BIKE TO PULAU : Kisah Pesepeda Amatir Menjelajahi Pulau Flores Dari Meter ke Meter.
SEKAPUR SIRIH
Awal 2016 seorang teman sering datang ke kantor dengan sepedanya, tak disangka kebiasaan kecil itu membangkitkan memori saya jauh ke tahun 1988—masa ketika saya masih punya sepeda yang kemudian hilang dicuri entah oleh siapa. Kenangan itu terdiam lama dan nyaris terlupakan, hingga satu pedal teman menyentuh kembali pintu nostalgia itu.
Di tengah rutinitas menjalankan
usaha Event Management, saya akhirnya menebus kembali mimpi yang sempat hilang.
Dari sebuah toko kecil di daerah Kosambi, Bandung, lahirlah kembali sepeda
hitam berjenis MTB dan ternyata cukup menggoda jiwa petualangan yang lama
tertidur.
Seiring waktu sepeda tak lagi hanya
pengisi jeda, ia berubah menjadi pintu keluar dari rutinitas sekaligus
pengingat bahwa tubuh dan jiwa butuh bergerak. Hobi yang dahulu terasa jauh,
kini menjadi sahabat baru yang setia menemani.
Dunia pun bergeser dari yang semula
sekadar bermain di medan MTB, saya mulai terpikat dunia Touring—menelusuri
tempat-tempat jauh untuk menemukan sudut Indonesia yang jarang tersentuh.
Komunitas di Bandung menjadi sumber semangatnya, dari sanalah lahir gagasan:
bagaimana jika bersepeda tak hanya soal jarak tapi juga tentang cerita?
Maka lahirlah “Bike to Pulau”—sebuah program yang menggabungkan hobi, perjalanan dan eksplorasi budaya karena kami tak hanya ingin sekedar mengayuh tapi juga ingin menyelami adat istiadat, mengenali penduduk, mencatat kisah dan menangkap pesona dari tiap pulau yang disinggahi.
Perjalanan didokumentasikan dalam bentuk tulisan dan foto hingga
bisa dijadikan sebagai referensi bagi siapapun yang mau menjelajahi Indonesia
dengan cara yang lebih personal.
Program ini dirancang dalam
beberapa serial perjalanan dan pilihan pertama jatuh pada Pulau Flores—pulau
eksotis yang menawan dengan infrastruktur jalan yang baik, udara bersih, jalur
menantang dan masyarakat yang ramah terhadap pesepeda, bahkan konektivitas
digital disini cukup mendukung untuk petualangan modern.
Flores juga tak luput dari
perhatian pemerintah, Event balap sepeda “Tour de Flores” dan gelaran “Sail
Komodo” memperlihatkan betapa seriusnya negeri ini mengangkat Flores ke
panggung dunia.
Perjalanan solo ini menembus
pantai, mendaki gunung, melintasi hutan. Udara dingin, panas terik, flora yang
liar dan fauna yang mengintip dari balik semak—semua dilalui dalam 21 hari dengan
total jarak 710 km. Semoga catatan ini bisa menjadi peta batin bagi siapapun
yang ingin menjejakkan sepedanya di tanah Flores.
Terimakasih.
>> Bersambung...
Labels: bajawa, bike to pulau, bike touring, boawae, ende, flores, Flores island, KELIMUTU, koka, komodo, labuhan bajo, larantuka, maumere, padar, ruteng






1 Comments:
Awesome!! can't wait your next journey
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home