ABULOBO
30 November 2017.
Hari ini adalah hari istirahat. Seperti ritme yang
saya tentukan setiap tiga hari bersepeda, tubuh perlu istirahat pikiran pun
butuh melambat. Pakaian kotor dan kenangan debu jalan saya keluarkan dari
pannier—siap untuk dibersihkan dan dijemur di bawah langit Boawae.
Sarapan hangat yang datang dari dapur penginapan:
nasi goreng dan kopi hitam saya santap di teras kamar sambil menikmati matahari pagi
yang menari di sela-sela daun mangga. Udara sejuk menyelinap pelan mengiringi
hiruk-hening penginapan yang tak jauh dari jalur Trans Flores.
Penginapan ini sederhana namun nyaman. Hanya enam
kamar tersedia, halaman berumput hijau dan pohon buah-buahan tumbuh di sekitar
pagar hidup yang sedang berbunga. Uniknya, kamar mandi di tiap kamar tak
berdinding penuh nyaris menyatu dengan kamar tidur.
Boawae adalah kota kecamatan kecil di Kabupaten
Nagekeo terletak di bawah kaki Gunung Abulobo yang menjulang di tenggara,
tanahnya subur karena limpahan abu vulkanik. Udara sejuk, kontur berbukit
dan langit yang tak lekang birunya membuat tempat ini ideal untuk transit
sekaligus menyerap keheningan.
Di utara penginapan terdapat Pasar Rabu, pusat
pertemuan warga dan barang: sembako, ternak, suvenir, material bangunan, semua
berpadu dalam satu ruang penuh cerita.
Namun, seperti di banyak pelosok Flores, listrik
masih menjadi kemewahan yang tak selalu tersedia.
Seperti pagi ini, listrik
padam sementara gopro menjerit meminta dipindahkan memorinya, laptop pun
terdiam tak berdaya. Saya biarkan teknologi itu untuk merunduk sejenak, lalu
beralih mencuci pakaian—deterjen sisa dari Koka masih setia dalam wadahnya.
Menjelang siang perut mulai berdendang tuan rumah
menunjukan arah ke warung makan yang berada sekitar satu kilometer kearah luar
kota. Dengan diantar anak tukang kebun memakai motor bapaknya ia curhat tentang
keinginannya kembali ke Jakarta dimana ia pernah menjadi sopir pribadi. “Di
sini tak ada kerjaan,” ujarnya singkat.
Rumah makan Handayani itu sering dijadikan rest area oleh perusahaan travel pelintas jalur Trans Flores, pemiliknya orang Sidoarjo yang sudah lama menetap di sini. Saya memilih sayur asam, tempe dan tahu—hidangan sederhana yang sudah lama tak mampir di lidah.
Dari samping
warung, Gunung Abulobo tampak terlihat megah, stratovolcano dengan puncak kubah
sedikit melekuk terakhir meletus di tahun 1830, tapi wajahnya tetap gagah,
menjaga kota kecil yang tenang ini.
Saat kembali ke penginapan langit mulai menurunkan
airnya dengan deras untungnya jemuran sudah diselamatkan, siang itu menjadi
gelap dan malas, hanya rebahan yang bisa dilakukan membiarkan tubuh tenggelam
dalam kelembutan bantal dan suara hujan di luar sana.
Listrik baru menyala sore dan buru-buru saya pindahkan file Gopro ke laptop hijau yang selalu siaga, HP dan powerbank pun diisi penuh dan batere senter sudah siap untuk etappe berikutnya.
![]() |
| Bangunan utama yang ditinggali oleh yang empunya |
Labels: abulobo, bike to pulau, boawae, nagekeo, nusa bunga, pasar rabu











0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home