18.12.17

HALO MISTER..!!



23 November 2017. 
  
Pagi di Larantuka disapa oleh aroma Nasi Goreng dan secangkir kopi lokal yang mengepul lembut di meja depan kamar. Sarapan sederhana itu terasa seperti upacara kecil sebelum roda berputar untuk menyusuri 142 kilometer menuju Maumere.

Saatnya berangkat, Doa pun dipanjatkan, lalu pedal digerakkan membelah pagi bersuhu 26 derajat. Anak-anak berseragam berlarian menuju sekolah, ada yang berjalan kaki, ada yang terhimpit di dalam angkot yang bassnya menggelegar dari sistem audionya. Konon, tanpa bunyi dentuman bass, penumpang enggan menaikinya, karena itu ada sopir yang rela merogoh koceknya hingga 15 juta hanya untuk tata suara yang bisa menggoda telinga.

Saat melewati kawasan niaga Larantuka, waktu seolah melambat. Bangunan-bangunan tua dua lantai berdiri tenang, fasad kayu dan besi tuanya mengingatkan pada era yang pelan-pelan ditinggalkan kota-kota di Jawa. Matahari mulai menghangatkan punggung, sementara bekal minuman sudah aman tersimpan untuk melawan teriknya pantai selatan. Di pesisir, tugu selamat datang dan patung rohani menyambut, lalu pasar ikan yang ramai jadi latar perjalanan ini.

Jalan mulai merayap naik, namun pohon kelapa di kiri-kanan memberi teduh yang membujuk langkah untuk tetap ringan. Semakin tinggi, vegetasi mulai berubah—kelapa berganti jambu mete dan mangga yang sedang ranum, lalu muncul pepohonan kemiri, menandai jalur yang semakin menantang. Di sebuah titik, peluh yang mengucur membawa jeda, sebuah mangga segar tergeletak di samping pohonnya, hadiah alam yang langsung saya santap.

Di tengah gigitan, seorang warga—berparang panjang dengan seikat kayu bakar di pundak, menyapa. Ia tampak heran melihat saya mengayuh sendirian, namun setelah tahu saya membawa peralatan lengkap, ia tersenyum dan mengisyaratkan kenyamanan: “Flores ramah bagi siapa pun. Kalau kemalaman, ketuk saja rumah warga, pasti disambut—dan mungkin diberi makan seadanya.” Ujarnya, sebelum kembali berangkat, ia menyelinap dan membawa beberapa mangga matang dari rumahnya.

Di dusun Bere Yawa Bama, saya menemukan warung kecil dengan toilet sederhana. Sekalian saja belanja: seikat gula aren saya simpan di frame bag sebagai penambah tenaga. Sang pemiliknya, perempuan asal Sleman Yogya, bercerita sudah sembilan tahun tinggal disini mengikuti suaminya yang asli Larantuka

Jalan yang terus menanjak dan kadang berkelok tajam, membuat pedal mulai terasa berat. Beberapa, membentuk tikungan hairpin yang menuntut kesabaran, hingga sampailah saya di puncak pendakian Lowolaga, nama yang terdengar seperti puisi alam itu menyuguhkan bentang laut biru dan siluet Pulau Solor di kejauhan, tempat ini menjadi titik rehat favorit bagi para pengelana jalan raya.

Segelas air isotonik dingin dari warung setempat langsung tandas—rasanya seperti hadiah kecil dari semesta. Tak jauh dari sana, tampak Pulau Konga, mungil dan bersahaja, di pulau itulah mutiara ditanam, dipanen dan diberi harapan. Pengusaha Jepang bersama warga lokal menjadikannya sebagai salah satu ladang mutiara terbesar di Flores Timur.



Waktu terus berlari. Sepeda meluncur turun, jalan berkelok lalu mendaki lagi, berulang, di daerah Pagong saya bertemu rombongan pelajar SMP yang baru saja pulang sehabis menjalani ujian semesternya. Wajah mereka penuh cerita dan semangat muda, saya sempat berbincang sejenak dan mengabadikan momen tersebut bersama sepeda kesayangan: si hitam manis, “Idi Amin”.

