3.2.18

TIWU ATA MBUPU

bike to pulau

28 November 2017.
 
Jam masih menunjukkan pukul empat pagi saat ketukan itu mengusik pintu mimpi. “Sudah jam empat, ayo berangkat ke Kelimutu,” ujar Silvester sambil memanaskan motornya. 

Dengan mata setengah terpejam, saya cuci muka, pakai lapisan penghangat tambahan dan motor pun melaju menembus kabut menuju danau tiga warna.

Marka jalan menyambut saya sejak pertigaan Moni dan menuntunnya di antara pepohonan yang diam dalam dingin. Beberapa mobil menyalip, tujuannya sama: mengejar matahari terbit dan menyapa danau yang menyimpan legenda.

Jalanan semakin sempit, di pintu gerbang utama tiket masuk seharga lima ribu rupiah dibayar tuntas dan berlanjut hingga tiba di area parkir dekat shelter pemberangkatan, kios-kios cenderamata sudah mulai buka. 

Para wisatawan berkumpul, Guide dari travel besar sibuk memberi pengarahan, atmosfernya seperti panggung sebelum pertunjukan alam dimulai.

Langit masih gelap ketika saya mulai menapaki anak tangga setapak demi setapak dengan bantuan senter di tangan. Samar-samar kabut masih menyelimuti puncak membuat suasana terasa magis, semburat merahpun perlahan muncul dari ufuk timur. 

Burung-burung mulai berkicau seolah menyambut matahari yang datang mengintip, dan di tengah cahaya yang menembus kabut tampaklah Danau Kelimutu, tenang di antara puncak gunung.

Medan masih terus menanjak melewati puluhan anak tangga yang sudah dilengkapi pegangan tangan, di puncak, sebuah tugu bercat putih berdiri kokoh menjadi penanda bahwa pendakian telah sampai di tujuan. Akhirnya seteguk air berhasil membasahi tenggorokan yang sejak tadi kering. 

Di sudut puncak, pedagang lokal menjajakan kain tenun ikat dengan motif-motif khas, tak ada paksaan, hanya kesabaran. Di antara tumpukan kain saya melihat ada termos-termos kecil, ternyata mereka berjualan kopi juga. Segelas kopi hitam lokal tanpa gula pun menjadi teman untuk menyambut angin gunung yang terus berdesir.

Kelimutu, sang gunung yang berdiri di ketinggian 1.639 mdpl itu menyimpan tiga danau vulkanik dengan warna yang selalu berubah. Pagi itu, warnanya hijau tua, hijau muda dan kehitaman. 

Penduduk percaya, ketiganya bukan sekadar danau—mereka adalah wadah jiwa, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, hijau tua, adalah tempat berkumpulnya arwah muda-mudi. Tiwu Ata Mbupu, hijau muda, rumah bagi arwah orang tua. Tiwu Ata Polo, kehitaman, tempat berkumpulnya jiwa yang semasa hidupnya memikul dosa.

Sayapun turun saat matahari mulai meninggi, di perjalanan pulang itu barulah saya melihat bangunan-bangunan yang tak sempat terlihat saat naik tadi—WC umum yang bersih dan beberapa bangunan yang belum selesai dibangun di pinggir jalur. 

Teringat obrolan semalam dengan Silvester—masyarakat demo, menolak bangunan beton yang akan berdiri dekat danau karena mereka khawatir alam akan marah, bahwa Kelimutu harus tetap alami, bebas dari beton dan semen.

Hal serupa terjadi di tempat lain dimana beberapa minggu sebelumnya saya menerima email dukungan penolakan pembangunan pendopo di puncak Gunung Ijen, Banyuwangi, karena bakal miris rasanya bila melihat ruang sakral dipasangi beton permanen, padahal kawasan itu berdampingan langsung dengan cagar alam.  

Di shelter saya sempatkan menyantap semangkuk mie instan sekadar menghangatkan perut yang masih kosong, tak hanya saya wisatawan lainpun melakukan hal serupa sementara sebagian yang lain sibuk tawar-menawar kain tenunan.

