25.12.17

MASTER TENUN IKAT.


bike to pulau


25 November 2017.
 
Mentari hangat menggeliat di ufuk timur, segelas kopi di meja kayu yang menghadap laut lepas jadi pembuka pagi saya di Maumere. Kota itu mulai sibuk, berbeda dari kedatangan kemarin sore—kini jalanan dipenuhi suara mesin dan semangat pagi.

Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, dihuni sekitar 60 ribu jiwa, kota ini mengekspor Kopra, Pisang, Kemiri, Kakao—dan satu warisan budaya yang mendunia: Tenun Ikat Flores. Kota ini pernah porak-poranda oleh Tsunami di tahun 1992 dan pernah pula disapa oleh Sri Paus Yohanes Paulus II di tahun 1989—menjadikannya kota terkecil di dunia yang pernah dikunjungi beliau.

Sepeda saya keluarkan dari kamar untuk berkeliling kota sambil berharap menemukan komunitas atau bengkel yang bisa membantu masalah pada rem depan. Harapan ini sedikit spekulasi, mengingat kabar bahwa di Pulau Flores toko atau bengkel sepeda hampir tak ada. Tapi seperti banyak hal dalam perjalanan—kadang keajaiban muncul di tikungan. Di sebuah sudut jalan, saya menemukan toko sederhana yang menjual sepeda anak-anak, bersanding dengan rak-rak berisi barang kebutuhan sehari-hari.

Saya temui pemilik toko dan menyampaikan keluhan lalu ia menyebutkan satu nama di Kampung Masjid yang mungkin bisa membantu. Saya melaju ke sana dan menunggu di rumah si mekanik yang letaknya di pinggir pantai, tak lama lelaki tua yang ramah datang itu datang, ia pun memeriksa sepeda lalu berkata jujur, “Rem ini saya belum ngerti, coba saja ke bengkel motor.”

Saya pun faham dan pamit. Niat mencari bengkel malah membawa saya ke Warung Makan Jawa yang sedang ramai, sebungkus nasi campur saya bawa pulang dan memakannya di kamar sambil menata ulang perlengkapan untuk menuju destinasi selanjutnya: Pantai Koka di Kecamatan Paga, berjarak 60 km dari sini.

Sebelum pergi, rasa penasaran mendorong saya untuk membongkar dan memasang ulang lagi ban depan. Beberapa kali dicoba dan akhirnya membaik, Alhamdulillah... Sepeda kembali pulih!

Melihat ada toko ban modern saya sempatkan singgah, tujuannya: mengganti angin ban dengan Nitrogen. Tapi pegawai menolak, katanya untuk ban sepeda mesinnya suka error.. Padahal pentilnya sama saja, jawabannya mirip dengan yang saya dapat di Larantuka beberapa hari lalu. Akhirnya, ban diisi angin biasa saja. Tak apa.

Keluar dari Maumere, tanjakan menuju Nita menanti, keloknya panjang namun bersahabat, persis seperti petunjuk di manual book hasil adaptasi dari Google. Perjalanan ini seperti membelah pulau—dari pantai utara ke selatan melewati pegunungan berselimut tanaman Kakao, Kemiri, dan palawija.

Di sebuah warung kecil diujung pendakian, saya berhenti untuk menikmati minuman dingin dari kulkas dan mendengarkan cerita dari si ibu pemilik warung yang pernah ikut rombongan sanggar Lepo Lerun ke pameran Tenun Ikat di Jakarta, Yogya, dan Surabaya. “Ke Bandung belum... pengen banget, katanya makanannya enak-enak,” ujarnya sambil tersenyum.

Selepas Nita jalan mulai datar—menurun lalu mendaki kembali di Bloro, buah-buahan lokal seperti Nanas, Mangga dan Pisang dijajakan di pinggir jalan, saya beli beberapa untuk bekal biar tubuh tetap terisi energi.

Langit mulai kelabu saat di daerah Wulang Lela, sebuah bengkel tambal ban jadi tempat berteduh ketika hujan mulai turun, segelas kopi susu dari warung seberang mengisi suasana di siang itu, berbincang dengan sang pemilik tentang banyak hal hingga hujan reda untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Jalan basah membuat udara menjadi lebih segar. Di tengah perjalanan sepasang anak SMP naik motor menegur “Dari mana, mau ke mana? Boleh coba sepedanya?” katanya penuh antusias, saya jawab sekenanya saja lalu mereka berbincang dengan bahasa lokal yang saya tak paham.

