17.12.17

RAJA ADOBALA

pantai weri


22 November 2017.


Matahari menjulur perlahan dari balik Pulau Adonara, mengantar cahaya hangat ke sudut kamar pagi itu. Debur ombak di selat Flores seolah mengiringi sarapan sederhana yang dibawa petugas penginapan: roti lapis telur ceplok dan secangkir kopi lokal yang mengepul hangat, meninggalkan aroma bumi yang dalam. Satu hirupan, satu seruput, ditemani sebatang rokok, sungguh ritual pagi yang nikmat yang tak butuh embel-embel.

Mendapat kabar tentang bengkel motor dengan fasilitas pompa ban ada di dekat penginapan, sepeda hitam yang saya beri nama “Idi Amin”— benda tangguh yang akan menjadi sahabat sejati di tanah timur ini—saya keluarkan dari gudang dengan penuh antusias untuk mengisi angin ban.

Bengkelnya berdiri berhimpitan dengan Pasar Baru Larantuka, sederhana tapi ramai. Orang-orang dari penjuru Flores Timur datang ke sana untuk mencari onderdil, reparasi, dan juga solusi. Deretan barang di etalasenya mengejutkan: lengkap seperti bengkel kota besar.
Pemiliknya ramah dan informatif, menyebut semua stok barang datang dari Kupang yang diangkut seminggu dua kali oleh kapal Feri. Ritme perdagangan yang terus hidup dalam denyut pelabuhan.

Merakit Mimpi: Pannier, Bel dan Nasi Merah.

Selesai urusan ban, dengan duduk di teras cottage saya bongkar Pannier Eiger yang akan menggendong berbagai perlengkapan sepeda. Rak depan, pompa mini, botol minum, Extender Bar, Speedometer, bel kecil. Satu per satu dipasang. Di siang yang lengang itu sepeda terasa kian siap.

Setelah semua rapi saatnya tes beban. Sambil menyusuri jalan mencari tempat makan pedal dikayuh perlahan, menjaga ritme dan memperhatikan getaran, beberapa warung dilewati hingga akhirnya sebuah warung pecel khas Surabaya berhias spanduk besar “Sedia Es Buah” menarik lidah saya.

Pemiliknya beretnis Tionghoa, pendatang dari Kota Buaya, ia melatih warga lokal jadi juru masaknya. Pecel datang hangat dengan bumbu kacang kental dan kerupuk udang yang renyah, menyentuh lidah dengan kejutan rasa. Sayangnya es buah yang  diingini ternyata sudah habis—diborong pegawai kabupaten, katanya. Es buah di tengah siang yang terik itu tiba-tiba hilang dari daftar rasa.

Obrolan dengan pemilik warung membuka jalan cerita lain. Ia menyarankan saya untuk mengunjungi Pantai Weri, tak jauh dari pusat kota. Setelah menyelesaikan bon, sepedapun langsung melaju.
 


Menapaki Pasir Putih, Menyentuh Laut Adonara.

Pantai Weri cukup indah dengan pasir putihnya, menghadap langsung ke selat kecil pulau Adonara yang seolah bisa dijangkau dengan satu lemparan batu. Sayangnya tempat tersebut belum digarap oleh pemerintah.  

Namun ada secercah harapan—lokasi bernama Asam Satu Beach itu mulai dikembangkan oleh warga lokal dipimpin oleh pemuda bersemangat bernama Nong Gembel. Disana saya melihat rombongan ibu-ibu Bhayangkara dengan seragam ungu tengah menggelar outbond. Drone melayang di langit, merekam gerak-gerik mereka dengan elegan.

Pantai ini cukup menjanjikan. Fasilitas toilet, tempat bilas, kuliner, parkir motor, gazebo beratap rumbia dan arena bermain anak tersedia walau sederhana. Tiket masuk hanya sumbangan seikhlasnya yang ditaruh di kotak kaca. Merasa cukup, kemudian saya tuju Gereja Besi—Gereja Katedral Reinha Rosari—landmark religius kota ini. Sore itu, tempat ibadah ini tampak tenang, sepi dari keramaian.

Gereja yang dibangun oleh Raja Adobala setelah pembaptisannya itu pada awalnya terbuat dari bambu lalu direnovasi pada tahun 1884 dengan besi yang dikirim dari Den Haag Belanda. Kisahnya luar biasa: warga lokal bergotong royong menjemput perahu yang berisi besi-besi di laut karena pada saat itu belum tersedia fasilitas dermaga.
 


Senja di Pelabuhan, Aroma Laut Sawu.


Langit mulai menguning saat perjalanan pulang, namun saya sempatkan mampir ke dermaga Tempat Pelelangan Ikan karena beberapa kapal Phinisi tengah membongkar muatannya. Saat berbincang dengan para nelayan, mereka bercerita laut Sawu di selatan Flores—yang konon ikan-ikannya lebih gurih daripada laut utara. Mungkin rasa yang lahir dari kedalaman dan tekanan.

Matahari tenggelam perlahan. Saya kembali ke penginapan untuk beristirahat. Isya akan datang dan saya butuh makan malam yang cukup, esok petualangan sesungguhnya akan dimulai—mengayuh sendiri di jalur-jalur tersembunyi di Pulau Flores. Maka malam itu, makan banyak dan tidur cepat menjadi moto sederhana saya.


larantuka
Bungalow sederhana di tepi selat Adonara.

pantai weri
Pantai Weri.

larantuka
Ujung pulau Adonara.

Pulau Solor tampak dari kejauhan.

gereja besi larantuka
Gereja Reinha Rosari yang biasa disebut juga Gereja Besi.

tempat pelelangan ikan
Beberapa nelayan melakukan bongkar muat di Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan.

flores
Larantuka menjelang malam.


Bersambung

x

Labels: , , , , , , , , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home