang kini bernama Bandara Ali Alatas. Bandara ini pernah menggemparkan negeri, ketika sang bupati, berinisial MS, memerintahkan anak buahnya memblokade landasan pesawat hanya karena dirinya tak kebagian tiket untuk pulang kesini. 

Mobil pun dipalang di landasan pacu dan pesawat terpaksa balik ke Kupang, akhirnya kepala Satpol PP yang mengeksekusi perintah itu dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Setelah makan siang saya terlelap hingga terbangun saat sebuah minibus datang membawa empat turis perempuan dari Spanyol, mereka sedang keliling Flores, ujar sopir yang berasal dari Ruteng. 

Teh hangat disajikan menemani obrolan ringan diantara kita membuat suhu 18°C jadi tak terasa dingin, tawa mewarnai sore yang berkabut itu.

Tubuh sudah mulai pulih berkat istirahat dan sebutir tablet. Selepas Magrib perut kembali berdendang, dengan jas hujan membungkus tubuh dan senter di tangan saya melangkah ke luar dan menemukan tenda Soto Lamongan yang berdiri di halaman sebuah rumah kosong—hangat dan pedas cukup untuk menutup malam yang penuh cerita.


Catatan:
 Bupati MS (Marianus Sae) kemudian divonis delapan tahun penjara oleh KPK pada 14 September 2018 karena kasus suap pembangunan infrastruktur.


bike to pulau
Kampung Tradisional Bena di pagi hari.

bike to pulau
Gunung Inerie dilihat dari rumah tempat registrasi tamu.

bike to pulau
Ornamen kuda menjadi ciri khas budaya di tempat ini.

bike to pulau


bike to pulau
Homestay saya di Bajawa, di kejauhan tampak gunung Inerie.

bike to pulau
Papan informasi di depan homestay. 

bike to pulau
Speechless.




Labels: , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home