Setelah yakin mereka anak-anak baik, saya titipkan kamera GoPro yang tersampir di tas depan. “Ambilkan gambar saat saya melaju ya,” pinta saya, mereka mengangguk riang. Tak lama, kami tiba di pasar tradisional di tepi jembatan daerah Nangablo, ada warung kecil—perut saya sudah mengetuk minta diisi. Saya ajak juga mereka untuk makan siang bareng tapi dengan sopan mereka menolak. Sayapun membiarkan mereka melanjutkan hari.

Saat mulai menyuap, sepeda diparkiran dikerubungi anak-anak, wajah-wajah mereka menyiratkan takjub, mungkin sepeda dengan tas besar di kiri-kanan belum lazim berhenti di sini, hanya para pembalap Tour de Flores saja yang melintas, itupun cepat tanpa sempat menyapa.

Matahari mulai tinggi. Setelah mengambil gambar anak-anak di pedalaman Sikka itu, perjalanan saya lanjutkan. Selepas kampung, tanjakan menjulang curam, tapi setelah 4 km jalan mendadak menurun, rupanya itu puncak pendakian pertama. Sepeda melaju deras, rem sudah pulih, tikungan tajam saya sikat satu per satu dengan percaya diri.

Dari ketinggian, sungai besar tampak membelah lembah. Menjelang Kecamatan Paga, di sebuah jembatan besi, terlihat sekelompok orang berkumpul, saya kira terjadi sesuatu, ternyata mereka adalah tim Satgana yang sedang melatih pemuda setempat menuruni jembatan dengan tali, mungkin karena daerah ini rawan bencana, latihan seperti ini harus terus dilakukan.

Sawah di kanan jalan mulai menguning sepertinya musim panen akan segera tiba, sengatan matahari dijalanan lurus di tepi pantai mengantar keringat bercucur deras, pondok-pondok penginapan mulai terlihat. Saya sempatkan masuk ke sebuah rumah kayu berlantai dua untuk mengecek ketersediaan kamar tapi katanya sudah penuh diisi oleh tamu hajatan di sekitar situ.

Perjalanan dilanjutkan ke tujuan utama: Pantai Koka. Saya pikir jaraknya tinggal sedikit tapi menurut warga, masih jauh dan ada dua tanjakan lagi, di Mauloo dan Wolowiro, saya hanya bisa menarik napas dan mengumpulkan tekad dan tenaga terakhir yang tersisa. 

Di sebuah pertigaan kecil, papan penunjuk arah menuju Koka Beach akhirnya terlihat, seorang bidan Puskesmas yang saya temui sebelumnya mengarahkan dengan motornya. 
Jalan beraspal sempit berubah menjadi kerikil lalu makadam, pannier sempat terantuk batu besar hingga hampir terlepas, dua portal dijaga anak-anak kecil tapi saya melaju saja tanpa ditanya, jelang matahari tenggelam tibalah di Koka Beach pantai cantik yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat layar HP, pemiliknya, Blasius Woda, menyambut ramah dan memastikan ada kamar kosong untuk saya.


Pannier di sepeda saya lepas untuk disimpan di pondokan yang hanya bisa dicapai dengan melewati kebun singkong. Kamarnya berukuran 3x4 meter, berdinding triplek, diisi dua kasur yang masing-masing berkelambu. Jambannya sederhana hanya ada ember plastik bekas cat sebagai penampung air, tak ada keran—jika air habis, harus ambil sendiri di bangunan utama.

Setelah semua barang aman, bibir pantai jadi tujuan, pasir putih menyambut dengan lembut. Langit jingga dihiasi awan berarak mengantar saya untuk mandi dengan shower sederhana di depan pondok. Di rumah utama makan malam telah disiapkan, menunya: nasi hangat, sayur kangkung, potongan ikan Red Snapper dengan sambal dan tomat segar, dilengkapi dessert irisan Mangga Arumanis—sederhana, tapi rasanya mewah.

