1.2.18

KETEMU CARMEL & SANTY


bike to pulau

27 November 2017.

 

Pagi-pagi sesaat setelah ponsel dinyalakan sebuah pesan muncul dari nomor tak dikenal, mengaku Sahrul dari Bali—ia tahu via grup medsos tentang kabar perjalanan saya yang sempat bermasalah dengan rem depan, lalu saya sampaikan kepadanya bahwa kondisi sudah terkendali, rem sudah membaik. Ia pun memberikan kontak lain di Flores yang bisa saya hubungi jika terjadi sesuatu lagi.

Dunia sepeda memang seperti keluarga besar—walau belum saling bertemu, rasa persaudaraan terasa hangat dan nyata, dan dukungan yang muncul dari ujung pulau lain itu memberi semangat hingga menyelinap ke dalam dada.

Setelah mengepak ulang pannier dan melunasi semua tagihan selama dua malam, saya bersiap menuju Moni didataran tinggi Kelimutu. Blasius menawarkan bantuan untuk mengangkut barang saya ke jalan Trans Flores karena akses jalannya tidak kondusif untuk naik  menuju kesana. “Sekalian menjemput anak pulang sekolah,” ujarnya. Pannier pun ia tumpangkan di atas motornya untuk bertemu lagi di jalan utama.

Jalan raya Trans Flores seperti biasa: sepi namun hangat, setelah bersalaman, saya berjanji akan mampir lagi suatu hari nanti. Di pagi itu sepeda dikayuh perlahan  mobil dan motor sesekali membunyikan klaksonnya sebagai bentuk sapaan,

Tanjakan pertama menuju Watuneso mulai menyapa. Di manual book, tertera jelas bahwa medan akan terus mendaki dari 4 mdpl hingga 900 mdpl di Moni, Kecamatan Kelimutu, ada tiga puncak pendakian besar yang sudah menunggu.

Dalam satu kesempatan dari arah berlawanan muncul dua pesepeda dengan pannier menggantung di kiri-kanannya, kami masing-masing berhenti, mereka yang ternyata perempuan memperkenalkan diri—Carmel dan Santi dari Sidney. Mereka akan menuju Maumere setelah memulainya dari Bajawa. “Medannya curam dan panjang,” kata salah satu dari mereka sambil tersenyum, kami pun saling mengambil foto dan melanjutkan perjalanan masing-masing. Dukungan kecil dari sesama petualang terasa seperti angin segar di tengah tanjakan panjang.

Laut selatan tampak menyelinap dari celah-celah pohon di perbukitan Watuneso, sementara disebelahnya terlihat gunung yang permukaannya berbentuk segitiga mungkin hasil perombakan dan erosi yang memahat bumi dengan sabar.

Panas semakin menyengat, dua botol minuman hampir kosong sementara warung belum kunjung terlihat. Di beberapa tikungan, bekas longsoran tampak masih menyisakan pasir, saya mengayuh pelan, waspada, satu kesalahan kecil bisa tergelincir.

Akhirnya sebuah warung berbilik bambu saya temukan, seperti biasa di dalamnya terdapat kulkas berisi minuman favorit—seperti harta karun kecil, saya minum dan mengisi isi ulang bidon. Saat saya tanya tempat warung makan si pemilik bilang masih jauh… akhirnya perutpun mengalah, mengandalkan sisa-sisa tenaga.

Tanjakan demi tanjakan dilalui, elevasi berubah cepat tubuh mulai letih, tapi akhirnya sepeda tiba juga di puncak, di bawah sana kampung besar sudah terlihat,  sementara jam menunjukkan pukul 15.30, sepeda saya kayuh cepat menuju daerah Wolowaru itu

Sebuah warung makan milik pendatang dari Banyuwangi ini menjadi rumah pertama yang ditemukan di daerah itu, tempatnya cukup nyaman, ruang makannya terpisah dari tempat ngopi yang terbuka tanpa dinding, kursi yang terbuat dari ban mobil daur ulang terasa empuk saat diduduki—perhentian yang pas untuk sedikit meregangkan otot.

Setelah makan saya pesan kopi, disana sudah ada seorang pria yang sedang istirahat yang ternyata pernah tinggal di Bandung selama 9 tahun berkuliah di Ikopin Jatinangor sementara  istrinya di Unpad, asli Ruteng, mereka bertemu dan menikah disana. Bahasa Sunda pun sesekali keluar dari mulutnya yang menimbulkan tawa diantara kami. Orang baik itu hendak ke Larantuka untuk urusan bisnis, sebelum pergi ia memberikan nomor ponselnya—jika saya ada masalah, katanya. Sapaan kecil tapi berarti besar.

