23.2.18

MINTA RESTU

bike to pulau


 3 DESEMBER 2017 .

Melintasi Bambu Bheto, Puncak Inerie, dan Sapaan Mangga Pinggir Jalan


Hari ini hari ke-13 di atas sadel, hampir dua minggu sudah meninggalkan rumah, jika semuanya lancar, seminggu ke depan roda akan berhenti di Labuan Bajo. Pagi ini sarapan disiapkan oleh Marlin Geli—gadis muda lulusan SMK Pariwisata yang mana leluhurnya berasal dari kampung Bena.

Bajawa bersiap dilepas, langit membiarkan mataharinya bersinar lembut di sela-sela pegunungan Ngada.dengan suhu sejuk 19 derajat, Manual book kembali dibuka, halaman elevasi dicermati, kontur menuju Mborong terlihat menurun panjang, datar, lalu menanjak lagi sebelum meluncur landai ke garis akhir. Perkiraan jarak: 86 kilometer.

Sepeda saya arahkan ke kanan dari pertigaan Trans Flores meninggalkan jalan yang menuju Boawae dan Ende. Di simpang itu angkutan kota berbaris menunggu penumpang, minibus dan truk dengan bangku dari kayu yang menjadi alat duduknya bersiap mengantar siapa saja yang ingin bergerak.

Karena Bajawa berada di titik tertinggi, jalan mulai menurun dan memeluk lereng-lereng bukit. Tujuan pertama: Aimere, kota kecil yang bersandar tenang di pesisir selatan. 

Jalanan berkelok, beberapa tikungan berbentuk hairpin membuat saya harus ekstra hati-hati tapi hari Minggu memberi berkah—lalu lintas cenderung sepi dan udara tetap bersih.

Bambu-bambu Bheto menjulang tinggi di kiri-kanan jalan bersanding dengan kebun cengkih dan kakao, komoditas kebanggaan daerah ini, Gunung Inerie tampak mengawasi dari kejauhan, gagah dan tenang.

Menurut legenda lokal, Inerie adalah istri Abulobo tapi mereka tak akur, dalam satu pertengkaran Inerie melempar sendok ke Abulobo dan mengenai giginya, maka lahirlah lekukan di bibir puncak gunung itu.

Hanya butuh satu jam menuruni lembah-lembah dengan latar pegunungan segitiga khas NTT itu, pantai Aimere perlahan muncul udara mulai panas, pohon lontar menyambut tinggi di kiri-kanan jalan memberi nuansa eksotis.

Warung-warung sederhana bermunculan yang mayoritas menjual buah. Saya mampir di salah satunya mengisi tubuh dengan air kelapa dan manisnya mangga golek. Di atas bale-bale, saya berbincang dengan sang pemilik yang sedang menggendong cucunya, bocah itu lahir di Tangerang, anak dari pasangan yang kini tinggal terpisah karena ayahnya masih mencari nafkah di tanah Jawa katanya.

Sementara sang Ibu yang asli Waingapu sedang sibuk di dapur, aroma masakannya sesekali menyeruak. Sebatang rokok dan mangga terakhir menutup persinggahan di siang itu. Saya lanjutkan kayuhan melewati pelabuhan Aimere yang sedang sepi karena hanya seminggu dua kali feri datang dari Waingapu atau Kupang yang singgah disini.


Jalur pesisir menyuguhkan lanskap pohon kelapa dan mangga yang bersahutan, buahnya berserakan di tepi jalan, seolah menunggu dikutip. Anak-anak melambaikan tangan sambil berseru, “Hallo Mister…!” Penginapan-penginapan tampak lengang, parkiran mereka kosong.

Rencana makan siang sempat saya tujukan ke warung cantik di bibir pantai berpasir putih di sebuah pelosok, namun jalan menuju ke sana begitu buruk, genangan air dan batu-batu besar membuat pannier saya sering berontak, terlepas beberapa kali dari dudukannya. Khawatir rusak dan tak ingin ambil risiko saya pun balik arah dan memutuskan untuk makan di warung Padang saja yang tadi sempat saya lewati.

Pemilik warung itu pasangan muda asal Payakumbuh, sebelumnya mereka sempat merintis usaha di Pelabuhan Ratu Sukabumi lalu memilih untuk menetap disitu. Makan siang itu ditutup dengan kopi pahit dan rokok, seperti biasa: ritual kecil sebelum lanjut mendaki. 

Di tengah seduhan seseorang menepuk bahu saya. Pemuda bertopi hitam, wajahnya familiar, rupanya kami pernah bertemu di Nangapanda dan ia adalah supir Canvaser perusahaan rokok asal Kediri itu. 