Blasius tampak sedang bercengkrama dengan dua tamunya asal Belanda yang datang dari Ruteng dengan motor matic sewaan, setelah sedikit terlibat saya pamit duluan karena tubuh sudah minta diluruskan. Pukul 22.30 listrik dimatikan karena Genset berbahan bakar solar itu hanya menyala dari sore hingga jam tersebut. 


bike to pulau
Salah satu sudut di kota Maumere.

bike to pulau
Menjelang simpang tiga di daerah Nita.

bike to pulau
Menikmati kopi lokal menunggu hujan reda.

bike to pulau
Gambar yang diambil oleh 'teman kecil' dari atas motornya.


bike to pulau
Menikmati pemandangan yang jarang mereka temukan.

bike to pulau
Superhero di pedalaman Sikka.

bike to pulau
Memanfaatkan jalan yang sepi untuk berfoto ria.

bike to pulau
Salah satu penginapan di kecamatan Paga.

bike to pulau
Pertigaan sepi menuju pantai koka.

bike to pulau
Blasius Woda salah satu pemilik penginapan di pantai koka.

bike to pulau
Menu makan yang mengejutkan dan lezatnya minta ampun.

bike to pulau

bike to pulau

Labels: , , , , , , , , , , , ,

21.12.17

POLITIKUS SENAYAN.

bike to pulau

24 November 2017.
 
Pagi ini dimulai dengan hal sederhana: sepiring nasi kuning di warung depan asrama Polisi Boru. Sarapan itu membawa saya bertemu dengan seorang polisi asal Makassar yang sudah delapan tahun bertugas disini. "Flores lebih tenang dari Jawa," katanya sambil menyeruput kopi.

Menurutnya, kasus di pulau ini hanyalah soal Moke yang terlalu banyak ditenggak atau tanah yang diperebutkan oleh keluarga. Premanisme? pencurian? nyaris tak ada. Iapun menenangkan saya dengan satu pesan: "Berpetualanglah. Flores ramah bahkan bagi pelancong yang bepergian sendiri."

Setelah urusan di Boru tuntas, sepeda kembali saya kayuh menuju Maumere, kota yang berada di pesisir utara—jaraknya 79 km, tapi tak pernah hanya tentang angka. Belum jauh dari gerbang kota, terdengar suara aneh dari roda depan yang ternyata rotornya bersentuhan dengan kaliper rem membuat ban seret berputar dan menimbulkan bunyi, seperti keluhan kecil dari sepeda yang tengah lelah. 

Saya coba perbaiki semampunya, gagal, lalu saya hubungi Arsa, teman sepeda dari Bandung. Ia segera menyebarkan pesan itu ke komunitas petualang di medsos, berharap ada tangan-tangan lokal yang bisa membantu. Saya tahu, di pulau ini tak ada bengkel sepeda, suku cadang apalagi, tapi saya sudah siap mental—seperti panggung teater, pertunjukan harus terus berjalan.

Jalanan mulus namun terus menanjak, kelokan demi kelokan seperti ujian kesabaran, beberapa pohon tumbang terlihat di pinggir jalan—kata seorang warga, hujan beberapa hari lalu menggoyahkan akarnya. Flores tak sering hujan, tapi sekali hujan ia datang seperti tamu tak diundang, memindahkan pepohonan dan sesekali menggoyahkan bukit.

Di tengah panas terik, saya tiba di kampung yang tenang dan bersih, sebuah rumah tampak menjajakan hasil kebunnya: madu dan buah! Sebutir nanas pun terpilih lalu dikupas oleh penjualnya dan diberikan kepada saya dengan senyum tipis, rasanya menusuk—hingga saya minta nambah lagi. Pisang satu sisir saya bawa sebagai bekal.

Gapura yang melintang menjadi penanda: kini saya meninggalkan Kabupaten Flores Timur, memasuki Sikka. Jalan mulai landai dan menurun tapi pemandangan longsoran di pinggir jalan, khususnya dekat kampung Nebe memberi gambaran tentang kerasnya alam. Tampak para pekerja sibuk mengisi kawat bronjong dengan batu-batu besar memperbaiki jalur Trans Flores yang sempat terputus.

Jembatan besi menyambungkan lembah-lembah, sebagian dari mereka dibangun saat era Colombo Plan di tahun 1978, kolaborasi regional dari hasil Konferensi di Colombo, Sri Lanka, yang menekankan pengembangan sumber daya manusia sebagai denyut utama pembangunan.

Siang bergulir, mendung mulai menutupi langit dan hujan tiba-tiba turun, raincoat Eiger jadi penyelamat, namun tak lama matahari kembali muncul dan menyisakan pelangi di ufuk utara—seolah semesta memberi tepukan kecil di bahu saya.