Turun dari Kelimutu pemandangannya memanjakan mata—kampung-kampung kecil bertengger di bukit, sebagian berbaris di pinggir jalan. Tiba-tiba, saya tertegun melihat instalasi bambu besar berbentuk sepeda, tak ada yang bisa menjelaskan siapa pembuatnya dan mengapa bentuk sepeda yang dipilih—sebagai simbol atau sekadar ekspresi? Karena sepeda di daerah ini bukan hal yang lumrah, medan pegunungan tak ramah terhadap roda dua tanpa mesin.

Tiba di penginapan barang-barang segera saya kemas ke dalam pannier. Silvester menawarkan sarapan, tapi saya minta ditunda dulu karena tubuh sepertinya minta diistirahatkan. 

Namun usai rebahan, badan kok terasa tak enak, mungkin karena kemarin telat makan atau karena badan belum fit tapi tetap memaksakan diri naik ke Kelimutu pagi tadi. 

Segera saja saya makan jatah sarapan tadi, namun saat sedang menyantap itu hujan turun dengan derasnya, saya sempat ragu: lanjut ke Ende hari ini atau tunda besok?

Tapi janji bertemu teman di Ende dan keinginan menjaga jadwal membuat saya nekad, paracetamol menjadi korban lalu bersiap berangkat. 

Melihat kondisi saya yang lesu itu Silvester menawarkan bantuan. “Biar saya angkut pannier ke puncak, 8 kilometer dari sini,” katanya, saya pun mengiyakan.

Saat hujan telah benar-benar reda, sepeda mulai digowes perlahan melewati kampung-kampung di Moni. Cafe, homestay dan hotel berjajar—semuanya menawarkan harga diskon karena kunjungan sedang sepi, Gunung Agung yang meletus di Bali tampaknya ikut mempengaruhi arus wisatawan ke sini.  

Menuju Ende: Kabut Pegunungan, Sawo Wologai, dan Persaudaraan di Jalan.

Tanjakan kian curam ketika saya melewati beberapa pekerja Telkom yang tengah menggali tanah di bahu jalan, kabel fiber optic akan ditanam, sinyal akan ditabur, sementara saya menabur peluh di pedal.

Ketika napas yang mulai pendek sampailah di puncak tertinggi. Seorang pengendara minibus melambat dan menegur, “Ini puncaknya, Pak.” ternyata itu Silvester sang pembawa Pannier saya, bukan dengan motor seperti sebelumnya, melainkan dengan mobilnya. 

Setelah bercakap singkat saya serahkan uang bensin dengan ucapan terima kasih. Pannier pun berpindah ke sepeda dan petualangan lanjut menuruni perbukitan. Di atas sini kebun sayur digarap oleh tangan-tangan yang sabar.

Di perjalanan kabut turun menyelimuti pandangan, lima meter di depan saja tampak samar—tapi rasanya tenang seperti dilindungi selimut putih. Selama setengah jam kabut itu menemani, rasa demam yang tadi sempat membuat ragu hilang seketika digantikan semangat baru.

Saat sinar mentari berhasil menembus awan kabutpun menyingkir, tiba di pasar tani Wologai saya teringat ucapan kakak di Bandung: buah sawo. Setelah bertanya ke beberapa kios, saya menemukan buah tersebut di pojokan, sawo lokal—mirip plum, dagingnya renyah nan rangu, empat buah saya makan di tempat itu dan bijinya saya simpan di tas, seperti pesan sang kakak yang ingin menumbuhkannya di tanah parahyangan.

Mengejar waktu menuju Ende sepeda dikayuh cepat, tapi sebelum Detusoko hujan kembali turun, untuk mencari perlindungan saya menemukan sebuah rumah di atas tepi jalan yang dihuni oleh seorang ibu dan anak-anaknya.

Dengan ramah mereka mengizinkan masuk. Rumahnya sederhana, berdinding bambu, berlantai semen dengan kursi plastik seadanya. Saat itu seorang anak perempuan terbungkus sarung tradisional tengah tertidur di pojok ruangan, sementara anak-anak lainnya ramai bercengkrama seusai pulang sekolah. 

Sang ibu menyuguhkan nasi dan lauk sederhana langsung di lantai rumah—saya menolak pelan karena perut masih kenyang oleh buah sawo tadi, hanya anak-anak yang langsung menyantapnya. 

