12.2.18

KOTA RAHIMNYA PANCASILA

bike to pulau

29 November 2017.
 
Pagi itu terbangun dengan rasa segar yang luar biasa, mungkin hasil dari tidur panjang semalam setelah menikmati Soto Lamongan dan empuknya kasur penginapan yang memeluk kelelahan saya. 

Karena lapar dan penginapan tak menyediakan sarapan, usai membersihkan diri saya cari keluar, para penghuni kos lain tampak sedang bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya masing-masing. 

Saya berkeliling sebentar di tengah kota Ende yang mulai menggeliat, sebuah warung yang sedang ramai menarik perhatian, nasi kuning istimewa, saya minta dibungkus saja.

Sambil sarapan, saya berbincang dengan pegawai penginapan, ia sempat memberi sedikit peringatan bila nanti melewati Danau Ranamese di Manggarai "tempatnya angker jika dilewati malam hari" katanya. Entah mitos entah pengalaman, saya hanya tersenyum saja, tapi menyimpan informasi itu di saku kecil perjalanan.

Mas Heru datang sesuai janji pagi itu, ia membawa sebungkus nasi uduk untuk saya katanya, karena sudah makan, saya simpan saja sebagai bekal nanti di jalan. Kami tinggalkan penginapan dan mulai menyusuri kota di bawah matahari 25 derajat Celsius—udara yang ramah bagi pesepeda.

Perhentian pertama adalah titik nol kilometer di seberang lapangan olahraga. Tempat ini menjadi spot foto wajib bagi para petualang sepeda dan motor yang melintas di pulau ini, di depannya, sebuah kantor pemerintah sedang ramai oleh kegiatan koordinasi kependidikan, detak publik dan jejak sejarah bersisian di satu poros.

Tujuan selanjutnya menuju ke sebuah taman yang rindang—tempat dulu Bung Karno sering nongkrong dan memikirkan nasib bangsanya di pengasingan, ya di bawah pohon sukun itu. Dari pohon itu pula lahir gagasan besar bernama Pancasila. lima daun, lima sila, sebuah renungan yang akhirnya menjadi fondasi negeri.

Saya tak sabar untuk menuju situs berikutnya—rumah pengasingannya. Di perjalanan beberapa orang tampak keheranan melihat saya bersepeda dengan pannier besar dikawal petugas berseragam lengkap, mungkin mereka mengira saya tokoh penting, saya hanya bisa menyapa dengan senyum tipis.

Rumah Bung Karno itu tampak sederhana namun istimewa, bersih dan terawat. Ruang tamu, kamar tidur, dapur, masih dijaga keasliannya, sementara sumur tua dengan kerekan dan embernya masih berdiri dengan baik bahkan surat nikah dan surat cerai Bung Karno dengan Ibu Inggit Garnasih di tahun 1942 masih ada dan turut dipamerkan, disini saya diajak meresapi empat tahun hidup Bung Karno yang sunyi namun penuh visi.

Setelah berpamitan, saya dan mas Heru meninggalkan Ende untuk melanjutkan perjalanan ke Boawae—75 km jauhnya. Di tengah ayunan pedal, saya melihat sosok familiar, David! Si hitchhiker asal Kanada itu sedang berjalan kaki, masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat pertama kami bertemu di Moni.

Kali ini giliran saya yang menegur, dia sempat kaget dan akhirnya kita tertawa-tawa di pinggir jalan itu, berbincang tentang makanan lokal dan sempat saya sarankan untuk mengunjungi rumah Bung Karno, ia setuju lalu kami berpisah lagi. Mas Heru terus "mengawal" saya dari depan sementara teluk Ende yang biru nan tenang di sebelah kiri saya, dalam sejarah Indonesia, laut ende mempunyai peran yang tak kalah penting.

Jalanan sepi membuat percakapan kami mengalir deras, Mas Heru asli Tulung Agung besar di Bali, menikah dengan perempuan Bima dan sudah berdinas di Ende selama 13 tahun. Seorang Bripka dengan dedikasi tinggi bertugas sebagai Babinkamtibmas di Desa Borokanda—searah jalan dengan saya yang menuju boawae. 

Sebelum berpisah di tempat tugasnya, kami sempatkan foto bareng. Sang fotografer dadakan: seorang anak SD yang baru pulang sekolah, detik kecil yang akan terus saya ingat.

