LAUTAN SAMPAH
Menyapa Padar dan Komodo:
Di Atas Phinisi, Di Bawah Langit Flores
Pagi itu langit Labuan Bajo sedikit mendung, tapi semangat sudah cerah sejak langkah pertama meninggalkan penginapan. Sesuai kesepakatan, saya tiba di dermaga pelabuhan—meeting point sederhana yang sudah dipenuhi deretan perahu phinisi menunggu penumpang, mulai dari yang mungil hingga megah.
Travel agent yang saya booking mengirimkan 11 peserta: 4 orang WNI, 7 turis mancanegara. Karena jumlah kecil, kami dimasukkan dalam perahu sepanjang 12 meter dengan lebar dua meter—kapal kayu bermesin diesel, diawaki dua kru yang sekaligus menjadi pemandunya.
Kami, masing-masing dibekali masker snorkel, sepasang kaki katak, kotak makan siang, dan air mineral 1,5 liter. Dari pihak kapal, kopi dan teh mengalir hangat, pisang tersaji di sudut meja kayu.
Tepat pukul enam pagi, perahu bergerak meninggalkan pelabuhan. Tujuan pertama: Pulau Padar. Tiga jam perjalanan di atas air, membelah selat dengan ombak yang tenang. Saya seduh kopi pertama hari itu—di penginapan tadi, petugas masih tertidur.
Di kejauhan, beberapa perahu lain berlayar beriringan, tak kurang dari empat kapal berbagai ukuran. Matahari mulai muncul, pulau-pulau gersang terlewati, dan burung-burung laut meluncur rendah, menari di atas permukaan air, menyambar ikan yang sesekali muncul.
Beberapa peserta kembali tidur di geladak, dua turis bule berjemur santai sambil membaca buku. Saya berbincang dengan pasangan dari Jakarta. Sang suami guru bahasa Indonesia untuk ekspatriat, sang istri ibu rumah tangga yang sedang menikmati liburan. Guide lokal perempuan yang menemani mereka tertidur pulas di sudut dek—mungkin semalam begadang.
Di sela percakapan, pandangan saya terantuk oleh tumpukan sampah plastik yang mengambang di selat. Tidak hanya di daratan, air pun kini ikut menyimpan cerita tentang kelalaian. Saya tak tahu apa yang dipikirkan turis mancanegara melihat ini, tapi rasanya peringatan harus segera jadi tindakan.
Kapal kami milik pengusaha lokal. Dua kru menjalankan tugas masing-masing: satu di balik kemudi, satu lagi memastikan kami nyaman dan terlayani. Menurut cerita mereka, sejak status siaga Gunung Agung diumumkan sebulan lalu, jumlah wisatawan yang datang menurun drastis. Erupsi kemarin membuat situasi makin sepi.
Tiba-tiba suara mesin mengecil. Pulau Padar menyembul di depan mata, siluetnya tinggi dan anggun. Crew melemparkan jangkar, tangga digantung ke sisi kapal. Kami bersiap menjejak daratan pertama hari itu.
Pantai Padar berpasir putih dan berkilau, sinar siang memantulkan cahaya dari hamparan luasnya. Bukit-bukit memanggil kami naik. 41.000 hektare pulau ini menjadi latar terbaik untuk para pengunjung berfoto: laut biru, bukit hijau kekuningan, dan lekukan pantai yang dramatis.
Tangga-tangga permanen sudah dibangun, beberapa titik sedang dalam tahap penyelesaian. Para pekerja yang saya temui sempat meminta rokok. “Tak ada warung di atas,” katanya. Sayang, toilet masih belum tersedia.
Setelah 30 menit menjelajah pulau, kapal kembali melaju. Tujuan berikutnya: Pulau Komodo. Perjalanan kali ini lebih singkat—hampir satu jam. Para peserta mulai sibuk berfoto, tak ada lagi yang tidur.
Pulau Komodo mendekat, tampak gersang seperti pulau lainnya, namun berbeda karena dermaga permanen menanti kami, berdiri kokoh di atas tiang-tiang beton dan dikelilingi lampu solar cell.
Kami bersandar. Langkah pertama di tanah legenda. Registrasi dilakukan di sebuah bangunan semi terbuka—mengisi data, membayar tiket, dan menukar kupon. Saya manfaatkan waktu untuk mengambil gambar suasana: dermaga, pengunjung, petugas.
Setelah semua beres, Ranger lokal mengumpulkan kami. Ia menjelaskan aturan di pulau ini, apa yang boleh dan tidak boleh. Kami diberi opsi rute, dan karena mayoritas peserta sudah berumur, kami memilih jalur pendek dan nyaman.
