25.12.17

MASTER TENUN IKAT.


bike to pulau


25 November 2017.
 
Mentari hangat menggeliat di ufuk timur, segelas kopi di meja kayu yang menghadap laut lepas jadi pembuka pagi saya di Maumere. Kota itu mulai sibuk, berbeda dari kedatangan kemarin sore—kini jalanan dipenuhi suara mesin dan semangat pagi.

Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka, dihuni sekitar 60 ribu jiwa, kota ini mengekspor Kopra, Pisang, Kemiri, Kakao—dan satu warisan budaya yang mendunia: Tenun Ikat Flores. Kota ini pernah porak-poranda oleh Tsunami di tahun 1992 dan pernah pula disapa oleh Sri Paus Yohanes Paulus II di tahun 1989—menjadikannya kota terkecil di dunia yang pernah dikunjungi beliau.

Sepeda saya keluarkan dari kamar untuk berkeliling kota sambil berharap menemukan komunitas atau bengkel yang bisa membantu masalah pada rem depan. Harapan ini sedikit spekulasi, mengingat kabar bahwa di Pulau Flores toko atau bengkel sepeda hampir tak ada. Tapi seperti banyak hal dalam perjalanan—kadang keajaiban muncul di tikungan. Di sebuah sudut jalan, saya menemukan toko sederhana yang menjual sepeda anak-anak, bersanding dengan rak-rak berisi barang kebutuhan sehari-hari.

Saya temui pemilik toko dan menyampaikan keluhan lalu ia menyebutkan satu nama di Kampung Masjid yang mungkin bisa membantu. Saya melaju ke sana dan menunggu di rumah si mekanik yang letaknya di pinggir pantai, tak lama lelaki tua yang ramah datang itu datang, ia pun memeriksa sepeda lalu berkata jujur, “Rem ini saya belum ngerti, coba saja ke bengkel motor.”

Saya pun faham dan pamit. Niat mencari bengkel malah membawa saya ke Warung Makan Jawa yang sedang ramai, sebungkus nasi campur saya bawa pulang dan memakannya di kamar sambil menata ulang perlengkapan untuk menuju destinasi selanjutnya: Pantai Koka di Kecamatan Paga, berjarak 60 km dari sini.

Sebelum pergi, rasa penasaran mendorong saya untuk membongkar dan memasang ulang lagi ban depan. Beberapa kali dicoba dan akhirnya membaik, Alhamdulillah... Sepeda kembali pulih!

Melihat ada toko ban modern saya sempatkan singgah, tujuannya: mengganti angin ban dengan Nitrogen. Tapi pegawai menolak, katanya untuk ban sepeda mesinnya suka error.. Padahal pentilnya sama saja, jawabannya mirip dengan yang saya dapat di Larantuka beberapa hari lalu. Akhirnya, ban diisi angin biasa saja. Tak apa.

Keluar dari Maumere, tanjakan menuju Nita menanti, keloknya panjang namun bersahabat, persis seperti petunjuk di manual book hasil adaptasi dari Google. Perjalanan ini seperti membelah pulau—dari pantai utara ke selatan melewati pegunungan berselimut tanaman Kakao, Kemiri, dan palawija.

Di sebuah warung kecil diujung pendakian, saya berhenti untuk menikmati minuman dingin dari kulkas dan mendengarkan cerita dari si ibu pemilik warung yang pernah ikut rombongan sanggar Lepo Lerun ke pameran Tenun Ikat di Jakarta, Yogya, dan Surabaya. “Ke Bandung belum... pengen banget, katanya makanannya enak-enak,” ujarnya sambil tersenyum.

Selepas Nita jalan mulai datar—menurun lalu mendaki kembali di Bloro, buah-buahan lokal seperti Nanas, Mangga dan Pisang dijajakan di pinggir jalan, saya beli beberapa untuk bekal biar tubuh tetap terisi energi.

Langit mulai kelabu saat di daerah Wulang Lela, sebuah bengkel tambal ban jadi tempat berteduh ketika hujan mulai turun, segelas kopi susu dari warung seberang mengisi suasana di siang itu, berbincang dengan sang pemilik tentang banyak hal hingga hujan reda untuk kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Jalan basah membuat udara menjadi lebih segar. Di tengah perjalanan sepasang anak SMP naik motor menegur “Dari mana, mau ke mana? Boleh coba sepedanya?” katanya penuh antusias, saya jawab sekenanya saja lalu mereka berbincang dengan bahasa lokal yang saya tak paham.

Setelah yakin mereka anak-anak baik, saya titipkan kamera GoPro yang tersampir di tas depan. “Ambilkan gambar saat saya melaju ya,” pinta saya, mereka mengangguk riang. Tak lama, kami tiba di pasar tradisional di tepi jembatan daerah Nangablo, ada warung kecil—perut saya sudah mengetuk minta diisi. Saya ajak juga mereka untuk makan siang bareng tapi dengan sopan mereka menolak. Sayapun membiarkan mereka melanjutkan hari.

