GOLO MBELILING
Etappe Terakhir:
Menjelang Labuan Bajo dan Langit yang Tak Lagi Terik
Hari ini adalah hari ke-10 sekaligus lembar terakhir dalam perjalanan saya menjelajahi Flores. Tak lagi ada bayang-bayang tanjakan atau medan berat. Yang tersisa hanya rasa takjub, bahwa Larantuka—titik awal peluh dan pedal—telah menjelma menjadi kenangan, dan Labuan Bajo… tinggal beberapa kayuhan lagi.
Segala tantangan sudah saya lalui: tanjakan, hujan, panas, dan lelah. Tapi yang paling mengesankan bukan hanya bentang alamnya—melainkan orang-orangnya. Masyarakat yang terbuka, hangat, ringan tangan… interaksi yang membuat perjalanan ini bukan sekadar lintasan, melainkan pertemuan.
Penunjuk jarak di sepeda menunjukkan angka 653 km. Kurang lebih 50 km lagi menuju garis finis. Setelah menyeruput kopi dan menyantap roti di pos keamanan penginapan, saya mulai mengayuh pelan, meninggalkan Lembor dengan udara sejuk pegunungan yang masih menggigit lembut.
Jalan lurus terbentang, mendatar, dengan hamparan sawah di kiri-kanan. Gunung-gunung mengawal dari ujung horison. Sebagian petak sawah sedang dipanen.
Di pinggir jalan, padi dijemur. Beberapa petani masih menggunakan ani-ani, sebagian sudah beralih ke mesin pemotong. Entah efisiensi atau mungkin memang tenaga muda sudah langka di kampung-kampung.
Beberapa warga sempat mengatakan, generasi muda banyak yang pergi ke kota—baik di Flores maupun di Jawa. Sebagian bahkan menjadi TKW, dan tak jarang, mereka tak kembali lagi ke tanah kelahiran.
Ketika otot kaki mulai panas, pedal saya pacu lebih cepat. Jalanan sepi, hanya ada satu jembatan kokoh dari besi berdiri di atas sungai yang nyaris kering. Setelah itu, tanjakan panjang mengarah ke lembah berikutnya dan itu terus berulang.
Di tengah kayuhan, sepeda mulai “berbicara”—rantai enggan pindah ke gir terkecil. Tapi saya tak terlalu memikirkan itu. Labuan Bajo sudah dekat, rasanya seperti ditarik magnet pulang.
Di satu titik, sinar matahari mulai menyengat. Saya mampir di warung kecil di pinggir bukit batu, sekadar berteduh dan melepas peluh. Sepeda saya sandarkan di dinding. Saya pesan segelas jus mangga—manis, dingin, menyegarkan. Sebuah motor juga singgah. Seperti biasa, rokok jadi teman sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Turunan membawa saya ke jembatan besar. Dua sungai bertemu di bawah sana, air mengalir deras. Batu-batu besar berserakan—diangkut truk oleh penduduk, dijual keluar daerah. Sungai tak hanya mengalirkan air, tapi juga rejeki.
Medan kembali mendaki. Langit mendung. Tanjakan terjal melingkar seperti ular batu. Hujan pun turun. Saya berhenti, bergegas mengenakan jas hujan. Tapi rintiknya semakin deras, memaksa saya mencari tempat berlindung.
Di bibir tebing, saya temukan pohon besar dengan cekungan di bawah akar-akarnya. Saya masuk, jongkok diam di dalamnya—sedikit lega, sedikit was-was. Di antara petir dan rasa dingin, saya menunggu hujan reda. Tempat sempit itu tak ramah, tapi cukup untuk sejenak berlindung.
Setelah reda, saya keluar. Sepeda kembali menyatu dengan jalan. Basah, dingin, tapi semangat tetap hangat. Di ujung sana, Labuan Bajo sudah mulai menampakkan bayangnya.
710 Kilometer, Sepeda, dan Sunset di Ujung Flores
Tak lama di atas sadel, sebuah warung kecil muncul di sudut jalan. Harapan saya sederhana—nasi hangat untuk makan siang. Tapi ternyata warung itu hanya menjual minuman. Untungnya, ada beberapa bungkus mie instan terselip di antara tumpukan botol plastik. Mirip kejadian di jalur Mborong–Ruteng tempo hari: makan siang tak ada, mie instan pun jadi penyelamat.