Saat perut memanggil di daerah Talibura, saya teringat warung kecil yang pernah dimampiri beberapa hari lalu, tempat itu saya cari lagi dan akhirnya ketemu. Menu tak berubah: nasi merah, ikan goreng, dan sup dalam mangkuk terpisah. Isotonik dingin dari kulkas yang pertama menyejukkan kerongkongan yang kering. Robusta lokal jadi teman ngobrol dengan rombongan PNS dari dinas Bina Marga kabupaten, mereka baru pulang dari proyek perbaikan longsoran yang tadi. Kami bicara santai—tentang perjalanan, tentang Pilkada yang mulai memanas dan tentang gangguan politikus Senayan yang suka ikut campur urusan di lapangan. Candaan dan keluhan saling bersahut di antara seruput kopi.

Sehabis ngopi, sepeda kembali digowes. Maumere tinggal 40 km lagi. Tapi jarak pendek pun bisa jadi panjang bila udara pesisir terus membakar dan roda sepeda tak bekerja dengan semestinya. Saya terpaksa berhenti setiap 5 km—sekadar memberi jeda mengatur nafas dan menguatkan niat.

Di tengah alunan kayuhan, sebuah panggilan masuk melalui HP yang ternyata dari staf SOS Children’s Village Flores—dimana saya berjanji akan mampir jika saya di Maumere, mereka menawarkan pondokannya yang hangat di Waturia, 14 km arah utara dari Maumere. 

Sebelumnya memang saya berencana mampir tapi melihat kondisi sepeda dan waktu yang semakin sore, saya berjanji akan memberi kepastian setibanya nanti di Maumere. Organisasi yang mereka wakili bukan sembarangan. SOS Children’s Villages adalah jantung yang berdenyut untuk anak-anak yang kehilangan pengasuhan. Mereka bukan hanya memberi tempat tinggal, tapi menghadirkan keluarga baru yang penuh kasih. 

Semua berawal dari Hermann Gmeiner—mahasiswa kedokteran di Austria yang tergugah hatinya oleh getir Perang Dunia II. Ia mendirikan desa-desa untuk anak-anak, dan semangat itu menyeberang hingga ke Indonesia.
Di negeri ini, kiprah SOS dimulai sejak 1972 di Lembang berkat Bapak Agus Prawoto, seorang tentara Indonesia yang tengah bertugas di Austria. Kemudian menyusul di Cibubur, Semarang dan Tabanan. Desa-desa baru di Flores dan Aceh lahir sebagai jawaban atas bencana. Kini, SOS Children’s Villages tersebar di 8 titik dari Banda Aceh hingga ujung timur Flores.



Melintasi pesisir Maumere, saya disambut deretan pohon kelapa dan kilauan laut biru. Resort-resort kecil berdiri cantik, menawarkan petualangan bawah laut yang memesona. Perahu wisata siap membawa siapa saja yang ingin menjelajahi pesona perairan. Di balik wisata baharinya, Maumere juga menyimpan kekayaan budaya: kampung kreatif pengrajin Tenun Ikat yang motifnya sudah terbang hingga mancanegara.


Sepeda terus dikayuh meski terasa berat. Saat melewati pasar tradisional, dari kejauhan sebuah mobil meneriakkan, “Hidup Persib kang...!!” Baru sadar, saya sedang mengenakan jersey Persib bernomor 20—sebuah penghormatan kecil untuk Billy Keraf, striker muda yang berasal dari daerah sini, momen sederhana tapi bikin hati hangat.

Menjelang magrib, dalam pelukan senja yang lembut, barulah saya memasuki kota Maumere. Kondisi sepeda sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan ke Waturia, maka dengan berat hati saya batalkan niat itu, segera saya kabari Pak Hadi di Bandung dan juga Pak Rozy serta Ibu Agustina dari SOS Flores, mengutarakan permohonan maaf dan berterima kasih atas sambutan hangat mereka semoga di lain waktu roda-roda ini bisa benar-benar sampai disana.

Saya lalu menghubungi Yayan, teman lama di Maumere, untuk minta rekomendasi tempat bermalam. Setelah menyambangi tiga lokasi, pilihan jatuh pada Hotel Permata Sari. Letaknya strategis, tepat di belakang pantai Maumere dan tarifnya ramah dompet: 160 ribu semalam sudah termasuk AC dan sarapan.

Saat tubuh rebah, kabar dari rumah mengguncang: Gunung Agung di Bali meletus setelah berminggu-minggu berstatus waspada, abu hitam menari hingga ketinggian 3.000 meter katanya. Semoga semuanya cepat reda, sebab Bali adalah gerbang wisata Indonesia Timur, kalau ia tertutup, dampaknya akan mengalir panjang—mulai dari turis hingga penghidupan warga.

