KAMPUNG UJUNG
Pagi di Labuan Bajo masih tenang. Jalanan belum riuh, udara segar menyapa lembut. Saya berjalan santai mencari sarapan, dan sebuah warung yang baru membuka pintu jadi pelabuhan awal hari. Semangkuk bubur dengan taburan kacang dan suwiran ayam mengisi perut yang sejak semalam hanya ditemani angin.
Kota yang terletak di ujung barat pulau Flores ini bukan sekadar tempat persinggahan. Ia adalah gerbang petualangan, magnet turis dari penjuru dunia. Komodo, sang reptil purba, jadi bintang utamanya. Tak hanya di Pulau Komodo, tapi juga di Rinca, meski populasinya lebih ramping di sana.
Menurut data Dinas Pariwisata NTT, tahun 2017 mencatat lonjakan kunjungan: lebih dari 122.000 wisatawan menyapa Labuan Bajo dan Komodo. Mayoritas, 65 persen, adalah wisatawan mancanegara. Sisanya warga lokal yang ingin menyaksikan legenda hidup di tanah sendiri. Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya hanya mencapai 82.000 orang.
Berbeda dengan Bali yang memikat lewat tarian dan pura, Labuan Bajo menjual petualangan liar: komodo, laut biru, dan gugusan pulau-pulau tak berpenghuni yang menanti langkah pertama.
Setelah kota mulai bergeliat dan kendaraan berlalu-lalang, saya kembali ke penginapan. Seonggok pakaian kotor dibawa ke belakang, ke area mencuci yang menggunakan air dari torn besar. Di sini, air adalah kemewahan. Penduduk dan pemilik usaha terbiasa membeli air dari mobil-mobil tangki yang berseliweran.
Kata warga, saat Sail Komodo dulu, pemerintah pusat telah menanam pipa distribusi air di seluruh kota. Tapi sampai sekarang, aliran yang dijanjikan belum muncul. Konon, pompa berkapasitas besar tak kunjung dibeli. Pipa tinggal pipa, mimpi tinggal mimpi.
Langit masih abu-abu saat cucian dijemur. Musim hujan tampaknya sedang mengintip. Untungnya, listrik di kota ini cenderung stabil—berbeda dengan sebagian wilayah Flores yang rawan padam. Momentum langka ini saya manfaatkan untuk mentransfer data ke laptop, mengurai rekaman jejak perjalanan.
Ruangan hostel yang bisa menampung 40 orang, tapi malam itu hanya saya seorang, menjadi tempat rebahan paling sunyi tapi damai. Azan Dzuhur menggema dari masjid kecil di belakang penginapan, saya mandi dan menunaikan ibadah di dalam kamar. Kota ini memang plural—selain penduduk asli, Labuan Bajo juga dihuni oleh etnis dari Makasar, Sumbawa, dan Jawa. Semuanya menyatu dalam harmoni di dataran pelabuhan.
Warung makan bertebaran—umumnya milik pendatang dari Jawa dengan harga yang bersahabat. Bagi mereka yang berkantung tebal, restoran dan kafe estetik menyuguhkan menu-menu internasional.
Setelah makan siang di warung sederhana, saya tertarik pada restoran dengan desain arsitektur yang memikat. Bangunannya mencuri perhatian wisatawan asing. Saya masuk dan memesan pisang goreng seharga Rp35 ribu. Sambil menikmati rasa hangatnya, kamera saya arahkan ke pelabuhan yang tampak tak jauh, mengabadikan sisa aktivitas sore sebelum malam jatuh perlahan.
Senja Labuan Bajo, Motor Sewaan, dan Dus Sepeda yang Belum Masuk
Di sisa waktu yang masih luang, saya memilih mengembara ringan—menyewa motor di depan penginapan. Bensin saya isi di lapak BBM eceran, karena jatah dari penyewa hanya sebatas cukup-cukup saja. Roda dua itu saya arahkan ke pusat kota, menyusuri denyut aktivitas warga yang mulai menggeliat.
Labuan Bajo, kota yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan nasional, tampak masih berjalan pelan. Sejak menjadi daerah otonomi pada 2015, wajah kotanya nyaris tak berubah: jalan sempit, trotoar tak berjejak, dan lampu jalan yang bisa dihitung. Yang tampak ramai justru baliho partai politik, penuh foto-foto yang siap menyapa Pilkada.
Menjelang sore, saya meluncur ke Waecicu—ujung kota yang menawarkan lanskap bukit kecil dan cakrawala laut. Dari sini, pulau-pulau tampak mengambang di selat. Beberapa hotel baru sedang dibangun, seolah bersiap menjadi panggung utama pariwisata ke depan.
Matahari mulai menyentuh kaki langit, bias jingganya mewarnai jalan pulang. Tapi sebelum kembali ke penginapan, saya teringat akan dus sepeda yang saya titipkan di kantor teman. Teman saya sedang berada di Jakarta, jadi saya hanya bertemu pegawainya saja.
Perut mulai memberi sinyal lapar. Kampung Ujung kembali menjadi tempat pendaratan rasa. Seekor tuna bakar dengan sambal khasnya hadir di piring, lengkap dengan harga yang bersahabat. Kuliner pinggir laut ini menjadi favorit para wisatawan berkantung tipis tapi berjiwa gemilang.
Setelah berpesta ikan, segelas jus alpukat menjadi penutup malam yang hangat. Dengan motor sewaan dan dus sepeda yang saya ikat di boncengan, saya meluncur pulang. Di sepanjang jalan, beberapa agen travel kecil menawarkan paket ke Pulau Komodo dengan harga miring.
Sebuah agen kecil di seberang hostel pun mewujudkan impian itu dengan sistem Join Group.. Dengan membayar hanya Rp400.000 dari harga normal Rp750.000, besok pagi saya dijadwalkan berangkat dari pelabuhan bersama penumpang lain menggunakan kapal Phinisi.
Malam menjelang, saya sempatkan membongkar sepeda untuk dimasukkan ke dus yang tadi diambil. Beberapa bagian bisa dilepas dengan mudah, tapi pedal sebelah kanan ngotot tak mau bergerak. Kunci Inggris sudah dicoba—dipinjam dari bengkel motor terdekat—tetap tak berhasil.
Untuk sementara, dus itu belum terisi lengkap. Ryan, petugas penginapan yang baik hati, saya minta untuk membeli kunci pas ukuran 15 besok pagi. Karena saya harus berangkat mengejar mimpi: menyapa komodo langsung di habitat aslinya.
Labels: bike to pulau, komodo, labuan bajo, waecicu













0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home