Perjalanan kembali dilanjutkan ketika hujan benar-benar reda dan kopi sudah tandas dari cangkir terakhir. Jalan mendaki terus menguji ketahanan. “Puncaknya lima kilometer lagi,” ujar pemilik warung. Dengan celana dan sepatu yang masih basah, saya pun menaklukkan tanjakan menuju puncak Golo Mbeliling.
Di sana berdiri baliho besar berisi himbauan untuk menjaga keberadaan burung Jalak Flores—satwa endemik pulau ini yang kini kian terancam punah. Jalak Flores diburu dan dijual secara ilegal, bahkan diselundupkan lewat kapal feri dari Labuan Bajo ke Sape, Sumbawa. Di pojok-pojok gelap kapal, kandang-kandang kecil disembunyikan. Jika tak diawasi, satu-satunya jalak asli Flores bisa lenyap dari hutan-hutan ini.
Di tengah kabut tebal yang turun selama hampir 10 km, saya melihat pembangunan menara telepon seluler. Semoga teknologi tak mengusir makhluk-makhluk yang sudah lama bermukim di habitat ini.
Jalan menurun berkelok-kelok mulai membawa saya turun dari Golo Mbeliling. Hairpin kembali muncul. Rumah penduduk tersebar jarang-jarang, berdiri di tengah kabut, di tepi tebing yang baru saja dipapas. Lembah di kanan jalan menghampar luas, pucuk-pucuk pohon sejajar dengan mata. Semuanya basah dan tenang, khas jalan Flores selepas hujan.
Menjelang kampung Dolong, masjid kecil mulai terlihat. Tanda bahwa pesisir sudah dekat. Dari atas, Labuan Bajo mulai tampak mengintip—dari kejauhan, di pelataran komodo.
Sepeda saya pacu cepat. Tanjakan masih ada, tapi tak ada yang terlalu curam. Di medan yang mendatar, matahari sore sempat mencuri perhatian dari balik awan kelabu.
Saat lampu merah pertama muncul dan wisatawan
warawiri naik motor sewaan, saya tahu: kota ini sudah menyambut saya. Sebelum
mengambil dus sepeda yang saya kirim dari Maumere via Lion Parcel, saya singgah
dulu di Kampung Ujung sebagai simbol dari akhir perjalanan saya bersepeda di
tanah Flores, Alhamdulillah.
Kampung Ujung adalah salah satu pusat kuliner pinggir pantai yang ramai dan
hidup. Pemerintah menatanya jadi ruang wisata rasa: harga bersahabat, menu
bervariasi, dan suasana khas pesisir.
Saya pesan segelas jus alpukat dari warung yang dijaga oleh seorang siswi SMA yang tengah menggantikan ibunya yang sedang sakit. Perasaan saya campur aduk—antara lega dan tak percaya. 710 kilometer sudah saya tempuh di atas roda dan hasrat.
Di tengah sunset yang mulai merah jingga, saya membuka ponsel. Ada pesan dari teman di Jakarta yang mengabarkan nomor kontak yang bisa saya hubungi. Segera saya menelepon. Orang yang saya hubungi dengan ramah menawarkan tempat menginap di kantornya. Tapi saya memilih mencari tempat sendiri, tak ingin merepotkan.
Sebuah hostel backpacker di jalan utama dekat pelabuhan jadi pilihan. Bangunannya sederhana tapi bersih. Tempat tidur susun masih rapi, sepertinya saya satu-satunya tamu malam itu. Petugas penginapan berkata, banyak wisatawan membatalkan kunjungan karena erupsi Gunung Agung di Bali.
Harganya hanya 75 ribu per malam, lengkap dengan AC dan sarapan. Murah. Jauh lebih murah dari yang saya bayangkan sebelumnya. Labuan Bajo ternyata tidak sekeras dugaan saya sebagai titik akhir. Bahkan masih ramah untuk seorang bikepacker yang datang dengan peluh dan penuh cerita.
Setelah membayar dan mencatat KTP, saya masuk ke kamar berukuran 8x20 meter. Pannier saya copot dan bongkar perlahan. Kamar mandi di belakang jadi tempat pertama yang saya tuju. Tubuh ini sudah lama ingin disentuh air hangat.
Cacing-cacing di perut mulai berisik. Waktu mencari makan sudah tiba.
Labels: bike to pulau, golo mbeliling, lembor


















0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home