14.12.17

PUNCAK KEMARAU

bike to pulau


21 November 2017.

Setelah singgah sehari di Denpasar untuk menyusun napas dan rencana, pagi itu saya terbang mengangkasa menuju Flores. Pesawat Garuda seri ATR 600—dengan baling-baling yang berputar pelan di langit timur—mengantar saya dalam 90 menit perjalanan yang terasa seperti membuka lembaran baru. Udara panas khas Nusa Tenggara langsung menyergap begitu saya tiba di Bandara Frans Seda, Wae Oti, Maumere. Bandara kecil di tepi pantai ini memang sedang memeluk kemarau, angin datang membawa wangi laut yang tajam nan hangat.

Di ruang tunggu Johan sudah siap dengan minibusnya. Ia akan membawa saya menempuh perjalanan selama tiga jam menuju Larantuka, kota kecil yang sudah menanti di ujung timur Pulau. Nama Johan saya kenal dari lingkaran teman yang saling menyambungkan: Yayan, pengelola resort lokal; dan Priyadi Wibisono, rekan dari Jakarta yang kerap berkunjung ke sini, rantai persahabatan ini seperti kompas, menuntun saya dalam perjalanan.

Maumere Siang Itu: Sepi, Panas, dan Nyaris Puitis.

Hari begitu terik, kota Maumere seolah berselimut keheningan, udara panas membuat orang-orang sepertinya enggan keluar rumah. Tapi saya punya satu misi penting di siang itu: mengirim dus pembungkus sepeda ke Labuan Bajo.

Kami pun mencari kantor ekspedisi untuk membongkar dus tersebut dan mengirimnya langsung dengan menitip alamat Ora Dive Komodo di Labuan Bajo, sekalian juga merakit ulang sepeda hingga bisa berdiri dan siap untuk mengarungi pulau.

Dus ini bukan sekadar kardus, melainkan tiket pulang sepeda saya nanti karena regulasi penerbangan terhadap sport equipment ini cukup ketat. Untuk sepeda, ban-nya harus dikempeskan terlebih dahulu, packingnya harus rapi karena pesawat bukan teman yang bisa sembarang dipercaya.

Waktu terus bergerak, kami harus tiba di Larantuka sebelum malam menyelimuti jalan. Johan menyarankan makan siang di perjalanan dan saya setuju. Kami melaju pelan karena tangki bensin hampir kosong, hingga menemukan SPBU di perbatasan kota.

Tak lama berkendara, kami tiba di sebuah warung makan di Talibura, 40 km dari Maumere. Warungnya sederhana, tapi rasanya seperti menemukan oasis: ikan bakar, sup hangat dan nasi merah yang masih mengepul. Rasa lapar luruh bersama segelas kopi yang menutup makan siang itu dengan sempurna.

Perjalanan berlanjut menyusuri pantai utara lalu naik ke kaki Pegunungan Lewotobi. Hutan tropis di timur Sikka itu menyambut kami dengan hijau yang tak terganggu, jalan mulai menurun, berkelok, membawa kami kembali bertemu dengan laut—kali ini laut selatan dan tepat pukul 17.00 WIT, kami tiba di Larantuka.
 
Larantuka: Di Antara Laut, Gunung dan Doa.


Johan mengarahkan mobilnya ke sebuah Cottage kecil yang strategis, halamannya menghadap ke selat Adonara. Sore itu angin laut berhembus masuk ke dalam kamar yang bersih dan cukup nyaman, harganya pun ramah untuk seorang bikepacker: Rp 208.000 per malam, sudah termasuk AC dan sarapan.

Saat menaruh barang di kamar, KM Umsini terlihat sedang sandar di pelabuhan. Kapal milik Pelni yang mampu mengangkut 1700 penumpang itu hendak menyeberang ke Lewoleba, kehadirannya jadi pengingat betapa dinamisnya pulau ini meski tampak tenang dari luar.

Larantuka terasa eksotis, di satu sisi laut tenang memeluk pantai di sisi lain kaki Gunung Ile Mandiri berdiri megah seolah mengawasi kota. Pemandangannya seperti lukisan yang pernah saya lihat di majalah wisata. 

Kota ini dikenal juga sebagai pusat ziarah umat Katolik yang ramai pada saat acara Semana Santa, dimana ribuan peziarah datang pada waktunya, tak hanya dari Flores tapi juga dari berbagai penjuru Nusantara dan dunia, tradisi yang memadukan warisan Portugis dan kebudayaan lokal itu menjadi daya tarik spiritual yang unik.
 
Maghrib, Ngaji, dan Sepotong Rendang itu.

Tak lama, suara adzan maghrib mengalun pelan, dengan berjalan kaki saya tuju masjid itu—Masjid Agung Syuhada. Bangunannya tengah direnovasi, tapi semangatnya tetap utuh. Anak-anak belajar ngaji dengan khidmat sementara saya menunggu waktu Isya dalam keheningan yang menenangkan.

Kehidupan malam ditutup dengan sepotong rendang hangat dari warung Padang di dekat Pasar Baru. Rasanya? Seolah membawa saya kembali ke rumah, walau tengah berada jauh di ujung timur pulau Flores.


Pulau Kodia yg terletak di seberang pulau Flores. 

bandara maumere
Bandara kecil yang resik.

Merakit sepeda di kantor ekspedisi pengiriman barang, 

larantuka
Kamar sederhana di Flores Cottage Larantuka.


tempat pelelangan ikan
Gunung Ile Mandiri terlihat dari dermaga pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan.

Labels: , , , , , , , , , ,

4 Comments:

At 18 December, 2017 , Blogger Unknown said...

Sambungannya mana om

 
At 02 March, 2018 , Blogger veloforfun said...

Silakan klik tulisan bersambungnya

 
At 28 February, 2019 , Anonymous Tom karsianto said...

Tulisan yang sangat komprehensif bagi pegiat sepeda yang merencanakan petualangannya di pulau flores. Saya dari setahun lalu ingin ke sini tapi selalu ada halangan. Terima kasih atas tulisannya pak.

Salam

 
At 29 March, 2019 , Blogger veloforfun said...

sama2 mas semoga keinginannya segera tercapai

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home