23 November 2017. Pagi di Larantuka disapa oleh aroma
Nasi Goreng dan secangkir kopi lokal yang mengepul lembut di meja depan
kamar. Sarapan sederhana itu terasa seperti upacara kecil sebelum roda
berputar untuk menyusuri 142 kilometer menuju Maumere.
Saatnya berangkat, Doa pun
dipanjatkan, lalu pedal digerakkan membelah pagi bersuhu 26 derajat. Anak-anak
berseragam berlarian menuju sekolah, ada yang berjalan kaki, ada yang terhimpit
di dalam angkot yang bassnya menggelegar dari sistem audionya. Konon,
tanpa bunyi dentuman bass, penumpang enggan menaikinya, karena itu ada sopir
yang rela merogoh koceknya hingga 15 juta hanya untuk tata suara yang bisa menggoda
telinga.
Saat melewati kawasan niaga Larantuka, waktu
seolah melambat. Bangunan-bangunan tua dua lantai berdiri tenang, fasad kayu
dan besi tuanya mengingatkan pada era yang pelan-pelan ditinggalkan kota-kota
di Jawa. Matahari mulai menghangatkan punggung, sementara bekal minuman sudah
aman tersimpan untuk melawan teriknya pantai selatan. Di pesisir, tugu selamat
datang dan patung rohani menyambut, lalu pasar ikan yang ramai jadi latar
perjalanan ini.
Jalan mulai merayap naik, namun pohon kelapa di
kiri-kanan memberi teduh yang membujuk langkah untuk tetap ringan. Semakin
tinggi, vegetasi mulai berubah—kelapa berganti jambu mete dan mangga yang
sedang ranum, lalu muncul pepohonan kemiri, menandai jalur yang semakin
menantang. Di sebuah titik, peluh yang mengucur membawa jeda, sebuah
mangga segar tergeletak di samping pohonnya, hadiah alam yang langsung saya
santap.
Di tengah gigitan, seorang warga—berparang panjang
dengan seikat kayu bakar di pundak, menyapa. Ia tampak heran melihat saya
mengayuh sendirian, namun setelah tahu saya membawa peralatan lengkap, ia
tersenyum dan mengisyaratkan kenyamanan: “Flores ramah bagi siapa pun. Kalau
kemalaman, ketuk saja rumah warga, pasti disambut—dan mungkin diberi makan
seadanya.” Ujarnya, sebelum kembali berangkat, ia menyelinap dan membawa
beberapa mangga matang dari rumahnya.
Di dusun Bere Yawa Bama, saya menemukan warung
kecil dengan toilet sederhana. Sekalian saja belanja: seikat gula aren saya
simpan di frame bag sebagai penambah tenaga. Sang pemiliknya, perempuan asal
Sleman Yogya, bercerita sudah sembilan tahun tinggal disini mengikuti suaminya yang
asli Larantuka
Jalan yang terus menanjak dan kadang berkelok tajam,
membuat pedal mulai terasa berat. Beberapa, membentuk tikungan hairpin yang
menuntut kesabaran, hingga sampailah saya di puncak pendakian Lowolaga, nama
yang terdengar seperti puisi alam itu menyuguhkan bentang laut biru dan siluet
Pulau Solor di kejauhan, tempat ini menjadi titik rehat favorit bagi para
pengelana jalan raya.
Segelas air isotonik dingin dari warung setempat
langsung tandas—rasanya seperti hadiah kecil dari semesta. Tak jauh dari sana,
tampak Pulau Konga, mungil dan bersahaja, di pulau itulah mutiara ditanam,
dipanen dan diberi harapan. Pengusaha Jepang bersama warga lokal menjadikannya
sebagai salah satu ladang mutiara terbesar di Flores Timur.