Sebelum pamit ibu itu bercerita, anaknya lima orang dan yang tidur tadi sedang menderita malaria. “Sudah dibawa ke Puskesmas,” katanya, “dokternya sudah beri obat.” Jawaban yang sedikit melegakan dan saya tinggalkan rumah itu dengan doa dalam hati.

Detusoko berada di dataran tinggi penghasil padi, kopi, dan sayuran. Di daerah Jalasumbu sawah bertingkat menyuguhkan pemandangan yang memikat—sehingga banyak turis asing yang rehat disitu, sepertinya cocok kalau dibuat rest area.

Menjelang kota Ende jalanan terus menurun. Di beberapa sisi tebing air mengalir melalui pancuran kecil—saya sempat berhenti sebentar, mengganti kaus yang sudah basah  dan mencuci muka sejenak.

Saat sudah berjalan jauh dari titik tersebut tiba-tiba seorang pemotor menyalip dan bertanya apakah saya kehilangan sesuatu, saya baru sadar: sarung tangan! Pemuda itupun langsung menyerahkan sarung tangan saya yang tertinggal di pancuran tadi! Tanpa basa-basi, ia tancap gas kembali pulang, saya tertegun membayangkan sejauh itu ia sudi menyusul hanya untuk menyerahkan sepasang sarung tangan.


Jalanan semakin curam dan berkelok tajam. Jurang menganga di sebelah kiri, sementara bukit bergelombang khas NTT berdiri dengan gagahnya di sebelah kanan. Di kilometer ke-8 menjelang Ende, saya disapa pengendara motor dari komunitas Mio bernama Katib yang baru pulang mengajar di Wolowaru.


Obrolan ringan terjadi: dari mana, mau ke mana, iapun mengajak saya untuk  menginap di rumahnya, namun sayang saya sudah punya janji terlebih dahulu dengan seseorang dari komunitas sepeda Ende atas rekomendasi Sahrul dari Bali itu. 

Ia mengantar sampai ke lokasi pertemuan dan akhirnya saya berjumpa dengan Heru, orang yang dijanjikan Sahrul. Beliau membonceng dua anak perempuannya di atas motor dinas kepolisian.

Sebelumnya mas heru sempat menghubungi saya via WA saat di Moni, ia mendapat kabar dari Sahrul soal sepeda saya yang bermasalah, kamipun lanjut ngobrol di foodcourt di pinggir pantai pesisir barat Ende yang rapi dan bersih, di sana kami menikmati es buah dan cerita hangat.

Mas Heru, adalah polisi sekaligus penggemar sepeda. Ia pernah membantu pelaksanaan beberapa kegiatan bersepeda seperti Tour de Flores, Jelajah Kompas dll. Ia menawarkan saya berkeliling kota esok hari untuk mengunjungi situs Bung Karno—yang tentu saja saya sambut dengan antusias.

Usai ngopi dan candaan ringan, ia pamit pulang karena anak-anaknya harus istirahat. Bang Katib dan saya pun menyusul meninggalkan tempat tersebut dan ternyata semua pesanan sudah dibayar oleh Mas Heru. 

Dengan ditemani bang Khatib saya mencari penginapan terdekat saja dan menemukan- nya di sebuah rumah kos dengan tarif harian, ber-AC dan cukup nyaman—Rp175 ribu per malam. Tempat tersebut menjadi rumah singgah saya di kota tempat Pancasila dilahirkan.


bike to pulau
Bangun menjelang pagi demi mengejar sunrise.

bike to pulau
Kicauan burung menemani sepanjang perjalanan menuju puncak Kelimutu.

bike to pulau
Teralis pagar untuk kemudahan pengunjung menaiki tangga.

bike to pulau
DanauTiwu Nuwa Muri dan Ata Polo.

bike to pulau
Instalasi sepeda terbuat dari bambu.


bike to pulau
Puncak pendakian diatas Moni.

bike to pulau
Sawo Ende yang rasanya seperti buah Plum.

bike to pulau
Idi Amin nampak berjajar dengan motor-motor yang diparkir saat hujan menjelang Detusoko..

bike to pulau
Menerima keramahan khas daerah setempat.

bike to pulau
Pegunungan menjelang Ende.

bike to pulau
Senja di pantai Ende.

bike to pulau

bike to pulau



Labels: , , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home