AIRPORT KOMODO
Pagi terakhir di pulau ini membuka lembaran kenangan yang mengalir pelan. Di balik suara ayam yang belum reda, saya terdiam sejenak di sudut kamar, mengenang masa-masa perencanaan awal—bersama istri, menggali data, menyusun titik-titik perjalanan, dari teknis hingga rasa. Alhamdulillah, semua telah dijalani, meski sempat terhambat, toh itu hanya bumbu kecil dalam menu petualangan panjang.
Flores bukan sekadar pulau dengan tanjakan dan turunan. Ia adalah ruang sunyi yang menyapa penuh kelembutan: alam yang mendekap, masyarakat yang terbuka, dan jalan-jalan yang menceritakan diri mereka dengan sabar. Rasanya berat meninggalkannya. Tapi sarang tetap menunggu. Saya ikrarkan satu hal: suatu hari nanti, akan kembali ke tanah ini—bersama istri dan anak tercinta.
Ketukan halus dari Pak Sil membuyarkan lamunan. Ia, penjaga keamanan penginapan, sudah menyiapkan secangkir kopi dan roti bakar di ruang depan. “Waktunya bersiap ke bandara,” katanya.
Barang-barang sudah rapi. Angkot yang lewat berhasil dihentikan Ryan, petugas penginapan yang sigap. Ia menitipkan saya pada sopirnya, menuju Bandara Komodo yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tengah kota. Ongkosnya? Rp30.000 saja—tak mahal untuk sebuah pengantar pulang.
Terminal Bandara Komodo yang selesai dibangun pada 2015 itu tampak megah. Arsitekturnya menyerupai siluet komodo, reptil legendaris yang membawa Labuan Bajo ke peta dunia. Terminal seluas 9.687 meter persegi ini dilengkapi fasilitas modern: x-ray, gerbang logam, conveyor bagasi, dan bangku-bangku yang menyambut wisatawan dari berbagai negeri.
Sebelum masuk, saya sempatkan membeli sebungkus nasi kuning di persimpangan jalan—karena roti bakar tadi pagi hanya cukup untuk menyapa perut, bukan mengisi. Setelah barang dan sepeda masuk ke konter check-in, nasi itu jadi pelipur lapar menjelang boarding.
Penerbangan menuju Bandung berjalan lancar, walau sempat transit di Denpasar.
Di langit sore, pesawat mendarat mulus di tanah asal. Jam menunjukkan pukul empat. Petualangan pun resmi ditutup. Flores, dengan segala kisahnya, telah tercatat di pedal dan napas saya. Semoga perjalanan ini bisa menjadi rujukan kecil bagi siapa pun yang ingin menyusuri pulau indah ini dengan cara yang sederhana namun bermakna.
![]() |
Labels: bike to pulau










0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home