MINTA RESTU
Melintasi Bambu Bheto, Puncak Inerie, dan Sapaan Mangga Pinggir Jalan
Bajawa bersiap dilepas, langit membiarkan mataharinya bersinar lembut di sela-sela pegunungan Ngada.dengan suhu sejuk 19 derajat, Manual book kembali dibuka, halaman elevasi dicermati, kontur menuju Mborong terlihat menurun panjang, datar, lalu menanjak lagi sebelum meluncur landai ke garis akhir. Perkiraan jarak: 86 kilometer.
Sepeda saya
arahkan ke kanan dari pertigaan Trans Flores meninggalkan jalan yang menuju Boawae
dan Ende. Di simpang itu angkutan kota berbaris menunggu penumpang, minibus dan
truk dengan bangku dari kayu yang menjadi alat duduknya bersiap mengantar
siapa saja yang ingin bergerak.
Karena Bajawa
berada di titik tertinggi, jalan mulai menurun dan memeluk lereng-lereng bukit.
Tujuan pertama: Aimere, kota kecil yang bersandar tenang di pesisir
selatan.
Jalanan
berkelok, beberapa tikungan berbentuk hairpin membuat saya harus ekstra
hati-hati tapi hari Minggu memberi berkah—lalu lintas cenderung sepi dan udara
tetap bersih.
Bambu-bambu
Bheto menjulang tinggi di kiri-kanan jalan bersanding dengan kebun cengkih dan
kakao, komoditas kebanggaan daerah ini, Gunung Inerie tampak mengawasi dari
kejauhan, gagah dan tenang.
Menurut
legenda lokal, Inerie adalah istri Abulobo tapi mereka tak akur, dalam satu
pertengkaran Inerie melempar sendok ke Abulobo dan mengenai giginya, maka
lahirlah lekukan di bibir puncak gunung itu.
Hanya butuh
satu jam menuruni lembah-lembah dengan latar pegunungan segitiga khas NTT itu, pantai
Aimere perlahan muncul udara mulai panas, pohon lontar menyambut tinggi di
kiri-kanan jalan memberi nuansa eksotis.
Warung-warung
sederhana bermunculan yang mayoritas menjual buah. Saya mampir di salah satunya mengisi tubuh
dengan air kelapa dan manisnya mangga golek. Di atas bale-bale, saya berbincang
dengan sang pemilik yang sedang menggendong cucunya, bocah itu lahir di
Tangerang, anak dari pasangan yang kini tinggal terpisah karena ayahnya masih
mencari nafkah di tanah Jawa katanya.
Sementara sang Ibu yang asli Waingapu sedang sibuk di
dapur, aroma masakannya sesekali menyeruak. Sebatang rokok dan mangga terakhir
menutup persinggahan di siang itu. Saya lanjutkan kayuhan melewati pelabuhan
Aimere yang sedang sepi karena hanya seminggu dua kali feri datang dari
Waingapu atau Kupang yang singgah
disini.
Jalur pesisir
menyuguhkan lanskap pohon kelapa dan mangga yang bersahutan, buahnya
berserakan di tepi jalan, seolah
menunggu dikutip. Anak-anak melambaikan tangan sambil berseru, “Hallo Mister…!”
Penginapan-penginapan tampak lengang, parkiran mereka kosong.
Rencana makan
siang sempat saya tujukan ke warung cantik di bibir pantai berpasir putih di sebuah pelosok, namun jalan
menuju ke sana begitu buruk, genangan air dan batu-batu besar membuat pannier
saya sering berontak,
terlepas beberapa kali dari dudukannya. Khawatir rusak dan tak ingin ambil
risiko saya pun balik arah
dan memutuskan untuk makan di warung Padang saja yang tadi sempat saya
lewati.
Pemilik warung
itu pasangan muda asal Payakumbuh, sebelumnya mereka sempat merintis usaha di Pelabuhan Ratu
Sukabumi lalu memilih untuk menetap disitu. Makan siang itu ditutup dengan kopi
pahit dan rokok, seperti biasa: ritual kecil sebelum lanjut mendaki.
Di tengah
seduhan seseorang
menepuk bahu saya. Pemuda bertopi hitam, wajahnya familiar, rupanya kami
pernah bertemu di Nangapanda dan ia adalah supir Canvaser perusahaan rokok asal
Kediri itu.
Ia bilang ia sedang pulang kampung dari Ruteng
menuju Ende dengan motornya, mampir di warung karena perlu beristirahat, ia
habis mengunjungi keluarganya khususnya sang oom, untuk minta restu untuk menikahi gadis
pujaan hatinya yang asli
Ende.