Jelang siang gerimis menyambut di Kampung Wolo, membuat saya melipir ke sebuah gubuk tanpa dinding beratapkan daun kelapa yang ternyata tempat berjualan Moke atau Tuak. Minuman lokal beralkohol itu adalah hasil sulingan buah Siwalan dari pohon Lontar diproses dengan cara tradisional menggunakan periuk tanah. Moke bukan sekadar minuman—ia adalah simbol adat, pengikat persaudaraan, pengantar doa dalam pesta pernikahan dan perjamuan akhir pekan.

Setelah hujan reda, perjalanan berlanjut, karena sudah lapar saya mencari warung dan menemukannya tak jauh dari tempat berteduh tadi. Menunya sederhana—ikan laut goreng dengan sup hangat, tak mewah yang penting cukup untuk mengisi kebutuhan karbo. Obrolannya dengan ibu sang pemilik warung membuka cerita juga—iapun berasal dari Jawa Tengah, Purworejo. Cerita cinta melintasi pulau dan membangun kehidupan di ujung timur negeri.

Di pertigaan Nobo saya berhenti sejenak melihat peta yang setia menemani. Maumere masih jauh. Saat sedang menghitung jarak, teriakan dari seorang perempuan muda mengejutkan saya, “Halo Mister… mau kemana… ngopi dulu…!?” mungkin karena sepeda saya menggendong tas di kiri dan kanannya, membuat mereka menyangka saya turis asing.

Saya putar arah. Warung sederhana itu menyambut dengan secangkir kopi tumbuk panas. Sang bapak, asal Waingapu pulau Sumba, menemani saya diteras sambil bercerita tentang hasil kebun kemiri dan buah-buahannya, ia sempat menawarkan tempat untuk menginap mungkin khawatir saya kemalaman, tapi dengan sopan saya tolak—hari masih cukup panjang untuk dikayuh. Angka di computer Cateye 

Velo 8 menunjukkan 50 km, baru separuh jalan dari rencana awal. Di turunan daerah Perkebunan Kopi Hokeng saat sore menjelang, terlihat ada bangunan megah: Gereja Santa Maria. 

Sayapun bertanya pada seorang Romo dan wanita yang tengah menunggu angkutan umum dan mengaku pernah tinggal di Sukajadi, Bandung, barangkali ada tempat untuk saya menumpang tidur malam itu, namun mereka menyarankan saya ke Gereja lain saja di daerah Boru.

Saat di Boru, hal tersebut saya tanyakan ke supir angkutan yang sedang ngetem, mereka malah memberikan alternatif terdekat untuk bisa menginap: sebuah wisma milik Koperasi Kredit Remaja Hokeng. 

Setelah ketemu, bangunannya kontras dengan lingkungan sekitar, besar dan kokoh. Disana saya bertemu pria asal Kudus yang juga akan menginap. Dua kamar tersedia—150 ribu per malam lengkap dengan kamar mandi dan spring bed. AC absen, karena udara di pegunungan Lewotobi itu memang tak butuh alat pendingin tambahan.

Saat malam datang listrik padam, masalah klasik pulau ini muncul lagi, untungnya saya membawa senter kecil yang menjadi penyelamat, dengan senter tersebut saya berhasil membawa perut yang sudah keroncongan ke sebuah Warung Padang untuk nasi putih, sambal hijau, telur dadar dan kuah hangat. Makan malam yang sederhana itu  berhasil membungkam lelah dan lapar sekaligus.

angkutan kota
Angkot sebagai transportasi warga, biasanya dilengkapi car audio yang canggih.

Salah satu sudut di pantai barat Larantuka.

Warung yang menyediakan keperluan warga, sempat membeli gula aren untuk bekal diperjalanan.

bike to pulau
Pulau Konga.

Anak-anak SMP yang baru pulang sekolah di Demon Pagong.

Salah satu tempat penjualan Sopi atau Moke. Minuman tersebut dijual dengan botol kemasan air mineral.

bike to pulau
Dengan kostum Persib bernomor 20 bernama Billy (keraf) yang berasal dari daerah ini.

Menjelang Boru.


larantuka - boru


flores

Labels: , , , , , , , , , ,

2 Comments:

At 08 February, 2022 , Blogger Unknown said...

wah..mantap kisahnya. terima kasih ya sudah mengunjungi daerah saya, kampung halaman saya.

 
At 11 June, 2023 , Blogger veloforfun said...

Sama2 mas, flores pulau yg indah..

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home