RANAMESE
Pagi di Borong dibuka dengan aroma nasi kuning di warung sebelah penginapan. Penjualnya pendatang dari Sumbawa, dan antreannya jadi penanda bahwa rasanya tak main-main. Sepiring nasi hangat lengkap dengan irisan telur, sambal pedas, dan tempe kering yang renyah menggoyang lidah.
Kota kecil ini mulai menggeliat. Mobil travel plat hitam lalu-lalang menjemput penumpang. Di jalan-jalan sempit, kehidupan pelan-pelan mengambil posisi. Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur yang lahir dari pemekaran Manggarai tahun 2007, menyimpan ragam wisata: Danau Ranamese, Situs Watu Nggene, hingga pantai Cepi Watu yang menggoda dari kejauhan.
Sambil menyeruput kopi hitam di antara barang-barang yang berserakan, saya menata ulang pannier—bersiap untuk menghadapi medan berat ke Ruteng. Jalur hari ini akan terus menanjak, dari 4 meter di atas permukaan laut menuju 1200 mdpl dalam jarak 45 km saja. Sepeda saya angkut pelan menuju jalan raya, matahari mulai menyapa dengan suhu yang sudah menyentuh 28°C.
Awal perjalanan masih ramah. Sekitar 4 km jalur datar dilewati, termasuk sebuah jembatan yang membentang di atas sungai Wae Bobo. Sungai itu bermuara di pantai Cepi Watu, tempat favorit warga melepas penat. Tapi setelah itu, tanjakan mulai mengambil alih.
Rumah-rumah penduduk masih saling berdempetan, diapit oleh kebun palawija yang menenun hijau di kiri dan kanannya. Sepeda dengan beban 12 kilogram tetap stabil. Sistem rem yang dulu sempat bermasalah kini bekerja baik, mengikuti irama kaki yang pelan tapi pasti.
Saat kantor Kecamatan Ranamese terlewati, matahari mulai meninggi dan membuat bidon air jadi penyelamat. Bukit-bukit hijau di kejauhan berlapis tanaman keras dan pohon cengkih. Warga tampak banyak yang membawa ikatan kayu bakar dari ladang, diikat di punggung atau kadang boncengan motor tua.
Lalu lintas lengang. Sesekali mobil travel melaju, membawa rombongan kecil ke arah Ruteng. Flores memang ramah bagi petualang—jalan mulus, udara bersih, dan pemandangan yang bikin diam jadi doa.
Dua botol minum akhirnya tandas saat saya memasuki sebuah kampung. Warung kecil di pinggir jalanlah yang menjadi oasenya. Seperti biasa, kulkas jadi incaran pertama. Kaleng minuman dingin langsung habis dalam beberapa teguk. Seorang anak perempuan datang jajan, “Capek, baru ujian dari kampung sebelah,” katanya sambil tertawa kecil.
Selain menjual kebutuhan rumah tangga, warung itu juga memproduksi batubata. Suami sang pemilik sedang menjemur hasil cetaknya di halaman. “Belum bisa kirim ke luar kota,” katanya. “Masih pakai alat seadanya.” Tapi semangatnya tak terlihat terbatas.
Sepeda kembali dikayuh. Di depan SMAN Sita, beberapa pelajar nongkrong di gerbang—entah menunggu angkutan atau membahas soal ujian. Matahari tepat di atas kepala, perut mulai merintih. Saya bertanya pada siswa yang berjalan kaki. “Di kampung ini belum ada warung makan, coba di kampung depan,” jawab mereka.
Kampung berikutnya menyambut dengan sebuah warung di seberang kantor desa. Tapi nasi sudah diborong kontraktor tambang pasir sejak pagi. Tak ingin menyerah, saya minta direbuskan mie instan saja. Semangkuk hangat jadi pengganjal untuk medan menanjak yang menunggu.
Suhu mulai turun perlahan. Udara perbukitan di utara Mborong memberikan kesejukan. Pohon-pohon besar memayungi jalan, semilir angin menyejukkan napas, kabut tipis menggantung di puncak-puncak bukit yang terlihat samar di kejauhan.
Di sela-sela pendakian, saya berhenti di kebun seorang petani yang menjual kelapa muda. Lima ribu rupiah untuk segelas alami yang segar luar biasa. Air kelapa masuk ke kerongkongan seperti hadiah kecil dari alam.
