14.2.18

ABULOBO

bike to pulau

30 November 2017.
 
Hari ini adalah hari istirahat. Seperti ritme yang saya tentukan setiap tiga hari bersepeda, tubuh perlu istirahat pikiran pun butuh melambat. Pakaian kotor dan kenangan debu jalan saya keluarkan dari pannier—siap untuk dibersihkan dan dijemur di bawah langit Boawae.

Sarapan hangat yang datang dari dapur penginapan: nasi goreng dan kopi hitam saya santap di teras kamar sambil menikmati matahari pagi yang menari di sela-sela daun mangga. Udara sejuk menyelinap pelan mengiringi hiruk-hening penginapan yang tak jauh dari jalur Trans Flores.

Penginapan ini sederhana namun nyaman. Hanya enam kamar tersedia, halaman berumput hijau dan pohon buah-buahan tumbuh di sekitar pagar hidup yang sedang berbunga. Uniknya, kamar mandi di tiap kamar tak berdinding penuh nyaris menyatu dengan kamar tidur. 

Boawae adalah kota kecamatan kecil di Kabupaten Nagekeo terletak di bawah kaki Gunung Abulobo yang menjulang di tenggara, tanahnya subur karena limpahan abu vulkanik. Udara sejuk, kontur berbukit dan langit yang tak lekang birunya membuat tempat ini ideal untuk transit sekaligus menyerap keheningan.

Di utara penginapan terdapat Pasar Rabu, pusat pertemuan warga dan barang: sembako, ternak, suvenir, material bangunan, semua berpadu dalam satu ruang penuh cerita.
Namun, seperti di banyak pelosok Flores, listrik masih menjadi kemewahan yang tak selalu tersedia. 

Seperti pagi ini, listrik padam sementara gopro menjerit meminta dipindahkan memorinya, laptop pun terdiam tak berdaya. Saya biarkan teknologi itu untuk merunduk sejenak, lalu beralih mencuci pakaian—deterjen sisa dari Koka masih setia dalam wadahnya.

Menjelang siang perut mulai berdendang tuan rumah menunjukan arah ke warung makan yang berada sekitar satu kilometer kearah luar kota. Dengan diantar anak tukang kebun memakai motor bapaknya ia curhat tentang keinginannya kembali ke Jakarta dimana ia pernah menjadi sopir pribadi. “Di sini tak ada kerjaan,” ujarnya singkat.

Rumah makan Handayani itu sering dijadikan rest area oleh perusahaan travel pelintas jalur Trans Flores, pemiliknya orang Sidoarjo yang sudah lama menetap di sini. Saya memilih sayur asam, tempe dan tahu—hidangan sederhana yang sudah lama tak mampir di lidah. 

Dari samping warung, Gunung Abulobo tampak terlihat megah, stratovolcano dengan puncak kubah sedikit melekuk terakhir meletus di tahun 1830, tapi wajahnya tetap gagah, menjaga kota kecil yang tenang ini.

Saat kembali ke penginapan langit mulai menurunkan airnya dengan deras untungnya jemuran sudah diselamatkan, siang itu menjadi gelap dan malas, hanya rebahan yang bisa dilakukan membiarkan tubuh tenggelam dalam kelembutan bantal dan suara hujan di luar sana.

Listrik baru menyala sore dan buru-buru saya pindahkan file Gopro ke laptop hijau yang selalu siaga, HP dan powerbank pun diisi penuh dan batere senter sudah siap untuk etappe berikutnya.



bike to pulau
Penginapan yang berada di samping jalur Trans Flores.

bike to pulau

bike to pulau

bike to pulau
Tempat tidur dan kamar mandi di dalam yang dipisahkan oleh setengah tembok. 


bike to pulau
Bangunan utama yang ditinggali oleh yang empunya

bike to pulau

bike to pulau

bike to pulau

Labels: , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home