10.3.18

EPILOG BIKE TO PULAU FLORES

 

DARI TIMUR KE BARAT,

710 KILOMETER DAN SEJUTA JEJAK


Berangkat dari Larantuka, sebuah kota pesisir di ujung timur Pulau Flores, perjalanan ini dimulai seperti fajar yang malu-malu menyibak malam. Dengan sepeda sebagai sahabat dan harapan sebagai bahan bakar, mengayuh melintasi kontur pulau yang tak selalu ramah—tanjakan yang panjang, kabut yang menggigil, hujan yang menguji, dan jalanan yang kadang sunyi seperti doa yang teruntai sendiri.

Etappe demi etappe, tak hanya melintasi peta, tapi juga hati manusia. Di warung-warung kecil tanpa nasi, menemukan sambutan dari tangan-tangan yang tak pernah enggan membantu. Di kampung-kampung yang jauh dari sorotan wisata, bertemu anak-anak yang menyapa, “Hallo mister…!” seolah adalah tamu yang telah mereka nantikan.

Dari Bena dan Bajawa hingga Golo Mbeliling dan Lembor, menyusuri lorong-lorong budaya dan hutan tropis yang menyimpan legenda. Bahkan ketika pedal mulai memberontak atau rantai tak mau bergeser, tetap melaju. Tak hanya menuju Labuan Bajo, tapi menuju versi diri yang lebih utuh.

Dan ketika akhirnya Labuan Bajo menyambut, bukan sebagai pelabuhan akhir, tapi sebagai gerbang cerita baru, melanjutkan dengan kapal Phinisi ke Pulau Padar dan Komodo—menyapa kadal purba yang hidup di bawah bayangan mitos dan ancaman kepunahan. Lautan Flores membentang di depan, menara solar cell berdiri di dermaga, dan pasir pantai menyimpan jejak bersama turis-turis dari berbagai penjuru dunia.

Ketika hari terakhir datang, sempat termenung di kamar penginapan, mengenang proses awal—bersama istri menyusun rencana, memetakan langkah-langkah kecil yang ternyata membawa pada petualangan besar. Dan saat pedal terakhir akhirnya terlepas dengan kunci pas yang nyaris tak ditemukan, dus sepeda pun menutup lembaran penuh peluh dan pelajaran.

Di Bandara Komodo, terminal berbentuk naga itu menjadi penanda bahwa perjalanan telah selesai. Tapi sejatinya, cerita ini baru saja dimulai.

710 kilometer telah ditempuh.

Terimakasih untuk :

  • Allah SWT yang memberi kelancaran dan perlindungan.
  • Istri dan anak-anak di rumah yang jadi titik kembali.
  • Eiger Adventure, Ora Dive Komodo, King Entertainment, Republic Of Entertainment, Rumah Nusantara, Land Rover Club Bandung.
  • Semua teman baik yang tak bisa disebutkan satu persatu.


Sampai jumpa di petualangan berikutnya,

Di pulau yang mungkin berbeda, 

Tapi dengan semangat yang tetap sama : 

Melaju. Menyapa. Menyerap.

5.3.18

AIRPORT KOMODO

bike to pulau

9 Desember2017.
KEMBALI KE SARANG


Pagi terakhir di pulau ini membuka lembaran kenangan yang mengalir pelan. Di balik suara ayam yang belum reda, saya terdiam sejenak di sudut kamar, mengenang masa-masa perencanaan awal—bersama istri, menggali data, menyusun titik-titik perjalanan, dari teknis hingga rasa. Alhamdulillah, semua telah dijalani, meski sempat terhambat, toh itu hanya bumbu kecil dalam menu petualangan panjang.

Flores bukan sekadar pulau dengan tanjakan dan turunan. Ia adalah ruang sunyi yang menyapa penuh kelembutan: alam yang mendekap, masyarakat yang terbuka, dan jalan-jalan yang menceritakan diri mereka dengan sabar. Rasanya berat meninggalkannya. Tapi sarang tetap menunggu. Saya ikrarkan satu hal: suatu hari nanti, akan kembali ke tanah ini—bersama istri dan anak tercinta.

Ketukan halus dari Pak Sil membuyarkan lamunan. Ia, penjaga keamanan penginapan, sudah menyiapkan secangkir kopi dan roti bakar di ruang depan. “Waktunya bersiap ke bandara,” katanya.
Barang-barang sudah rapi. Angkot yang lewat berhasil dihentikan Ryan, petugas penginapan yang sigap. Ia menitipkan saya pada sopirnya, menuju Bandara Komodo yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tengah kota. Ongkosnya? Rp30.000 saja—tak mahal untuk sebuah pengantar pulang.