Kisah pun
berlanjut di antara tawa ringan dan kopi hangat, jalur Trans Flores bukan hanya
tentang tanjakan dan turunan, tapi juga tentang pertemuan—yang kadang datang tanpa diduga.
Dari Mangga Jatuh ke Lampu Senja Borong.
Siang mulai
merangkak naik saat saya meninggalkan pesisir Aimere yang datar dan teduh itu. Jalanan
perlahan berubah—menanjak dan berkelok menyusuri punggung pegunungan Manggarai
Timur. Ladang-ladang penduduk terhampar di kaki bukit sebelum akhirnya vegetasi
berubah menjadi pepohonan keras dan hutan tropis di atasnya.
Pendakian
panjang mulai menguras tenaga. Di sebuah tikungan sunyi, beberapa buah mangga
tampak jatuh dari pohon, tergolek manis di aspal, godaan tak tertahankan saya
pun berhenti dan memungutnya beberapa.
Tak jauh dari
sana seorang anak kecil duduk santai di pinggir jembatan, ia datang dan memperkenalkan dirinya sebagai Yono,
diambil dari nama aslinya
Johanes. Di tengah obrolan saya minta tolong untuk meminjam pisau, iapun berlari ke
rumahnya yang terletak di seberang jembatan dan kembali dengan semangat.
Yono, anak SD
yang ayahnya mengajar di SMP kampung itu, terlihat gembira melihat pesepeda asing singgah
di tempatnya. "Sekolahku cuma 5 kilometer dari sini, jalan kaki saja om" katanya
bangga.
Setelah mangga
terakhir saya habiskan dan pisaunya dikembalikan, ia menawarkan diri untuk
memotret saya menggunakan HP dan hasilnya cukup bagus—saya berdiri di tengah
jalan, berlatar hutan tropis dan rambu lalu lintas di sudut bingkainya.
Pendakian
terus berlanjut hingga saya tiba di puncak, lalu menurun memasuki Waerana, di Kecamatan Kotakomba.
Kabut tipis menyambut dan menari pelan di antara pepohonan Trembesi tua yang
berdiri anggun di samping lapangan bola. Rumputnya hijau membalut lapangan dan beberapa anak-anak tampak sedang berlatih karate
dipandu oleh seorang
pemuda yang menggemakan aba-aba semangat.
Di samping
lapangan itu berdiri Gereja
sederhana namun megah, saya pun singgah. Tiga anak perempuan yang sedang berdiri
di pertigaan tampak panik saat melihat saya bersepeda mendekat, mungkin sepeda
besar ini seperti makhluk asing bagi mereka.
Gereja itu tak hanya
menyediakan ruangan di dalam, tapi juga altar terbuka di halaman, dibangun
di bawah pohon karet besar dengan kursi-kursi beton ditata rapi menyerupai
teater. Konon, tempat ini digunakan saat hari raya besar saja bila ruangan
utama tak mampu menampung umat yang datang.
Setelah
mengambil beberapa gambar saya mampir ke warung di seberang untuk menambah
persediaan air namun sempat terkejut ketika seorang pria muncul dari dalam
tanpa sehelai benangpun! Ternyata ia adalah adik dari sang pemilik warung, penduduk lain yang sedang saya
duduk mencoba meluruskan suasana dengan tawa canggung dan maaf di akhir
percakapan.
Hari beranjak
sore, langit barat mulai menguning, jalan mendatar di depan adalah tanda bahwa
saya telah mendekati gerbang kota Borong. Warung-warung dan tempat usaha bermunculan.
Di sebuah SPBU, kendaraan mengantri panjang—pasokan BBM tampaknya terbatas, di
sisi lain BBM botolan dijual bebas di depan rumah warga.
Saya sempatkan bertanya ke
seorang satpam bank pemerintah mengenai penginapan, ia pun menyarankan
agar saya masuk ke kota dulu nanti akan ada katanya. Beberapa penginapan saya lewati hingga akhirnya
memutuskan menginap di salah satu Guesthouse tepat di depan hotel besar yang
belum beroperasi. Tarif awal 350 ribu namun mendapat diskon jadi 200 ribu saja per malam.
Kamarnya cukup luas dan ber-AC tapi banyak serangga kecil tengah menyerbu lampu-lampu, baunya sedikit menusuk sehingga saya minta kamar disemprot terlebih dahulu. Setelah sepeda aman di gudang, air dari bak mandi berhasil membersihkan badan dari debu dan peluh di sepanjang hari ini.
![]() |
| Menuju Borong. |
![]() Penjual buah di pintu masuk Aimere. |
Labels: aimere, bajawa, bike to pulau, borong, komba, kopi bajawa










0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home