31.1.18

KRIM PELEMBAB.


26 November 2017.

Pagi datang dengan dingin mungkin akibat hujan semalaman, sarung meliliti tubuh terus enggan dilepaskan, tak ada suara dari kamar sebelah, tamu dari Belanda itu masih juga terlelap. Ombak keras yang menyapa tebing akhirnya membangunkan penghuni Koka satu per satu, namun saya tetap memilih bermalas-malasan, memberi jeda pada tubuh setelah tiga hari berturut-turut mengayuh melawan medan timur Flores.

Burung gagak—yang bersahutan dari pepohonan belakang pondok—jadi alarm alami paling jitu, saya pun bangkit. Saat pintu terbuka awan putih sedikit memayungi pantai dan menyambut hari dengan kesederhanaan yang hangat.

Melihat pintu saya sudah terbuka Blasius sedikit berteriak dari rumah utama, “Ayo kopi sudah siap nih...” Pisang goreng dan kopi hitam sudah terhidang di meja bambu yang dihias kulit kerang, di antara seruputan dan kunyahan, obrolan kami mengalir dari erupsi Gunung Agung yang mempengaruhi wisata, hingga ironi korupsi yang membayangi negeri.

Saya pamit sejenak untuk berkeliling, menelusuri Koka yang ternyata memiliki dua teluk yang dipisahkan oleh bukit kecil di tengahnya. Bukit itu jadi spot favorit untuk berfoto dan melamun. Untuk naik ke sana ada tangga bambu dan tanah berbatu yang harus didaki, bertiket lima ribu rupiah yang dikelola oleh desa.

Di bawah bukit tampak dua anak kecil sibuk mencari udang di karang dan memasukkan hasil tangkapannya ke dalam kantung plastik kecil berisi air, saat didekati “Untuk dimakan di rumah,” jawab salah satu dari mereka, polos dan cepat. Di tepi  pantai itu juga tumbuh deretan pohon Ara yang  batangnya dipenuhi oleh getah, 

Di hari Minggu ini pantai perlahan bergeliat, rombongan wisatawan lokal berdatangan, sebagian membawa bekal masing-masing, beberapa warung dadakan juga ikut muncul berdampingan dengan warung Blasius yang sudah lebih dulu menjadi pusat keramahan.

Hari tanpa sepeda ini saya gunakan untuk mencuci pakaian di sumur belakang pondokan, di jemur di tepi kebun singkong yang kadang bergoyang ditiup angin pantai. Siang berlalu dengan santai, rencana memindahkan data dari GoPro ke laptop urung dilakukan, tak ada listrik tak ada pilihan, saya berserah pada detak waktu.

Dua gadis kecil bermain di pasir pantai saat langit perlahan berubah dari biru ke kuning keemasan. suasana yang indah itu menggoda saya untuk menikmatinya dengan berenang. Air laut di teluk mini ini hangat, jernih dan ombaknya tenang. Sayang, saya tak membawa masker—karang di dasar laut hanya bisa saya intip dari permukaan.

Sorepun berganti, nelayan mulai bergerak berburu ikan yang konon keluar saat matahari akan tenggelam hingga sekitar pukul 7 malam, beberapa kembali dengan hasil tangkapannya dan menawarkannya langsung ke Blasius—pemandangan khas yang menegaskan bahwa pantai ini bukan sekadar tempat singgah tapi denyut kehidupan.

Selepas Magrib saya minta tolong Ryan—putra Blasius—mencarikan tukang pijat. meski tidak terbiasa, saya berharap otot-otot betis bisa lebih rileks lagi, krim pelembab yang saya bawa jadi pelicin pijatan dan ternyata itu cukup membantu.

Makan malam kali ini tak kalah spesial—ikan segar, tumis kangkung, sambal tomat dan irisan mangga Arumanis. Istri Blasius, ditengah kesibukan mengurus anak balitanya tetap sigap menyajikan semuanya dari dapur sederhana yang menyimpan kehangatan rumah.

Di malam kedua saya sempat termenung, andai tempat ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah bukan tak mungkin penduduk akan merasakan manfaat ekonomi yang lebih besar lagi, karena sebuah destinasi wisata bukan hanya soal panorama, tapi juga soal peluang yang dibuka untuk semua warga.

Sebelum tidur saya kemas beberapa barang ke dalam pannier, besok perjalanan akan berlanjut ke Moni di dataran tinggi Kelimutu, tapi malam itu pikiran saya masih tertambat di pasir putih, pohon Ara, dan potensi yang belum sepenuhnya tergali.



bike to pulau
Menunggu ombak muncrat.

bike to pulau
Binatang laut yang tersisa ketika air laut surut.

Dimanfaatkan oleh anak-anak untuk bermain.

bike to pulau
Pemandangan dari arah pondokan.

bike to pulau
Pondokan sederhana yang saya diami selama 2 malam.

bike to pulau
Teras depan kamar.

bike to pulau
Kelambu yang sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan.

bike to pulau




Labels: , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home