Saat mulai menyuap, sepeda diparkiran dikerubungi anak-anak, wajah-wajah mereka menyiratkan takjub, mungkin sepeda dengan tas besar di kiri-kanan belum lazim berhenti di sini, hanya para pembalap Tour de Flores saja yang melintas, itupun cepat tanpa sempat menyapa.

Matahari mulai tinggi. Setelah mengambil gambar anak-anak di pedalaman Sikka itu, perjalanan saya lanjutkan. Selepas kampung, tanjakan menjulang curam, tapi setelah 4 km jalan mendadak menurun, rupanya itu puncak pendakian pertama. Sepeda melaju deras, rem sudah pulih, tikungan tajam saya sikat satu per satu dengan percaya diri.

Dari ketinggian, sungai besar tampak membelah lembah. Menjelang Kecamatan Paga, di sebuah jembatan besi, terlihat sekelompok orang berkumpul, saya kira terjadi sesuatu, ternyata mereka adalah tim Satgana yang sedang melatih pemuda setempat menuruni jembatan dengan tali, mungkin karena daerah ini rawan bencana, latihan seperti ini harus terus dilakukan.

Sawah di kanan jalan mulai menguning sepertinya musim panen akan segera tiba, sengatan matahari dijalanan lurus di tepi pantai mengantar keringat bercucur deras, pondok-pondok penginapan mulai terlihat. Saya sempatkan masuk ke sebuah rumah kayu berlantai dua untuk mengecek ketersediaan kamar tapi katanya sudah penuh diisi oleh tamu hajatan di sekitar situ.

Perjalanan dilanjutkan ke tujuan utama: Pantai Koka. Saya pikir jaraknya tinggal sedikit tapi menurut warga, masih jauh dan ada dua tanjakan lagi, di Mauloo dan Wolowiro, saya hanya bisa menarik napas dan mengumpulkan tekad dan tenaga terakhir yang tersisa. 

Di sebuah pertigaan kecil, papan penunjuk arah menuju Koka Beach akhirnya terlihat, seorang bidan Puskesmas yang saya temui sebelumnya mengarahkan dengan motornya. 
Jalan beraspal sempit berubah menjadi kerikil lalu makadam, pannier sempat terantuk batu besar hingga hampir terlepas, dua portal dijaga anak-anak kecil tapi saya melaju saja tanpa ditanya, jelang matahari tenggelam tibalah di Koka Beach pantai cantik yang selama ini hanya bisa saya lihat lewat layar HP, pemiliknya, Blasius Woda, menyambut ramah dan memastikan ada kamar kosong untuk saya.


Pannier di sepeda saya lepas untuk disimpan di pondokan yang hanya bisa dicapai dengan melewati kebun singkong. Kamarnya berukuran 3x4 meter, berdinding triplek, diisi dua kasur yang masing-masing berkelambu. Jambannya sederhana hanya ada ember plastik bekas cat sebagai penampung air, tak ada keran—jika air habis, harus ambil sendiri di bangunan utama.

Setelah semua barang aman, bibir pantai jadi tujuan, pasir putih menyambut dengan lembut. Langit jingga dihiasi awan berarak mengantar saya untuk mandi dengan shower sederhana di depan pondok. Di rumah utama makan malam telah disiapkan, menunya: nasi hangat, sayur kangkung, potongan ikan Red Snapper dengan sambal dan tomat segar, dilengkapi dessert irisan Mangga Arumanis—sederhana, tapi rasanya mewah.

Blasius tampak sedang bercengkrama dengan dua tamunya asal Belanda yang datang dari Ruteng dengan motor matic sewaan, setelah sedikit terlibat saya pamit duluan karena tubuh sudah minta diluruskan. Pukul 22.30 listrik dimatikan karena Genset berbahan bakar solar itu hanya menyala dari sore hingga jam tersebut. 


bike to pulau
Salah satu sudut di kota Maumere.

bike to pulau
Menjelang simpang tiga di daerah Nita.

bike to pulau
Menikmati kopi lokal menunggu hujan reda.

bike to pulau
Gambar yang diambil oleh 'teman kecil' dari atas motornya.


bike to pulau
Menikmati pemandangan yang jarang mereka temukan.

bike to pulau
Superhero di pedalaman Sikka.

bike to pulau
Memanfaatkan jalan yang sepi untuk berfoto ria.

bike to pulau
Salah satu penginapan di kecamatan Paga.

bike to pulau
Pertigaan sepi menuju pantai koka.

bike to pulau
Blasius Woda salah satu pemilik penginapan di pantai koka.

bike to pulau
Menu makan yang mengejutkan dan lezatnya minta ampun.

bike to pulau

bike to pulau

Labels: , , , , , , , , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home