21.12.17

POLITIKUS SENAYAN.

bike to pulau

24 November 2017.
 
Pagi ini dimulai dengan hal sederhana: sepiring nasi kuning di warung depan asrama Polisi Boru. Sarapan itu membawa saya bertemu dengan seorang polisi asal Makassar yang sudah delapan tahun bertugas disini. "Flores lebih tenang dari Jawa," katanya sambil menyeruput kopi.

Menurutnya, kasus di pulau ini hanyalah soal Moke yang terlalu banyak ditenggak atau tanah yang diperebutkan oleh keluarga. Premanisme? pencurian? nyaris tak ada. Iapun menenangkan saya dengan satu pesan: "Berpetualanglah. Flores ramah bahkan bagi pelancong yang bepergian sendiri."

Setelah urusan di Boru tuntas, sepeda kembali saya kayuh menuju Maumere, kota yang berada di pesisir utara—jaraknya 79 km, tapi tak pernah hanya tentang angka. Belum jauh dari gerbang kota, terdengar suara aneh dari roda depan yang ternyata rotornya bersentuhan dengan kaliper rem membuat ban seret berputar dan menimbulkan bunyi, seperti keluhan kecil dari sepeda yang tengah lelah. 

Saya coba perbaiki semampunya, gagal, lalu saya hubungi Arsa, teman sepeda dari Bandung. Ia segera menyebarkan pesan itu ke komunitas petualang di medsos, berharap ada tangan-tangan lokal yang bisa membantu. Saya tahu, di pulau ini tak ada bengkel sepeda, suku cadang apalagi, tapi saya sudah siap mental—seperti panggung teater, pertunjukan harus terus berjalan.

Jalanan mulus namun terus menanjak, kelokan demi kelokan seperti ujian kesabaran, beberapa pohon tumbang terlihat di pinggir jalan—kata seorang warga, hujan beberapa hari lalu menggoyahkan akarnya. Flores tak sering hujan, tapi sekali hujan ia datang seperti tamu tak diundang, memindahkan pepohonan dan sesekali menggoyahkan bukit.

Di tengah panas terik, saya tiba di kampung yang tenang dan bersih, sebuah rumah tampak menjajakan hasil kebunnya: madu dan buah! Sebutir nanas pun terpilih lalu dikupas oleh penjualnya dan diberikan kepada saya dengan senyum tipis, rasanya menusuk—hingga saya minta nambah lagi. Pisang satu sisir saya bawa sebagai bekal.

Gapura yang melintang menjadi penanda: kini saya meninggalkan Kabupaten Flores Timur, memasuki Sikka. Jalan mulai landai dan menurun tapi pemandangan longsoran di pinggir jalan, khususnya dekat kampung Nebe memberi gambaran tentang kerasnya alam. Tampak para pekerja sibuk mengisi kawat bronjong dengan batu-batu besar memperbaiki jalur Trans Flores yang sempat terputus.

Jembatan besi menyambungkan lembah-lembah, sebagian dari mereka dibangun saat era Colombo Plan di tahun 1978, kolaborasi regional dari hasil Konferensi di Colombo, Sri Lanka, yang menekankan pengembangan sumber daya manusia sebagai denyut utama pembangunan.

Siang bergulir, mendung mulai menutupi langit dan hujan tiba-tiba turun, raincoat Eiger jadi penyelamat, namun tak lama matahari kembali muncul dan menyisakan pelangi di ufuk utara—seolah semesta memberi tepukan kecil di bahu saya.

Saat perut memanggil di daerah Talibura, saya teringat warung kecil yang pernah dimampiri beberapa hari lalu, tempat itu saya cari lagi dan akhirnya ketemu. Menu tak berubah: nasi merah, ikan goreng, dan sup dalam mangkuk terpisah. Isotonik dingin dari kulkas yang pertama menyejukkan kerongkongan yang kering. Robusta lokal jadi teman ngobrol dengan rombongan PNS dari dinas Bina Marga kabupaten, mereka baru pulang dari proyek perbaikan longsoran yang tadi. Kami bicara santai—tentang perjalanan, tentang Pilkada yang mulai memanas dan tentang gangguan politikus Senayan yang suka ikut campur urusan di lapangan. Candaan dan keluhan saling bersahut di antara seruput kopi.

Sehabis ngopi, sepeda kembali digowes. Maumere tinggal 40 km lagi. Tapi jarak pendek pun bisa jadi panjang bila udara pesisir terus membakar dan roda sepeda tak bekerja dengan semestinya. Saya terpaksa berhenti setiap 5 km—sekadar memberi jeda mengatur nafas dan menguatkan niat.

