POLITIKUS SENAYAN.
24 November 2017.
Pagi ini dimulai dengan hal sederhana:
sepiring nasi kuning di warung depan asrama Polisi Boru. Sarapan itu membawa
saya bertemu dengan seorang polisi asal Makassar yang sudah delapan tahun bertugas disini. "Flores lebih tenang dari Jawa," katanya sambil
menyeruput kopi.
Menurutnya, kasus di pulau ini
hanyalah soal Moke yang terlalu banyak ditenggak atau tanah yang diperebutkan
oleh keluarga. Premanisme? pencurian? nyaris tak ada. Iapun menenangkan
saya dengan satu pesan: "Berpetualanglah. Flores ramah bahkan bagi
pelancong yang bepergian sendiri."
Setelah urusan di Boru tuntas,
sepeda kembali saya kayuh menuju Maumere, kota yang berada di pesisir
utara—jaraknya 79 km, tapi tak pernah hanya tentang angka. Belum jauh
dari gerbang kota, terdengar suara aneh dari roda depan yang ternyata rotornya
bersentuhan dengan kaliper rem membuat ban seret berputar dan
menimbulkan bunyi, seperti keluhan kecil dari sepeda yang tengah lelah.
Saya coba perbaiki semampunya,
gagal, lalu saya hubungi Arsa, teman sepeda dari Bandung. Ia segera menyebarkan
pesan itu ke komunitas petualang di medsos, berharap ada tangan-tangan lokal
yang bisa membantu. Saya tahu, di pulau ini tak ada bengkel sepeda, suku
cadang apalagi, tapi saya sudah siap mental—seperti panggung teater,
pertunjukan harus terus berjalan.
Jalanan mulus namun terus menanjak,
kelokan demi kelokan seperti ujian kesabaran, beberapa pohon tumbang terlihat
di pinggir jalan—kata seorang warga, hujan beberapa hari lalu menggoyahkan
akarnya. Flores tak sering hujan, tapi sekali hujan ia datang seperti tamu tak
diundang, memindahkan pepohonan dan sesekali menggoyahkan bukit.
Di tengah panas terik, saya tiba di
kampung yang tenang dan bersih, sebuah rumah tampak menjajakan hasil kebunnya:
madu dan buah! Sebutir nanas pun terpilih lalu dikupas oleh penjualnya dan
diberikan kepada saya dengan senyum tipis, rasanya menusuk—hingga saya minta nambah
lagi. Pisang satu sisir saya bawa sebagai bekal.
Gapura yang melintang menjadi
penanda: kini saya meninggalkan Kabupaten Flores Timur, memasuki Sikka. Jalan
mulai landai dan menurun tapi pemandangan longsoran di pinggir jalan, khususnya
dekat kampung Nebe memberi gambaran tentang kerasnya alam. Tampak para
pekerja sibuk mengisi kawat bronjong dengan batu-batu besar memperbaiki jalur
Trans Flores yang sempat terputus.
Jembatan besi menyambungkan
lembah-lembah, sebagian dari mereka dibangun saat era Colombo Plan di tahun
1978, kolaborasi regional dari hasil Konferensi di Colombo, Sri Lanka, yang
menekankan pengembangan sumber daya manusia sebagai denyut utama pembangunan.
Siang bergulir, mendung mulai
menutupi langit dan hujan tiba-tiba turun, raincoat Eiger jadi penyelamat, namun
tak lama matahari kembali muncul dan menyisakan pelangi di ufuk utara—seolah
semesta memberi tepukan kecil di bahu saya.
Saat perut memanggil di daerah
Talibura, saya teringat warung kecil yang pernah dimampiri beberapa hari lalu,
tempat itu saya cari lagi dan akhirnya ketemu. Menu tak berubah: nasi merah,
ikan goreng, dan sup dalam mangkuk terpisah. Isotonik dingin dari kulkas yang
pertama menyejukkan kerongkongan yang kering.
Robusta lokal jadi teman ngobrol
dengan rombongan PNS dari dinas Bina Marga kabupaten, mereka baru pulang dari
proyek perbaikan longsoran yang tadi. Kami bicara santai—tentang
perjalanan, tentang Pilkada yang mulai memanas dan tentang gangguan politikus
Senayan yang suka ikut campur urusan di lapangan. Candaan dan keluhan saling
bersahut di antara seruput kopi.
Sehabis ngopi, sepeda kembali
digowes. Maumere tinggal 40 km lagi. Tapi jarak pendek pun bisa jadi panjang
bila udara pesisir terus membakar dan roda sepeda tak bekerja dengan semestinya.