Etappe hari ini dari Boru ke Maumere saya tutup di angka 75 kilometer dan di setiap kilometer itu ada potongan cerita yang membuat perjalanan ini terasa begitu hidup.


Gedung kantor koperasi Hokeng tempat menginap di Boru sebelum melanjutkan perjalanan ke Maumere.

Batang pohon tumbang tampak sudah dirapikan oleh penduduk,

Tugu perbatasan antara Kab, Flores Timur dan Kab Sikka.

Area longsor tampak sedang diperbaiki oleh pekerja di daerah Nebe.

bike to pulau
Jembatan Nebe yang dibangun dari hasil  program Colombo Plan. 

Sebuah warung sederhana di Talibura tempat saya mengisi perut. 


Pesisir pantai Maumere timur.

Labels: , , , , , , , , , , , ,

18.12.17

HALO MISTER..!!



23 November 2017. 
  
Pagi di Larantuka disapa oleh aroma Nasi Goreng dan secangkir kopi lokal yang mengepul lembut di meja depan kamar. Sarapan sederhana itu terasa seperti upacara kecil sebelum roda berputar untuk menyusuri 142 kilometer menuju Maumere.

Saatnya berangkat, Doa pun dipanjatkan, lalu pedal digerakkan membelah pagi bersuhu 26 derajat. Anak-anak berseragam berlarian menuju sekolah, ada yang berjalan kaki, ada yang terhimpit di dalam angkot yang bassnya menggelegar dari sistem audionya. Konon, tanpa bunyi dentuman bass, penumpang enggan menaikinya, karena itu ada sopir yang rela merogoh koceknya hingga 15 juta hanya untuk tata suara yang bisa menggoda telinga.

Saat melewati kawasan niaga Larantuka, waktu seolah melambat. Bangunan-bangunan tua dua lantai berdiri tenang, fasad kayu dan besi tuanya mengingatkan pada era yang pelan-pelan ditinggalkan kota-kota di Jawa. Matahari mulai menghangatkan punggung, sementara bekal minuman sudah aman tersimpan untuk melawan teriknya pantai selatan. Di pesisir, tugu selamat datang dan patung rohani menyambut, lalu pasar ikan yang ramai jadi latar perjalanan ini.

Jalan mulai merayap naik, namun pohon kelapa di kiri-kanan memberi teduh yang membujuk langkah untuk tetap ringan. Semakin tinggi, vegetasi mulai berubah—kelapa berganti jambu mete dan mangga yang sedang ranum, lalu muncul pepohonan kemiri, menandai jalur yang semakin menantang. Di sebuah titik, peluh yang mengucur membawa jeda, sebuah mangga segar tergeletak di samping pohonnya, hadiah alam yang langsung saya santap.

Di tengah gigitan, seorang warga—berparang panjang dengan seikat kayu bakar di pundak, menyapa. Ia tampak heran melihat saya mengayuh sendirian, namun setelah tahu saya membawa peralatan lengkap, ia tersenyum dan mengisyaratkan kenyamanan: “Flores ramah bagi siapa pun. Kalau kemalaman, ketuk saja rumah warga, pasti disambut—dan mungkin diberi makan seadanya.” Ujarnya, sebelum kembali berangkat, ia menyelinap dan membawa beberapa mangga matang dari rumahnya.

Di dusun Bere Yawa Bama, saya menemukan warung kecil dengan toilet sederhana. Sekalian saja belanja: seikat gula aren saya simpan di frame bag sebagai penambah tenaga. Sang pemiliknya, perempuan asal Sleman Yogya, bercerita sudah sembilan tahun tinggal disini mengikuti suaminya yang asli Larantuka

Jalan yang terus menanjak dan kadang berkelok tajam, membuat pedal mulai terasa berat. Beberapa, membentuk tikungan hairpin yang menuntut kesabaran, hingga sampailah saya di puncak pendakian Lowolaga, nama yang terdengar seperti puisi alam itu menyuguhkan bentang laut biru dan siluet Pulau Solor di kejauhan, tempat ini menjadi titik rehat favorit bagi para pengelana jalan raya.

Segelas air isotonik dingin dari warung setempat langsung tandas—rasanya seperti hadiah kecil dari semesta. Tak jauh dari sana, tampak Pulau Konga, mungil dan bersahaja, di pulau itulah mutiara ditanam, dipanen dan diberi harapan. Pengusaha Jepang bersama warga lokal menjadikannya sebagai salah satu ladang mutiara terbesar di Flores Timur.