Di tengah alunan kayuhan, sebuah panggilan masuk melalui HP yang ternyata dari staf SOS Children’s Village Flores—dimana saya berjanji akan mampir jika saya di Maumere, mereka menawarkan pondokannya yang hangat di Waturia, 14 km arah utara dari Maumere. 

Sebelumnya memang saya berencana mampir tapi melihat kondisi sepeda dan waktu yang semakin sore, saya berjanji akan memberi kepastian setibanya nanti di Maumere. Organisasi yang mereka wakili bukan sembarangan. SOS Children’s Villages adalah jantung yang berdenyut untuk anak-anak yang kehilangan pengasuhan. Mereka bukan hanya memberi tempat tinggal, tapi menghadirkan keluarga baru yang penuh kasih. 

Semua berawal dari Hermann Gmeiner—mahasiswa kedokteran di Austria yang tergugah hatinya oleh getir Perang Dunia II. Ia mendirikan desa-desa untuk anak-anak, dan semangat itu menyeberang hingga ke Indonesia.
Di negeri ini, kiprah SOS dimulai sejak 1972 di Lembang berkat Bapak Agus Prawoto, seorang tentara Indonesia yang tengah bertugas di Austria. Kemudian menyusul di Cibubur, Semarang dan Tabanan. Desa-desa baru di Flores dan Aceh lahir sebagai jawaban atas bencana. Kini, SOS Children’s Villages tersebar di 8 titik dari Banda Aceh hingga ujung timur Flores.



Melintasi pesisir Maumere, saya disambut deretan pohon kelapa dan kilauan laut biru. Resort-resort kecil berdiri cantik, menawarkan petualangan bawah laut yang memesona. Perahu wisata siap membawa siapa saja yang ingin menjelajahi pesona perairan. Di balik wisata baharinya, Maumere juga menyimpan kekayaan budaya: kampung kreatif pengrajin Tenun Ikat yang motifnya sudah terbang hingga mancanegara.


Sepeda terus dikayuh meski terasa berat. Saat melewati pasar tradisional, dari kejauhan sebuah mobil meneriakkan, “Hidup Persib kang...!!” Baru sadar, saya sedang mengenakan jersey Persib bernomor 20—sebuah penghormatan kecil untuk Billy Keraf, striker muda yang berasal dari daerah sini, momen sederhana tapi bikin hati hangat.

Menjelang magrib, dalam pelukan senja yang lembut, barulah saya memasuki kota Maumere. Kondisi sepeda sudah tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan ke Waturia, maka dengan berat hati saya batalkan niat itu, segera saya kabari Pak Hadi di Bandung dan juga Pak Rozy serta Ibu Agustina dari SOS Flores, mengutarakan permohonan maaf dan berterima kasih atas sambutan hangat mereka semoga di lain waktu roda-roda ini bisa benar-benar sampai disana.

Saya lalu menghubungi Yayan, teman lama di Maumere, untuk minta rekomendasi tempat bermalam. Setelah menyambangi tiga lokasi, pilihan jatuh pada Hotel Permata Sari. Letaknya strategis, tepat di belakang pantai Maumere dan tarifnya ramah dompet: 160 ribu semalam sudah termasuk AC dan sarapan.

Saat tubuh rebah, kabar dari rumah mengguncang: Gunung Agung di Bali meletus setelah berminggu-minggu berstatus waspada, abu hitam menari hingga ketinggian 3.000 meter katanya. Semoga semuanya cepat reda, sebab Bali adalah gerbang wisata Indonesia Timur, kalau ia tertutup, dampaknya akan mengalir panjang—mulai dari turis hingga penghidupan warga.

Etappe hari ini dari Boru ke Maumere saya tutup di angka 75 kilometer dan di setiap kilometer itu ada potongan cerita yang membuat perjalanan ini terasa begitu hidup.


Gedung kantor koperasi Hokeng tempat menginap di Boru sebelum melanjutkan perjalanan ke Maumere.

Batang pohon tumbang tampak sudah dirapikan oleh penduduk,

Tugu perbatasan antara Kab, Flores Timur dan Kab Sikka.

Area longsor tampak sedang diperbaiki oleh pekerja di daerah Nebe.

bike to pulau
Jembatan Nebe yang dibangun dari hasil  program Colombo Plan. 

Sebuah warung sederhana di Talibura tempat saya mengisi perut. 


Pesisir pantai Maumere timur.

Labels: , , , , , , , , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home