Jalur Trans Flores di pesisir Ende itu menyambut saya dengan terik matahari yang panasnya bisa menyentuh 35 derajat, hingga di beberapa titik harus berhenti, berteduh dan menyerap air. 

Jalanan sebagian sudah lebar, 7 meter sesuai standar nasional, sisanya masih sempit—mungkin menunggu anggaran tambahan, seperti penjelasan petugas Binamarga di Talibura beberapa hari lalu.

Merasa tubuh sedikit lemah saya mampir di sebuah warung dan memesan segelas kopi, sang ibu pemilik kios itu bilang tidak menjual kopi, namun tiba-tiba dari bangku di dekat situ seorang bapak tua berteriak ke rumah sebelahnya, meminta dibuatkan kopi untuk saya. Ternyata suara itu datang dari Pak Ahmad, tetua kampung disitu yang mana semua rumah di sekelilingnya adalah anak-anaknya. 

Dengan peci hitam dan batik rapi siap bepergian, Pak Ahmad bercerita tentang anaknya yang berdinas sebagai TNI di Jayapura, pulang mudik tiga tahun sekali, katanya. Setelah kopi hangat hadir dan berbagai cerita mengalir, angkutan kota yang ia tunggupun datang. Ia pamit, meninggalkan jejak hangat di perjalanan ini.
 


Melintasi Senyap Menuju Boawae: Kopi Kampung, Batu Berwarna dan Cahaya di Tengah Gelap.


Segelas kopi hangat dari kebun miliknya sendiri membuat tubuh saya kembali bertenaga, rasanya pekat dan bersahaja. Saat saya bertanya soal harga, si ibu itu menolak halus, “Tamu Bapak tak usah bayar,” ujarnya sambil tersenyum. Diam-diam saya selipkan selembar uang di bawah piringnya—bukan semata untuk kopi, tapi sebagai penghormatan untuk tutur lembut dan wejangan singkat dari seorang tua yang bijak.

Matahari masih menggigit, pohon kelapa di pinggir jalan sesekali jadi payung alami, di tengah lapar yang mulai mendera saya singgahi sebuah pondok makan di kawasan Batu Hijau, pantai yang tenang dan nyaman cocok untuk melepas penat. 

Sepeda saya senderkan di gazebo dan nasi bungkus pemberian Mas Heru jadi santapan saya siang itu ditemani jus nanas dan semilir angin laut ende.

Pantai ini tak biasa. Batu-batu kecil berwarna-warni berserakan, konon katanya berasal dari lava di bawah laut. Selain daerah Batu Hijau ada juga Batu Biru—barisan pesisir yang menyimpan corak alam tak terduga.

Di antara tamu yang datang saya sempat berbincang dengan seorang manajer pemasaran produk minuman ternama. Ibunya asal Cianjur, iapun memberikan referensi tempat menginap di Ruteng nanti—saya catat rapi di buku kecil.

Saat perjalanan berlanjut ke Nangaroro, jalan mulai menanjak, berkelok pelan. Kebun kelapa, kemiri, dan kakao mengisi kiri-kanan jalan, penduduk tampak sibuk membersihkan ranting dan menyapa ramah dari ladang mereka.

Tiba di mBay hari mulai redup, di persimpangan tiga saya ambil ke kiri menuju Boawae. Sisa jarak: 35 km. Saya siapkan lampu senter di atas stang karena malam mulai tiba, namun cahaya senter meredup ternyata baterenya nyaris habis—mungkin karena digunakan malam sebelumnya saat listrik PLN putus. 

Saya cari warung berharap ada baterai baru, namun warung sulit ditemukan.  Di tengah kegelapan terdengar suara motor mendekat dari belakang, saya beri aba-aba berharap ia mau berbagi sinar lampunya, ternyata si pengendara—seorang PNS dengan seragam lengkap—juga tak berlampu. Ia pun buru-buru melaju mungkin mengejar waktu.

Kondisi gelap sekali, beberapa penduduk berjalan pulang dari ladang tanpa cahaya. Ketika motor lain lewat saya coba lagi, motor itu akhirnya melambat dan menyapa ramah namun suara mereka terdengar khas, ternyata sepasang waria yang hendak pulang ke Boawae dan menyarankan saya untuk berhati-hati. 