Waktu terus berlari. Sepeda meluncur turun, jalan berkelok lalu mendaki lagi, berulang, di daerah Pagong saya bertemu rombongan pelajar SMP yang baru saja pulang sehabis menjalani ujian semesternya. Wajah mereka penuh cerita dan semangat muda, saya sempat berbincang sejenak dan mengabadikan momen tersebut bersama sepeda kesayangan: si hitam manis, “Idi Amin”.

Jelang siang gerimis menyambut di Kampung Wolo, membuat saya melipir ke sebuah gubuk tanpa dinding beratapkan daun kelapa yang ternyata tempat berjualan Moke atau Tuak. Minuman lokal beralkohol itu adalah hasil sulingan buah Siwalan dari pohon Lontar diproses dengan cara tradisional menggunakan periuk tanah. Moke bukan sekadar minuman—ia adalah simbol adat, pengikat persaudaraan, pengantar doa dalam pesta pernikahan dan perjamuan akhir pekan.

Setelah hujan reda, perjalanan berlanjut, karena sudah lapar saya mencari warung dan menemukannya tak jauh dari tempat berteduh tadi. Menunya sederhana—ikan laut goreng dengan sup hangat, tak mewah yang penting cukup untuk mengisi kebutuhan karbo. Obrolannya dengan ibu sang pemilik warung membuka cerita juga—iapun berasal dari Jawa Tengah, Purworejo. Cerita cinta melintasi pulau dan membangun kehidupan di ujung timur negeri.

Di pertigaan Nobo saya berhenti sejenak melihat peta yang setia menemani. Maumere masih jauh. Saat sedang menghitung jarak, teriakan dari seorang perempuan muda mengejutkan saya, “Halo Mister… mau kemana… ngopi dulu…!?” mungkin karena sepeda saya menggendong tas di kiri dan kanannya, membuat mereka menyangka saya turis asing.

Saya putar arah. Warung sederhana itu menyambut dengan secangkir kopi tumbuk panas. Sang bapak, asal Waingapu pulau Sumba, menemani saya diteras sambil bercerita tentang hasil kebun kemiri dan buah-buahannya, ia sempat menawarkan tempat untuk menginap mungkin khawatir saya kemalaman, tapi dengan sopan saya tolak—hari masih cukup panjang untuk dikayuh. Angka di computer Cateye 

Velo 8 menunjukkan 50 km, baru separuh jalan dari rencana awal. Di turunan daerah Perkebunan Kopi Hokeng saat sore menjelang, terlihat ada bangunan megah: Gereja Santa Maria. 

Sayapun bertanya pada seorang Romo dan wanita yang tengah menunggu angkutan umum dan mengaku pernah tinggal di Sukajadi, Bandung, barangkali ada tempat untuk saya menumpang tidur malam itu, namun mereka menyarankan saya ke Gereja lain saja di daerah Boru.

Saat di Boru, hal tersebut saya tanyakan ke supir angkutan yang sedang ngetem, mereka malah memberikan alternatif terdekat untuk bisa menginap: sebuah wisma milik Koperasi Kredit Remaja Hokeng. 

Setelah ketemu, bangunannya kontras dengan lingkungan sekitar, besar dan kokoh. Disana saya bertemu pria asal Kudus yang juga akan menginap. Dua kamar tersedia—150 ribu per malam lengkap dengan kamar mandi dan spring bed. AC absen, karena udara di pegunungan Lewotobi itu memang tak butuh alat pendingin tambahan.

Saat malam datang listrik padam, masalah klasik pulau ini muncul lagi, untungnya saya membawa senter kecil yang menjadi penyelamat, dengan senter tersebut saya berhasil membawa perut yang sudah keroncongan ke sebuah Warung Padang untuk nasi putih, sambal hijau, telur dadar dan kuah hangat. Makan malam yang sederhana itu  berhasil membungkam lelah dan lapar sekaligus.

angkutan kota
Angkot sebagai transportasi warga, biasanya dilengkapi car audio yang canggih.

Salah satu sudut di pantai barat Larantuka.

Warung yang menyediakan keperluan warga, sempat membeli gula aren untuk bekal diperjalanan.

bike to pulau
Pulau Konga.

Anak-anak SMP yang baru pulang sekolah di Demon Pagong.

Salah satu tempat penjualan Sopi atau Moke. Minuman tersebut dijual dengan botol kemasan air mineral.

bike to pulau
Dengan kostum Persib bernomor 20 bernama Billy (keraf) yang berasal dari daerah ini.

Menjelang Boru.


larantuka - boru


flores

Labels: , , , , , , , , , ,