Saya terpaksa berhenti setiap 5 km—sekadar memberi jeda mengatur nafas dan
menguatkan niat.
Di tengah alunan kayuhan, sebuah
panggilan masuk melalui HP yang ternyata dari staf SOS Children’s Village
Flores—dimana saya berjanji akan mampir jika saya di Maumere, mereka menawarkan
pondokannya yang hangat di Waturia, 14 km arah utara dari Maumere.
Sebelumnya memang saya berencana
mampir tapi melihat kondisi sepeda dan waktu yang semakin sore, saya berjanji
akan memberi kepastian setibanya nanti di Maumere. Organisasi yang
mereka wakili bukan sembarangan. SOS Children’s Villages adalah jantung yang
berdenyut untuk anak-anak yang kehilangan pengasuhan. Mereka bukan hanya
memberi tempat tinggal, tapi menghadirkan keluarga baru yang penuh kasih.
Semua berawal dari Hermann
Gmeiner—mahasiswa kedokteran di Austria yang tergugah hatinya oleh getir Perang
Dunia II. Ia mendirikan desa-desa untuk anak-anak, dan semangat itu menyeberang
hingga ke Indonesia.
Di negeri ini, kiprah SOS dimulai
sejak 1972 di Lembang berkat Bapak Agus Prawoto, seorang tentara Indonesia yang
tengah bertugas di Austria. Kemudian menyusul di Cibubur, Semarang dan
Tabanan. Desa-desa baru di Flores dan Aceh lahir sebagai jawaban atas
bencana. Kini, SOS Children’s Villages tersebar di 8 titik dari Banda Aceh
hingga ujung timur Flores.
Melintasi pesisir Maumere, saya
disambut deretan pohon kelapa dan kilauan laut biru. Resort-resort kecil
berdiri cantik, menawarkan petualangan bawah laut yang memesona. Perahu
wisata siap membawa siapa saja yang ingin menjelajahi pesona perairan. Di balik
wisata baharinya, Maumere juga menyimpan kekayaan budaya: kampung kreatif
pengrajin Tenun Ikat yang motifnya sudah terbang hingga mancanegara.
Sepeda terus dikayuh meski terasa berat.
Saat melewati pasar tradisional, dari kejauhan sebuah mobil meneriakkan, “Hidup
Persib kang...!!” Baru sadar, saya sedang mengenakan jersey Persib bernomor
20—sebuah penghormatan kecil untuk Billy Keraf, striker muda yang berasal dari daerah
sini, momen sederhana tapi bikin hati hangat.
Menjelang magrib, dalam pelukan
senja yang lembut, barulah saya memasuki kota Maumere. Kondisi sepeda sudah
tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan ke Waturia, maka dengan berat hati
saya batalkan niat itu, segera saya kabari Pak Hadi di Bandung dan juga Pak
Rozy serta Ibu Agustina dari SOS Flores, mengutarakan permohonan maaf dan berterima
kasih atas sambutan hangat mereka semoga di lain waktu roda-roda ini bisa
benar-benar sampai disana.
Saya lalu menghubungi Yayan, teman
lama di Maumere, untuk minta rekomendasi tempat bermalam. Setelah menyambangi
tiga lokasi, pilihan jatuh pada Hotel Permata Sari. Letaknya strategis, tepat
di belakang pantai Maumere dan tarifnya ramah dompet: 160 ribu semalam sudah
termasuk AC dan sarapan.
Saat tubuh rebah, kabar dari rumah
mengguncang: Gunung Agung di Bali meletus setelah berminggu-minggu berstatus
waspada, abu hitam menari hingga ketinggian 3.000 meter katanya. Semoga
semuanya cepat reda, sebab Bali adalah gerbang wisata Indonesia Timur, kalau ia
tertutup, dampaknya akan mengalir panjang—mulai dari turis hingga penghidupan
warga.
Etappe hari ini dari Boru ke Maumere saya tutup di angka 75 kilometer dan di setiap kilometer itu ada potongan cerita yang membuat perjalanan ini terasa begitu hidup.
| Sebuah warung sederhana di Talibura tempat saya mengisi perut. |
![]() |
| Pesisir pantai Maumere timur. |
Labels: bike to pulau, biketopulau, eiger adventure, flores, larantuka, maumere, sepeda, SOS Children's Villages, specialized, Tenun ikat, tour, veloforfun, wisata








0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home