Gelap yang menyelimuti malam itu adalah pengalaman pertama saya mengayuh tanpa bintang, tanpa bulan, hanya ditemani suara binatang malam. Di kampung berikutnya barulah ketemu warung yang masih buka. 

Saya berhenti tepat di bawah lampu penerangan yang terang benderang—beberapa pemuda tengah nongkrong sambil menyeruput Moke. Untungnya barang yang dicari tersedia, setelah dipasang cahaya senter kembali terang rasanya seperti menemukan harapan.

Pemuda-pemuda di warung itu lalu memberi info bahwa Boawae sudah tak jauh lagi tapi pendakian pegunungan Abulobo setinggi 1.100 mdpl harus dilewati dulu. Tak ada pilihan saya mulai mendaki. Samar-samar pepohonan merayap di lerengnya, tanjakan curam sempat membuat nyali ciut tapi langkah tak boleh mundur. 

Akhirnya, turunan panjang terbentang, walau gelap masih pekat, jurang di kanan tak tampak jelas, saya kayuh perlahan namun mantap hingga tibalah di sebuah rumah pertama dengan lampunya yang menggantung depan di teras. 

Saya berhenti sejenak, membakar sebatang rokok, meresapi perjalanan. Sang pemilik rumah keluar dan menawarkan saya untuk masuk, tapi saya sampaikan hanya sebentar saja untuk menyapa malam. Rokok habis saya lanjutkan kayuhan, beberapa bukit terlalui hingga tibalah di lokasi penginapan yang dituju—terletak di pertigaan Boawae menuju Pasarabu. 

Sepeda saya parkirkan di garasi, pintu diketuk tapi tak ada jawaban, akhirnya datang seorang ibu muda yang indekos di sana yang baru pulang kerja di bank di seberang jalan. Ia pun memanggilkan sang pemilik penginapan.


Alhamdulillah kamarpun tersedia, saat lapar menyerang saya menanyakan tempat warung makan. “Sudah tutup semua sekarang sudah pukul 22,” kata ibu tadi. Mungkin karena iba ia minta pembantunya yang sempat terjaga tadi untuk menyiapkan saya makan malam. 

Sepiring nasi putih dan telur ceplok dadakan menjadi hidangan hangat yang penuh berkat dimalam itu.


bike to pulau
Patung Bung Karno diabadikan di salah satu sudut taman perenungan di kota Ende.

bike to pulau
Sebagian barang-barang memorabilia BK disimpan di ruang belakang yang menghadap Taman.

bike to pulau
No comment.

bike to pulau


bike to pulau
Polisi Asyik.

bike to pulau
Didepan kantor Babinkamtibmas Borokanda, diabadikan oleh pelajar SD yang baru pulang sekolah.

Bersama Pak Ahmad yang hendak menuju Mbay.


Melintasi Senyap Menuju Boawae: Kopi Kampung, Batu Berwarna, dan Cahaya di Tengah Gelap

Segelas kopi hangat dari kebun miliknya sendiri membuat tubuh saya kembali bertenaga. Rasanya pekat dan bersahaja. Saat saya bertanya soal harga, si ibu itu menolak halus, “Tamu Bapak tak usah bayar,” ujarnya sambil tersenyum. Diam-diam, saya selipkan selembar uang di bawah piringnya—bukan semata untuk kopi, tapi sebagai penghormatan untuk tutur lembut dan wejangan singkat dari seorang tua yang bijak.

Siang masih menggigit. Pohon kelapa di pinggir jalan sesekali jadi payung alami. Di tengah lapar yang mulai mendera, saya singgah di sebuah pondok makan di kawasan Batu Hijau, pantai yang tenang dan nyaman, cocok untuk melepas penat. Sepeda saya senderkan di gazebo, sementara nasi bungkus pemberian Mas Heru jadi santapan siang ditemani jus nanas dan semilir angin.

Pantai ini tak biasa. Batu-batu kecil berwarna-warni berserakan, konon katanya berasal dari lava di bawah laut. Selain daerah Batu Hijau, ada juga Batu Biru—barisan pesisir yang menyimpan corak alam tak terduga. Di antara tamu yang datang, saya sempat berbincang dengan seorang manajer pemasaran produk minuman ternama. Ibunya asli Cianjur. Ia memberi beberapa referensi tempat menginap di Ruteng nanti—saya catat rapi di buku kecil.