Waktu terus berlari. Sepeda meluncur turun, jalan
berkelok lalu mendaki lagi, berulang, di daerah Pagong saya bertemu rombongan
pelajar SMP yang baru saja pulang sehabis menjalani ujian semesternya. Wajah
mereka penuh cerita dan semangat muda, saya sempat berbincang sejenak dan
mengabadikan momen tersebut bersama sepeda kesayangan: si hitam manis, “Idi
Amin”.
Jelang siang gerimis menyambut di Kampung Wolo,
membuat saya melipir ke sebuah gubuk tanpa dinding beratapkan daun kelapa yang
ternyata tempat berjualan Moke atau Tuak. Minuman lokal beralkohol itu adalah hasil
sulingan buah Siwalan dari pohon Lontar diproses dengan cara tradisional
menggunakan periuk tanah. Moke bukan sekadar minuman—ia adalah simbol
adat, pengikat persaudaraan, pengantar doa dalam pesta pernikahan dan perjamuan
akhir pekan.
Setelah hujan reda, perjalanan berlanjut, karena
sudah lapar saya mencari warung dan menemukannya tak jauh dari tempat berteduh
tadi. Menunya sederhana—ikan laut goreng dengan sup hangat, tak mewah yang
penting cukup untuk mengisi kebutuhan karbo. Obrolannya dengan ibu sang pemilik
warung membuka cerita juga—iapun berasal dari Jawa Tengah, Purworejo.
Cerita cinta melintasi pulau dan membangun kehidupan di ujung timur negeri.
Di pertigaan Nobo saya berhenti sejenak melihat
peta yang setia menemani. Maumere masih jauh. Saat sedang menghitung
jarak, teriakan dari seorang perempuan muda mengejutkan saya, “Halo Mister… mau
kemana… ngopi dulu…!?” mungkin karena sepeda saya menggendong tas di kiri dan
kanannya, membuat mereka menyangka saya turis asing.
Saya putar arah. Warung sederhana itu menyambut
dengan secangkir kopi tumbuk panas. Sang bapak, asal Waingapu pulau Sumba, menemani
saya diteras sambil bercerita tentang hasil kebun kemiri dan buah-buahannya, ia
sempat menawarkan tempat untuk menginap mungkin khawatir saya kemalaman, tapi
dengan sopan saya tolak—hari masih cukup panjang untuk dikayuh.
Angka di computer Cateye Velo 8 menunjukkan 50 km,
baru separuh jalan dari rencana awal. Di turunan daerah Perkebunan Kopi Hokeng
saat sore menjelang, terlihat ada bangunan megah: Gereja Santa Maria.
Sayapun bertanya pada seorang Romo dan wanita yang
tengah menunggu angkutan umum dan mengaku pernah tinggal di Sukajadi, Bandung,
barangkali ada tempat untuk saya menumpang tidur malam itu, namun mereka
menyarankan saya ke Gereja lain saja di daerah Boru.
Saat di Boru, hal tersebut saya tanyakan ke supir
angkutan yang sedang ngetem, mereka malah memberikan alternatif terdekat untuk bisa
menginap: sebuah wisma milik Koperasi Kredit Remaja Hokeng.
Setelah ketemu, bangunannya kontras dengan
lingkungan sekitar, besar dan kokoh. Disana saya bertemu pria asal Kudus yang
juga akan menginap. Dua kamar tersedia—150 ribu per malam lengkap dengan
kamar mandi dan spring bed. AC absen, karena udara di pegunungan Lewotobi itu memang
tak butuh alat pendingin tambahan.
Saat malam datang listrik padam, masalah klasik
pulau ini muncul lagi, untungnya saya membawa senter kecil yang menjadi
penyelamat, dengan senter tersebut saya berhasil membawa perut yang sudah
keroncongan ke sebuah Warung Padang untuk nasi putih, sambal hijau, telur
dadar dan kuah hangat. Makan malam yang sederhana itu berhasil membungkam lelah dan
lapar sekaligus.
|
2 Comments:
wah..mantap kisahnya. terima kasih ya sudah mengunjungi daerah saya, kampung halaman saya.
Sama2 mas, flores pulau yg indah..
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home