Ia bilang ia sedang pulang kampung dari Ruteng menuju Ende dengan motornya, mampir di warung karena perlu beristirahat, ia habis mengunjungi keluarganya khususnya sang oom, untuk minta restu untuk menikahi gadis pujaan hatinya yang asli Ende.

Kisah pun berlanjut di antara tawa ringan dan kopi hangat, jalur Trans Flores bukan hanya tentang tanjakan dan turunan, tapi juga tentang pertemuan—yang kadang datang tanpa diduga.

 

Dari Mangga Jatuh ke Lampu Senja Borong.

Siang mulai merangkak naik saat saya meninggalkan pesisir Aimere yang datar dan teduh itu. Jalanan perlahan berubah—menanjak dan berkelok menyusuri punggung pegunungan Manggarai Timur. Ladang-ladang penduduk terhampar di kaki bukit sebelum akhirnya vegetasi berubah menjadi pepohonan keras dan hutan tropis di atasnya.

Pendakian panjang mulai menguras tenaga. Di sebuah tikungan sunyi, beberapa buah mangga tampak jatuh dari pohon, tergolek manis di aspal, godaan tak tertahankan saya pun berhenti dan memungutnya beberapa.

Tak jauh dari sana seorang anak kecil duduk santai di pinggir jembatan, ia datang dan  memperkenalkan dirinya sebagai Yono, diambil dari nama aslinya Johanes. Di tengah obrolan saya minta tolong untuk meminjam pisau, iapun berlari ke rumahnya yang terletak di seberang jembatan dan kembali dengan semangat.

Yono, anak SD yang ayahnya mengajar di SMP kampung itu, terlihat gembira melihat pesepeda asing singgah di tempatnya. "Sekolahku cuma 5 kilometer dari sini, jalan kaki saja om" katanya bangga.

Setelah mangga terakhir saya habiskan dan pisaunya dikembalikan, ia menawarkan diri untuk memotret saya menggunakan HP dan hasilnya cukup bagus—saya berdiri di tengah jalan, berlatar hutan tropis dan rambu lalu lintas di sudut bingkainya.

Pendakian terus berlanjut hingga saya tiba di puncak, lalu menurun memasuki Waerana, di Kecamatan Kotakomba. Kabut tipis menyambut dan menari pelan di antara pepohonan Trembesi tua yang berdiri anggun di samping lapangan bola. Rumputnya hijau membalut lapangan dan beberapa anak-anak tampak sedang berlatih karate dipandu oleh seorang pemuda yang menggemakan aba-aba semangat.

Di samping lapangan itu berdiri Gereja sederhana namun megah, saya pun singgah. Tiga anak perempuan yang sedang berdiri di pertigaan tampak panik saat melihat saya bersepeda mendekat, mungkin sepeda besar ini seperti makhluk asing bagi mereka.

Gereja itu tak hanya menyediakan ruangan di dalam, tapi juga altar terbuka di halaman, dibangun di bawah pohon karet besar dengan kursi-kursi beton ditata rapi menyerupai teater. Konon, tempat ini digunakan saat hari raya besar saja bila ruangan utama tak mampu menampung umat yang datang.

Setelah mengambil beberapa gambar saya mampir ke warung di seberang untuk menambah persediaan air namun sempat terkejut ketika seorang pria muncul dari dalam tanpa sehelai benangpun! Ternyata ia adalah adik dari sang pemilik warung, penduduk lain yang sedang saya duduk mencoba meluruskan suasana dengan tawa canggung dan maaf di akhir percakapan.

Hari beranjak sore, langit barat mulai menguning, jalan mendatar di depan adalah tanda bahwa saya telah mendekati gerbang kota Borong. Warung-warung dan tempat usaha bermunculan. Di sebuah SPBU, kendaraan mengantri panjang—pasokan BBM tampaknya terbatas, di sisi lain BBM botolan dijual bebas di depan rumah warga.

Saya sempatkan bertanya ke seorang satpam bank pemerintah mengenai penginapan, ia pun menyarankan agar saya masuk ke kota dulu nanti akan ada katanya. Beberapa penginapan saya lewati hingga akhirnya memutuskan menginap di salah satu Guesthouse tepat di depan hotel besar yang belum beroperasi. Tarif awal 350 ribu namun mendapat diskon jadi 200 ribu saja per malam.

Kamarnya cukup luas dan ber-AC tapi banyak serangga kecil tengah menyerbu lampu-lampu, baunya sedikit menusuk sehingga saya minta kamar disemprot terlebih dahulu. Setelah sepeda aman di gudang, air dari bak mandi berhasil membersihkan badan dari debu dan peluh di sepanjang hari ini.


Menuju Borong.


Penjual buah di pintu masuk Aimere.



bike to pulau

Labels: , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home