Perjalanan berlanjut ke Nangaroro. Jalan mulai menanjak, berkelok pelan. Kebun kelapa, kemiri, dan kakao mengisi kiri-kanan jalan. Penduduk tampak sibuk membersihkan ranting dan menyapa ramah dari ladang mereka.

Hari mulai redup ketika saya tiba di simpang tiga. Arah kanan ke Mbay, saya ambil kiri menuju Boawae. Sisa jarak: 35 km. Saya siapkan lampu senter di atas stang sepeda karena malam mulai tiba.

Cahaya senter meredup. Baterainya nyaris habis—mungkin karena digunakan malam sebelumnya saat listrik PLN putus. Saya cari warung, berharap bisa membeli baterai baru, tapi tak kunjung ditemukan. 

Di tengah gelap, terdengar suara motor mendekat. Saya beri aba-aba, berharap ia mau menemani dengan sinar lampunya. Ternyata si pengendara—seorang PNS dengan seragam lengkap—juga tak punya lampu. Ia buru-buru mengejar waktu sebelum malam datang sepenuhnya.

Langit gelap betul. Beberapa penduduk berjalan pulang dari ladang tanpa cahaya. Ketika motor lain lewat, saya coba lagi menghentikan. Dua pengendara akhirnya melambat. Suara mereka khas. Ternyata sepasang waria yang hendak pulang ke Boawae. Dengan dandanan nyentrik dan suara yang jenaka, mereka menyapa ramah, lalu lanjut perjalanan setelah menyarankan saya untuk berhati-hati.

Gelap yang menyelimuti malam itu adalah pengalaman pertama saya mengayuh tanpa bintang, tanpa bulan, hanya ditemani suara binatang malam. 

Di kampung berikutnya, barulah ketemu 2 warung yang masih buka. Saya berhenti di salah satu yang lengkap—beberapa pemuda nongkrong sambil menyeruput Moke. Untungnya barang yang dicari, baterai, tersedia. Setelah dipasang, cahaya senter kembali terang. Rasanya seperti menemukan harapan.

Pemuda2 warung itu lalu memberi info bahwa Boawae sudah tak jauh lagi. Tapi pendakian pegunungan Abulobo setinggi 1.100 mdpl harus dilewati dulu. Tak ada pilihan, saya mulai mendaki. Rimbun pepohonan merayap di lereng. Tanjakan curam sempat membuat nyali ciut, tapi langkah tak boleh mundur.

Akhirnya, turunan panjang terbentang. Gelap masih pekat, jurang di kanan tak tampak jelas. Saya kayuh perlahan namun mantap, hingga tibalah di sebuah rumah dengan lampu menggantung di teras. 

Saya berhenti, membakar sebatang rokok, meresapi perjalanan. Sang pemilik rumah keluar, menawarkan saya masuk. Tapi saya sampaikan hanya ingin duduk sebentar saja dan menyapa malam. Sebatang habis, saya lanjutkan kayuhan. Bukit-bukit dilalui, hingga tibalah di lokasi penginapan yang dituju—terletak di pertigaan Boawae menuju Pasarabu. 

Sepeda saya parkirkan di garasi. Saya ketuk pintu, tapi tak ada jawaban. Seorang ibu muda yang indekos di sana akhirnya datang, rupanya ia baru pulang kerja dari bank di seberang jalan. Ia pun memanggil sang pemilik penginapan.

Kamar tersedia. Pannier saya lepas dan dibawa masuk. Saat lapar menyerang, saya menanyakan tempat warung makan. “Sudah tutup semua, sekarang sudah pukul 22,” kata ibu tadi. Mungkin karena iba, ia minta pembantunya yang sempat terjaga, untuk membuatkan makan malam. Sepiring nasi putih dan telur ceplok dadakan—hidangan hangat yang terasa seperti berkat.


bike to pulau
Resort makan Batu Hijau.

bike to pulau
Santai setelah mengisi perut.

bike to pulau
Jalanan mulus dan sepi.

bike to pulau
Bunga liar di Nangapanda

bike to pulau
Anak Toba di pertigaan menuju Mbay.


Labels: , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home