Terminal Bandara Komodo yang selesai dibangun pada 2015 itu tampak megah. Arsitekturnya menyerupai siluet komodo, reptil legendaris yang membawa Labuan Bajo ke peta dunia. Terminal seluas 9.687 meter persegi ini dilengkapi fasilitas modern: x-ray, gerbang logam, conveyor bagasi, dan bangku-bangku yang menyambut wisatawan dari berbagai negeri.

Sebelum masuk, saya sempatkan membeli sebungkus nasi kuning di persimpangan jalan—karena roti bakar tadi pagi hanya cukup untuk menyapa perut, bukan mengisi. Setelah barang dan sepeda masuk ke konter check-in, nasi itu jadi pelipur lapar menjelang boarding.
Penerbangan menuju Bandung berjalan lancar, walau sempat transit di Denpasar. 

Di langit sore, pesawat mendarat mulus di tanah asal. Jam menunjukkan pukul empat. Petualangan pun resmi ditutup. Flores, dengan segala kisahnya, telah tercatat di pedal dan napas saya. Semoga perjalanan ini bisa menjadi rujukan kecil bagi siapa pun yang ingin menyusuri pulau indah ini dengan cara yang sederhana namun bermakna.



Sepeda yang sudah terbungkus dus.

Loby utama bandara Komodo.

bike to pulau
Menuju pesawat tanpa shuttle bus.



Bersambung

Labels:

3.3.18

LAUTAN SAMPAH

bike to pulau

8 DESEMBER 2017.

Menyapa Padar dan Komodo:

Di Atas Phinisi, Di Bawah Langit Flores


Pagi itu langit Labuan Bajo sedikit mendung, tapi semangat sudah cerah sejak langkah pertama meninggalkan penginapan. Sesuai kesepakatan, saya tiba di dermaga pelabuhan—meeting point sederhana yang sudah dipenuhi deretan perahu phinisi menunggu penumpang, mulai dari yang mungil hingga megah.

Travel agent yang saya booking mengirimkan 11 peserta: 4 orang WNI, 7 turis mancanegara. Karena jumlah kecil, kami dimasukkan dalam perahu sepanjang 12 meter dengan lebar dua meter—kapal kayu bermesin diesel, diawaki dua kru yang sekaligus menjadi pemandunya.

Kami, masing-masing dibekali masker snorkel, sepasang kaki katak, kotak makan siang, dan air mineral 1,5 liter. Dari pihak kapal, kopi dan teh mengalir hangat, pisang tersaji di sudut meja kayu.

Tepat pukul enam pagi, perahu bergerak meninggalkan pelabuhan. Tujuan pertama: Pulau Padar. Tiga jam perjalanan di atas air, membelah selat dengan ombak yang tenang. Saya seduh kopi pertama hari itu—di penginapan tadi, petugas masih tertidur.

Di kejauhan, beberapa perahu lain berlayar beriringan, tak kurang dari empat kapal berbagai ukuran. Matahari mulai muncul, pulau-pulau gersang terlewati, dan burung-burung laut meluncur rendah, menari di atas permukaan air, menyambar ikan yang sesekali muncul.

Beberapa peserta kembali tidur di geladak, dua turis bule berjemur santai sambil membaca buku. Saya berbincang dengan pasangan dari Jakarta. Sang suami guru bahasa Indonesia untuk ekspatriat, sang istri ibu rumah tangga yang sedang menikmati liburan. Guide lokal perempuan yang menemani mereka tertidur pulas di sudut dek—mungkin semalam begadang.

Di sela percakapan, pandangan saya terantuk oleh tumpukan sampah plastik yang mengambang di selat. Tidak hanya di daratan, air pun kini ikut menyimpan cerita tentang kelalaian. Saya tak tahu apa yang dipikirkan turis mancanegara melihat ini, tapi rasanya peringatan harus segera jadi tindakan.

Kapal kami milik pengusaha lokal. Dua kru menjalankan tugas masing-masing: satu di balik kemudi, satu lagi memastikan kami nyaman dan terlayani. Menurut cerita mereka, sejak status siaga Gunung Agung diumumkan sebulan lalu, jumlah wisatawan yang datang menurun drastis. Erupsi kemarin membuat situasi makin sepi.

Tiba-tiba suara mesin mengecil. Pulau Padar menyembul di depan mata, siluetnya tinggi dan anggun. Crew melemparkan jangkar, tangga digantung ke sisi kapal. Kami bersiap menjejak daratan pertama hari itu.