Ranamese, Ranaka, dan Jalan Pulang ke Ruteng
Menjelang Ranamese, di kaki timur Gunung Ranaka, langit mulai gelisah. Hujan jatuh perlahan, ditemani kabut yang menyelimuti pohon-pohon tinggi. Suasana mendadak mistis, mungkin sugesti dari cerita warga yang sempat bilang: “Lewat sini hati-hati...”
Kabut makin tebal saat saya berhenti di sebuah tembok besar di pinggir jalan. Ada rasa penasaran, lalu saya turun dari sepeda. Di balik tembok itu—jurang terjal dan danau sunyi. Ranamese. Permukaannya sebagian tertutup awan tipis, pucuk-pucuk pohon bergoyang pelan, tak ada tanda-tanda kehidupan.
Tembok itu konon dibangun sebagai pelindung, agar kendaraan tak terseret masuk ke danau. Beberapa cerita mengenangnya tragis—kendaraan pernah tergelincir di sana, membawa nyawa dalam diam.
Tak jauh dari situ berdiri pintu gerbang Taman Wisata Ranamese. Tapi waktu mengejar, kaki masih harus bergerak. Hujan kembali mengguyur saat sepeda saya kayuh lagi, kabut setia hingga puncak pendakian.
Setelah melewati kampung Mano, jalan menanjak lagi menuju Robo. Di sana, sebuah pertigaan menuju Puncak Ranaka terbuka, menyapa pesepeda yang berani menantang langit. Gunung Ranaka, tertinggi di Manggarai, adalah bagian dari gugusan Mandusawu yang merentang dari barat ke timur.
Namanya berasal dari danau kecil di sekitar puncak: Rana berarti danau, Ka berarti burung gagak. Di timur puncaknya, berdiri kawah yang sempat meletus pada Januari 1988—melahirkan anak gunung yang bernama Nampar Nos.
Puncak Ranaka bukan sekadar tinggi. Di sana ada telaga yang dipercaya sebagai kampung asal nenek moyang suku Manggarai—Kuleng. Mereka mandi di telaga, hidup di lerengnya, dan dari sanalah menyebar ke kampung-kampung lain. Tempat itu disebut “Bangsa Kuleng”—jejak pertama peradaban Manggarai.
Saya tak naik ke sana, hanya melewati pertigaan, lalu mulai menuruni jalan yang basah. Jas hujan masih saya kenakan, bukit-bukit menghijau jadi pemandangan yang menyegarkan. Kota Ruteng semakin dekat.
Di dekat Terminal Lando, gapura bertuliskan “Selamat Datang” berdiri gagah. Kota mulai berdetak. Jalan mulai ramai, bangunan berdiri rapat, pompa bensin dipenuhi antrian. Ruteng menyambut dengan suhu yang menurun dan keramaian pelan.
Saya mencari penginapan sesuai rekomendasi seorang sales minuman yang saya temui di Batu Hijau, Ende. Tapi tempat itu tak mudah ditemukan. Hari mulai gelap, dan saya sudah lelah. Setelah bertanya beberapa kali ke warga, akhirnya bangunannya terlihat—sebuah resort sederhana di tengah sawah, dekat Bandara Ruteng.
Tapi lokasi yang terlalu pinggir membuat saya berpikir ulang. Logistik sulit, warung jauh, dan tubuh butuh tempat yang praktis. Maka saya balik arah, kembali ke kota, dan menemukan penginapan seperti rumah kayu di pinggir jalan utama. Tarifnya masuk akal, fasilitas air hangat dan sarapan jadi bonus.
Setelah membersihkan diri dari peluh dan debu yang menempel sejak pagi, saya langkahkan kaki ke persimpangan alun-alun. Sebuah restoran kecil dengan menu Capcay hangat jadi pelabuhan perut yang sudah lama kosong.
Sepanjang siang itu, saya belum bertemu nasi. Dan seperti kata orang Melayu, "kalau belum makan nasi, rasanya belum makan.
Labels: bike to pulau, borong, cepi watu, manggarai, ranaka, ranamese, ruteng, sita











0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home