Baru berjalan sebentar, seekor komodo dewasa terlihat sedang beristirahat di bawah kerimbunan pohon. Ranger berseragam—penduduk asli pulau—mengajak kami mendekat. Beberapa peserta berpose di belakang sang naga purba, tetap di bawah pengawasan ketat. Kamera mengabadikan momen. Tapi bukan hanya wujud komodo yang mengesankan, melainkan rasa: bahwa kami benar-benar di sini, di habitat asli sang legenda, di pulau yang menolak lupa.
Komodo, Pink Beach, dan Pedal Terakhir di Labuan Bajo
Komodo—Varanus komodoensis—adalah kadal terbesar yang masih berjalan di muka bumi. Panjangnya bisa mencapai 3 meter, beratnya rata-rata 70 kilogram, meski yang hidup di penangkaran kadang tumbuh lebih besar. Spesimen liar terbesar tercatat sepanjang 3,13 meter, dengan berat 166 kilogram—termasuk isi perut yang belum tercerna.
Ekor komodo sepanjang tubuhnya, gigi-giginya tajam dan bergerigi—sekitar 60 buah—sering berganti. Air liurnya kadang bercampur darah, karena gusi yang robek saat makan. Itu sebabnya, mulut komodo menjadi rumah bagi bakteri yang mematikan.
Warna tubuh komodo jantan cenderung gelap, dari abu-abu hingga merah bata. Betinanya berwarna hijau zaitun, dengan aksen kuning di tenggorokan. Komodo muda lebih berwarna: kuning, hijau, putih berlatar hitam, seperti karya seni yang hidup.
Selama sekitar satu jam kami berkeliling Pulau Komodo. Setelah puas berpose bersama si naga purba yang berjemur di balik pohon, kami kembali ke kapal. Waktu makan siang telah tiba. Crew membagikan lunch box dan air mineral. Suasana pun mencair. Tertawa dan candaan ringan mulai terdengar di antara kami—kawan yang beberapa jam lalu masih asing.
Tak lama, Pink Beach menyambut. Dulu pasirnya konon berwarna ungu muda, kini perlahan memudar jadi putih—seperti kebanyakan pantai di belahan lain. Tapi tetap indah. Ombaknya tenang, pantainya lapang.
Beberapa peserta langsung turun dan berenang, snorkeling di perairan dangkal. Rombongan perahu lain juga ikut sibuk dengan aktivitas masing-masing. Di kejauhan, Manta Point mulai terlihat—tujuan akhir tur kami.
Di laut lepas itu, ikan pari besar berkeliaran. Penyelam asing berlomba mendekat dan merekam perjumpaan langka di layar GoPro mereka. Ombak tinggi tak membuat nyali surut. Tak kurang dari lima perahu berhenti di lokasi itu. Kami yang tidak ikut menyelam hanya bisa menebak bayangan mereka dari atas dek.
Menjelang sore, penyelaman dihentikan. Wajah-wajah puas dengan rambut basah dan tubuh lelah berbaring di atas geladak. Langit jingga mulai menjemput kami pulang. Tiga jam lagi, kami bersandar kembali di Labuan Bajo.
Setelah istirahat di penginapan, kabar kurang menyenangkan datang: Ryan belum berhasil menemukan kunci pas 15—alat penting untuk membuka pedal sepeda sebelum saya kemas ke dalam dus. Tanpa alat itu, prosedur penerbangan bisa jadi merepotkan.
Menjelang magrib, saya pinjam motor dari Pak Sil, satpam penginapan, untuk menyusuri toko-toko yang masih buka. Dari satu bengkel ke toko lain, akhirnya ada satu yang baru saja menutup. Saya ketuk pelan, pintu pun terbuka, dan kunci pas berpindah tangan.
Sampai penginapan, kunci langsung saya gunakan untuk membuka pedal—tapi tetap saja susah. Lalu, panggilan telepon ke teman di Bandung jadi penyelamat. "Bukanya ke arah belakang," katanya. Ah, dasar amatir...
Akhirnya, pedal terlepas. Sepeda masuk ke dus dengan lega. Pannier, pompa, dan perlengkapan lainnya saya kemas terpisah. Daypack saya sisakan—berisi laptop dan barang ringan untuk dibawa ke kabin. Petualangan panjang pun mulai diringkas dalam bentuk barang.
Tapi cerita tidak ikut diringkas. Ia tetap mengalir, berjejak di pasir, di pedal, di langit jingga Labuan Bajo.
Labels: bike to pulau, komodo, loh liang, padar, pink beach




















0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home