Pantai Padar berpasir putih dan berkilau, sinar siang memantulkan cahaya dari hamparan luasnya. Bukit-bukit memanggil kami naik. 41.000 hektare pulau ini menjadi latar terbaik untuk para pengunjung berfoto: laut biru, bukit hijau kekuningan, dan lekukan pantai yang dramatis.

Tangga-tangga permanen sudah dibangun, beberapa titik sedang dalam tahap penyelesaian. Para pekerja yang saya temui sempat meminta rokok. “Tak ada warung di atas,” katanya. Sayang, toilet masih belum tersedia.

Setelah 30 menit menjelajah pulau, kapal kembali melaju. Tujuan berikutnya: Pulau Komodo. Perjalanan kali ini lebih singkat—hampir satu jam. Para peserta mulai sibuk berfoto, tak ada lagi yang tidur.

Pulau Komodo mendekat, tampak gersang seperti pulau lainnya, namun berbeda karena dermaga permanen menanti kami, berdiri kokoh di atas tiang-tiang beton dan dikelilingi lampu solar cell.

Kami bersandar. Langkah pertama di tanah legenda. Registrasi dilakukan di sebuah bangunan semi terbuka—mengisi data, membayar tiket, dan menukar kupon. Saya manfaatkan waktu untuk mengambil gambar suasana: dermaga, pengunjung, petugas.

Setelah semua beres, Ranger lokal mengumpulkan kami. Ia menjelaskan aturan di pulau ini, apa yang boleh dan tidak boleh. Kami diberi opsi rute, dan karena mayoritas peserta sudah berumur, kami memilih jalur pendek dan nyaman.

Baru berjalan sebentar, seekor komodo dewasa terlihat sedang beristirahat di bawah kerimbunan pohon. Ranger berseragam—penduduk asli pulau—mengajak kami mendekat. Beberapa peserta berpose di belakang sang naga purba, tetap di bawah pengawasan ketat. Kamera mengabadikan momen. Tapi bukan hanya wujud komodo yang mengesankan, melainkan rasa: bahwa kami benar-benar di sini, di habitat asli sang legenda, di pulau yang menolak lupa.


Suasana pembagian kapal sebelum berangkat.

Beberapa perahu phinisi yang sedang ngetem.

Pulau-pulau gersang di selat komodo.

Sesaat menjelang sandar.

Salah seorang crew kapal sedang mempersiapkan jangkar untuk merapat di pulau Padar.

bike to pulau
Pemandangan dari puncak pulau Padar. 

bike to pulau
Sisi lain pantai di pulau Padar.

Sinar matahari yang melimpah dimanfaatkan oleh dua orang turis untuk berjemur.

bike to pulau
Gerbang utama pulau Komodo.

bike to pulau
Pose wajib saat anda mengunjungi pulau Komodo.

Komodo, Pink Beach, dan Pedal Terakhir di Labuan Bajo

Komodo—Varanus komodoensis—adalah kadal terbesar yang masih berjalan di muka bumi. Panjangnya bisa mencapai 3 meter, beratnya rata-rata 70 kilogram, meski yang hidup di penangkaran kadang tumbuh lebih besar. Spesimen liar terbesar tercatat sepanjang 3,13 meter, dengan berat 166 kilogram—termasuk isi perut yang belum tercerna.

Ekor komodo sepanjang tubuhnya, gigi-giginya tajam dan bergerigi—sekitar 60 buah—sering berganti. Air liurnya kadang bercampur darah, karena gusi yang robek saat makan. Itu sebabnya, mulut komodo menjadi rumah bagi bakteri yang mematikan.

Warna tubuh komodo jantan cenderung gelap, dari abu-abu hingga merah bata. Betinanya berwarna hijau zaitun, dengan aksen kuning di tenggorokan. Komodo muda lebih berwarna: kuning, hijau, putih berlatar hitam, seperti karya seni yang hidup.

Selama sekitar satu jam kami berkeliling Pulau Komodo. Setelah puas berpose bersama si naga purba yang berjemur di balik pohon, kami kembali ke kapal. Waktu makan siang telah tiba. Crew membagikan lunch box dan air mineral. Suasana pun mencair. Tertawa dan candaan ringan mulai terdengar di antara kami—kawan yang beberapa jam lalu masih asing.

Tak lama, Pink Beach menyambut. Dulu pasirnya konon berwarna ungu muda, kini perlahan memudar jadi putih—seperti kebanyakan pantai di belahan lain. Tapi tetap indah. Ombaknya tenang, pantainya lapang.

