20.2.18

PONDOK PENEDUH

bike to pulau

1 Desember 2017.
 
Hari pertama di bulan Desember dibuka dengan langkah pasti: Bajawa jadi tujuan, hanya 53 kilometer dari Boawae. Langit pagi bersahabat, seolah membalas hujan deras kemarin yang membuat tanah dan daun berkilau dalam segarnya alam flores.

Setelah urusan penginapan selesai, saya kembali ke atas sadel dan mulai mengayuh jalur Trans Flores yang meliuk dengan tenang. Lanskap Boawae masih mendatar, meski berkelok pelan. 

Pepohonan kemiri, asam, kayu manis, sengon, hingga lontar berjajar setia di sepanjang jalan, di sebuah sudut kampung, padi menguning menghampar siap dipanen—sebuah salam sunyi dari petani-petani yang bekerja dalam diam.

Suara burung bercampur desiran angin di dedaunan jadi latar belakang hari ini. Angkutan umum sesekali melintas selebihnya hening. Dalam kesendirian ini kadang saya menelepon keluarga atau teman-teman, sekadar berbagi cerita atau menukar tawa, karena satu-satunya hiburan yaitu speaker aktif yang saya bawa dari Bandung hilang saat transit di Bali jadi teman ngobrol kini hanya lewat suara jarak jauh.

Tiba di perbatasan Golewa jalan mulai menanjak, ladang-ladang penduduk jadi pemandangan utama, langit yang separuhnya tertutup awan membuat suhu sedikit sejuk cukup membantu saat menghadapi tanjakan panjang. Jauh berbeda dari dua hari lalu saat menuju Boawae, ketika matahari seperti menumpahkan seluruh panasnya. 

Di Malanuza jalan kembali landai, pohon-pohon salak di kiri jalan seolah membingkai petak lading, pasar tradisional tampak sepi mungkin bukan hari pasarnya. di sisi lain berdiri megah gedung Sekolah Tinggi Kejuruan Ngada.

Di depan warung yang sederhana, saya berhenti karena perut sudah memanggil. Sepiring makan siang jadi pelepas lapar di antara mahasiswa-mahasiswi yang baru pulang dari kampus dan berbincang pelan sebelum pulang ke kos-kosan di belakang kampung. Cerita lokal bercampur aroma masakan—kombinasi yang menyenangkan.

Perjalanan kembali berlanjut dan awan putih masih menggantung di langit menyambut saya jelang Mataloko. Kabut pelan-pelan turun menyelimuti jalan dan pepohonan, menambahkan nuansa magis ke dalam perjalanan. Di jalan datar, sebuah bangunan besar berpagar tembok menarik perhatian yang ternyata adalah Seminari Santo Yohanes Berkhmans—tempat para calon imam Katolik belajar dan ditempa.

Seminari ini berdiri di atas lahan seluas 70 hektar, berhawa sejuk, terletak di antara Kelurahan Todabelu dan Desa Mataloko, di seberangnya berdiri Rumah Retreat Kemah Tabor yang tampak scenik dengan taman-tamannya yang rapi, dibangun pada tahun 1932. 

Beberapa anak muda terlihat sedang berfoto sementara di halaman gerejanya kelompok paduan suara tengah merekam lagu daerah—tarian dan musik yang mengalun sendu, sang sutradara memberi arahan dengan semangat. Momen itu saya abadikan hingga memulai lagi kayuhan.

Kabut masih setia mendampingi. Di pertigaan Manulalu sebuah papan petunjuk arah berdiri, lurus menuju Bajawa dan belok kiri menuju kampung tradisional Bena. Saya penasaran dan bertanya pada seorang warga soal jarak. “Ke Bajawa 12 km ke Bena tinggal 10.” Katanya. 

Daya tarik Bena tak bisa saya tolak, kampung megalitikum yang namanya sudah mendunia seperti saudaranya Waerebo di Ruteng itu membuat sepeda saya arahkan kesana.

Jalan kabupaten sempit tak sampai lima meter lebarnya, tapi aspalnya mulus—seperti menyambut niat baik peziarah jalanan. Jalur yang sepi membuat saya melaju cepat, khawatir kemalaman lagi seperti hari sebelumnya. Beberapa kampung terlewati, medan menurun, tenaga pun hemat.