Kota Wolowaru sederhana, tapi fungsional, ada terminal antarkota, kantor polsek, rumah sakit, bank nasional, dan sejumlah sekolah. Kota kecil ini jadi penghubung penting antara Kecamatan Paga dan Moni, tempat tujuan berikutnya.

 

Moni Menyambut Senja: Lonceng Gereja, Pisang Hitchhiker, dan Kabut Pegunungan.

Selepas Wolowaru, jalan mulai menanjak pelan, 15 kilometer lagi menuju Moni! segmen terakhir di hari itu. Di kiri-kanan, hutan pegunungan memayungi dengan rimbunnya—pohon-pohon tinggi bersanding dengan kebun kopi yang tumbuh subur menyuguhkan aroma hijau yang menyegarkan.

Tanjakan tak terlalu melelahkan, mungkin karena udara pegunungan yang sejuk membalut tubuh dan pikiran. Sepeda jalan perlahan, sesekali berhenti di titik-titik menarik, sekadar mengambil gambar dan menikmati lanskap yang membentang, dari pesisir yang jauh di bawah hingga kabut tipis yang memeluk punggung bukit—semuanya menjelma jadi teman di perjalanan.

Di ujung pendakian tiba-tiba jalan mendatar dengan hamparan sawah yang menguning bersinar di bawah sinar sore, dentang lonceng gereja terdengar sayup-sayup, menggema, saya melirik jam ternyata sudah pukul 18.00 WIT. Sawah-sawah itu rupanya menjadi gerbang tak resmi Kec. Moni. Pasar mulai terlihat dan rasa lega perlahan hadir—tanda bahwa tujuan hari itu nyaris tercapai.

Saya mulai melirik kanan-kiri mencari tempat menginap yang pas, namun dari seberang jalan seorang bule menyapa, ia bercelana pendek, kemeja coklat, bersepatu boot dengan tangan menenteng sesisir pisang dan sebotol air mineral, mengaku bernama David dari Kanada. “Dari mana, mau ke mana?” tanyanya, begitu tahu saya juga berangkat dari Larantuka kamipun langsung nyambung.

David seorang hitchhiker. Ia menempuh rute yang sama tapi dengan cara berbeda—menumpang kendaraan tanpa bayar, dua pejalan dari kota yang sama, bertemu di persimpangan tak terduga.

Ia bercerita soal kamar murah di pedalaman Moni, dekat air terjun, harganya hanya 60 ribu per malam dan mengajak saya untuk menginap disana. Tapi setelah saya cek di peta, lokasinya terlalu jauh dan medannya tak bersahabat untuk sepeda, kami pun berpisah dengan saling menguatkan.

Tak lama setelah itu, suara pria dari seberang jalan yang tengah menggendong anak memanggil, menawarkan tempat menginap di rumahnya. Setelah tawar-menawar singkat, kami sepakat di harga 200 ribu per malam—sudah termasuk air panas dan sarapan pagi.

Kamarnya cukup besar dan sepeda diperbolehkan masuk. Saya segera mandi, lalu beranjak ke restoran kecil yang menawarkan Capcay kuah, lumayan sebagai penghangat malam. Di sudut ruangan, dua turis asing tampak dikerumuni para pemandu lokal—bernyanyi diiringi petikan gitar tua, menjadi harmoni sederhana di tengah dinginnya Moni.

Sepulangnya ke penginapan, pemilik yang bernama Silvester itu tengah mengobrol dengan tamu lain—seorang canvasser dari perusahaan rokok Kudus. Di sela obrolan, ia sempat berbagi cerita: anak perempuannya kini kuliah di Jakarta, mengambil jurusan perpajakan, ia sering menjenguknya kesana. Saat saya bercanda soal kemungkinan anaknya menikah dengan orang Jakarta, ia hanya terkekeh, tanpa jawaban.

Kabut mulai turun, tubuh pun mengirim sinyal untuk segera beristirahat. Sebelum pamit, ia bertanya apakah saya mau ke Danau Kelimutu besok? “Boleh, kalau bisa dijemput,” sahut saya. “Di sini tak ada ojek, kalau mau, sewa saja motor saya.” Jawabnya, setelah sedikit nego kita sepakat di angka 75 ribu.





bike to pulau
Longsoran yang menyisakan kerikil di tikungan yang bisa membahayakan pengendara roda dua. 

bike to pulau
Tikungan berbentuk hairpin yang banyak terdapat di Watuneso.

bike to pulau
Rumah makan pertama menjelang Wolowaru, 

bike to pulau
Pesawahan menjelang Moni.

bike to pulau
David seorang Hitchhiker asal Kanada.

bike to pulau

bike to pulau

bike to pulau

Labels: , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home