Beberapa peserta langsung turun dan berenang, snorkeling di perairan dangkal. Rombongan perahu lain juga ikut sibuk dengan aktivitas masing-masing. Di kejauhan, Manta Point mulai terlihat—tujuan akhir tur kami.

Di laut lepas itu, ikan pari besar berkeliaran. Penyelam asing berlomba mendekat dan merekam perjumpaan langka di layar GoPro mereka. Ombak tinggi tak membuat nyali surut. Tak kurang dari lima perahu berhenti di lokasi itu. Kami yang tidak ikut menyelam hanya bisa menebak bayangan mereka dari atas dek.

Menjelang sore, penyelaman dihentikan. Wajah-wajah puas dengan rambut basah dan tubuh lelah berbaring di atas geladak. Langit jingga mulai menjemput kami pulang. Tiga jam lagi, kami bersandar kembali di Labuan Bajo.

Setelah istirahat di penginapan, kabar kurang menyenangkan datang: Ryan belum berhasil menemukan kunci pas 15—alat penting untuk membuka pedal sepeda sebelum saya kemas ke dalam dus. Tanpa alat itu, prosedur penerbangan bisa jadi merepotkan.

Menjelang magrib, saya pinjam motor dari Pak Sil, satpam penginapan, untuk menyusuri toko-toko yang masih buka. Dari satu bengkel ke toko lain, akhirnya ada satu yang baru saja menutup. Saya ketuk pelan, pintu pun terbuka, dan kunci pas berpindah tangan.

Sampai penginapan, kunci langsung saya gunakan untuk membuka pedal—tapi tetap saja susah. Lalu, panggilan telepon ke teman di Bandung jadi penyelamat. "Bukanya ke arah belakang," katanya. Ah, dasar amatir...

Akhirnya, pedal terlepas. Sepeda masuk ke dus dengan lega. Pannier, pompa, dan perlengkapan lainnya saya kemas terpisah. Daypack saya sisakan—berisi laptop dan barang ringan untuk dibawa ke kabin. Petualangan panjang pun mulai diringkas dalam bentuk barang.

Tapi cerita tidak ikut diringkas. Ia tetap mengalir, berjejak di pasir, di pedal, di langit jingga Labuan Bajo.



Bersiap terjun ke laut.

Setelah puas berenang.

Pink beach yang kini putih.

Deretan phinisi setelah mengantarkan tamu berkeliling pulau Komodo dsk.

Senja di teluk Bajo.




Labels: , , , ,

1.3.18

KAMPUNG UJUNG

bike to pulau


7 DESESEMBER 2017.
LABUAN BAJO

Pagi di Labuan Bajo masih tenang. Jalanan belum riuh, udara segar menyapa lembut. Saya berjalan santai mencari sarapan, dan sebuah warung yang baru membuka pintu jadi pelabuhan awal hari. Semangkuk bubur dengan taburan kacang dan suwiran ayam mengisi perut yang sejak semalam hanya ditemani angin.

Kota yang terletak di ujung barat pulau Flores ini bukan sekadar tempat persinggahan. Ia adalah gerbang petualangan, magnet turis dari penjuru dunia. Komodo, sang reptil purba, jadi bintang utamanya. Tak hanya di Pulau Komodo, tapi juga di Rinca, meski populasinya lebih ramping di sana.

Menurut data Dinas Pariwisata NTT, tahun 2017 mencatat lonjakan kunjungan: lebih dari 122.000 wisatawan menyapa Labuan Bajo dan Komodo. Mayoritas, 65 persen, adalah wisatawan mancanegara. Sisanya warga lokal yang ingin menyaksikan legenda hidup di tanah sendiri. Sebagai perbandingan, tahun sebelumnya hanya mencapai 82.000 orang.

Berbeda dengan Bali yang memikat lewat tarian dan pura, Labuan Bajo menjual petualangan liar: komodo, laut biru, dan gugusan pulau-pulau tak berpenghuni yang menanti langkah pertama.

Setelah kota mulai bergeliat dan kendaraan berlalu-lalang, saya kembali ke penginapan. Seonggok pakaian kotor dibawa ke belakang, ke area mencuci yang menggunakan air dari torn besar. Di sini, air adalah kemewahan. Penduduk dan pemilik usaha terbiasa membeli air dari mobil-mobil tangki yang berseliweran.

Kata warga, saat Sail Komodo dulu, pemerintah pusat telah menanam pipa distribusi air di seluruh kota. Tapi sampai sekarang, aliran yang dijanjikan belum muncul. Konon, pompa berkapasitas besar tak kunjung dibeli. Pipa tinggal pipa, mimpi tinggal mimpi.