Kabut, Inerie, dan Malam di Rumah Pak Blas.

Sebelum sampai di Vila Manulalu, jalan menanjak curam menyambut tanpa kompromi. Karena terlambat mengoper gigi, sepeda terpaksa menyerah di tengah jalan, saya pun turun dan mendorongnya pelan—dalam sunyi, langkah demi langkah menuju puncak.

Vila Manulalu jadi penanda bahwa kampung Bena sudah dekat. Vila di atas bukit itu memamerkan lanskap menawan dengan Gunung Inerie berdiri gagah dari kejauhan, seperti penjaga pulau yang tak pernah tidur. Saya sempat menanyakan jarak ke Bena pada penjaga vila. “Sudah dekat,” katanya.

Tarif menginap di vila itu mulai dari 600 ribu rupiah per malam dan hari itu hanya tersisa dua kamar dari dua belas—selebihnya telah ditempati para tamu mancanegara. Rasanya terlalu mewah untuk saya yang bermodal peluh dan pedal. 

Saya lanjutkan perjalanan. Aspal mulai mengelupas, jalan menurun dan kabut tipis menggantung perlahan. Di balik putihnya kabut, pucuk-pucuk rumah tradisional mulai mencuat dan sayapun tiba di kampung Bena!

Atas kebaikan seorang pria bersepeda motor saya di antar ke rumah Pak Blasius—Koordinator penginapan di kampung itu. Menurut aturan adat tamu tidak bisa memilih sendiri tempat menginapnya jadi Pak Blas lah yang menentukan, demi keadilan bagi seluruh warga dan dihari itu ia memutuskan saya tinggal di rumahnya.

Saya bongkar barang dari sepeda, sedikit terkejut—uang di dompet tak cukup. Lalu Pak Blas membantu mencarikan ojek yang bisa mengantar saya ke Bajawa untuk ambil uang dan beli barang kebutuhan lainnya. Perjalanan 10 km ke Bajawa terasa cepat di bawah langit Flores yang sudah gelap tapi ramah.

Saat kembali ke Bena aroma masakan menyelinap dari dalam rumah, pak Blas dan keluarga sudah berkumpul di tengah ruangan dan siap untuk makan malam, sayapun bergabung setelah membersihkan diri. Nasi putih, ikan bakar dan sambal pedas tersaji hangat, obrolan mengalir, tanya jawab tentang perjalanan saya jadi bumbu pelengkap malam itu.


Kopi panas dari kebun mereka menjadi teman di tengah obrolan, Pak Blas bercerita tentang kampungnya yang konon telah berdiri sejak 1200 tahun lalu, adat istiadat masih dijaga erat tak banyak yang berubah, termasuk kepercayaan warga akan Yeta—dewa penjaga yang ada di puncak Gunung Inerie.

Ada 45 rumah di Bena memanjang dari utara ke selatan, pintu masuknya dari utara dan sisi selatan berupa tebing yang terjal. Di tengah kampung berdiri bangunan adat bernama Baga dan Ngadu, Baga mirip pondok kecil tak berpenghuni, sementara Ngadu bertiang tunggal beratap ijuk, tempat menggantung hewan kurban saat pesta Reba di setiap akhir Desember.

Disini warga laki-laki biasanya peladang dan perempuannya selain ke ladang, juga menenun kain tradisional. Agama Katolik jadi pegangan utamanya, namun adat tak pernah diganti. Malam merayap pelan, obrolan pun berakhir. 

Saya rebah di sudut ruangan sementara anggota keluarga di tengah. Tubuh lelah tapi mata tak kunjung terpejam, lantai bambu berderit tiap saya mencoba bergeser seolah turut menari bersama resah kecil yang mungkin diakibatkan oleh kopi yang enak tadi!



bike to pulau
Nikmatnya bersepeda di jalan yang sepi nan mulus.

bike to pulau
Sebagian dari hasil bumi.

bike to pulau
Rumah retreat.

bike to pulau
Seminarinya berada di seberang jalan trans Flores.

bike to pulau
Taman yang terpelihara dengan baik.


bike to pulau


bike to pulau

bike to pulau
Sesaat setelah tiba di kampung Bena.

bena flores
Pak Blasius di sore itu.

bike to pulau

bike to pulau


Labels: , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home