Langit masih abu-abu saat cucian dijemur. Musim hujan tampaknya sedang mengintip. Untungnya, listrik di kota ini cenderung stabil—berbeda dengan sebagian wilayah Flores yang rawan padam. Momentum langka ini saya manfaatkan untuk mentransfer data ke laptop, mengurai rekaman jejak perjalanan.

Ruangan hostel yang bisa menampung 40 orang, tapi malam itu hanya saya seorang, menjadi tempat rebahan paling sunyi tapi damai. Azan Dzuhur menggema dari masjid kecil di belakang penginapan, saya mandi dan menunaikan ibadah di dalam kamar. Kota ini memang plural—selain penduduk asli, Labuan Bajo juga dihuni oleh etnis dari Makasar, Sumbawa, dan Jawa. Semuanya menyatu dalam harmoni di dataran pelabuhan.

Warung makan bertebaran—umumnya milik pendatang dari Jawa dengan harga yang bersahabat. Bagi mereka yang berkantung tebal, restoran dan kafe estetik menyuguhkan menu-menu internasional.

Setelah makan siang di warung sederhana, saya tertarik pada restoran dengan desain arsitektur yang memikat. Bangunannya mencuri perhatian wisatawan asing. Saya masuk dan memesan pisang goreng seharga Rp35 ribu. Sambil menikmati rasa hangatnya, kamera saya arahkan ke pelabuhan yang tampak tak jauh, mengabadikan sisa aktivitas sore sebelum malam jatuh perlahan.

bike to pulau



Senja Labuan Bajo, Motor Sewaan, dan Dus Sepeda yang Belum Masuk

Di sisa waktu yang masih luang, saya memilih mengembara ringan—menyewa motor di depan penginapan. Bensin saya isi di lapak BBM eceran, karena jatah dari penyewa hanya sebatas cukup-cukup saja. Roda dua itu saya arahkan ke pusat kota, menyusuri denyut aktivitas warga yang mulai menggeliat.

Labuan Bajo, kota yang telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan nasional, tampak masih berjalan pelan. Sejak menjadi daerah otonomi pada 2015, wajah kotanya nyaris tak berubah: jalan sempit, trotoar tak berjejak, dan lampu jalan yang bisa dihitung. Yang tampak ramai justru baliho partai politik, penuh foto-foto yang siap menyapa Pilkada.

Menjelang sore, saya meluncur ke Waecicu—ujung kota yang menawarkan lanskap bukit kecil dan cakrawala laut. Dari sini, pulau-pulau tampak mengambang di selat. Beberapa hotel baru sedang dibangun, seolah bersiap menjadi panggung utama pariwisata ke depan.

Matahari mulai menyentuh kaki langit, bias jingganya mewarnai jalan pulang. Tapi sebelum kembali ke penginapan, saya teringat akan dus sepeda yang saya titipkan di kantor teman. Teman saya sedang berada di Jakarta, jadi saya hanya bertemu pegawainya saja.

Perut mulai memberi sinyal lapar. Kampung Ujung kembali menjadi tempat pendaratan rasa. Seekor tuna bakar dengan sambal khasnya hadir di piring, lengkap dengan harga yang bersahabat. Kuliner pinggir laut ini menjadi favorit para wisatawan berkantung tipis tapi berjiwa gemilang.

Setelah berpesta ikan, segelas jus alpukat menjadi penutup malam yang hangat. Dengan motor sewaan dan dus sepeda yang saya ikat di boncengan, saya meluncur pulang. Di sepanjang jalan, beberapa agen travel kecil menawarkan paket ke Pulau Komodo dengan harga miring. 

Sebuah agen kecil di seberang hostel pun mewujudkan impian itu dengan sistem Join Group.. Dengan membayar hanya Rp400.000 dari harga normal Rp750.000, besok pagi saya dijadwalkan berangkat dari pelabuhan bersama penumpang lain menggunakan kapal Phinisi.

Malam menjelang, saya sempatkan membongkar sepeda untuk dimasukkan ke dus yang tadi diambil. Beberapa bagian bisa dilepas dengan mudah, tapi pedal sebelah kanan ngotot tak mau bergerak. Kunci Inggris sudah dicoba—dipinjam dari bengkel motor terdekat—tetap tak berhasil.

Untuk sementara, dus itu belum terisi lengkap. Ryan, petugas penginapan yang baik hati, saya minta untuk membeli kunci pas ukuran 15 besok pagi. Karena saya harus berangkat mengejar mimpi: menyapa komodo langsung di habitat aslinya.

bike to pulau

bike to pulau


bike to pulau

bike to pulau








Labels: , , ,