RAJA ADOBALA
22 November 2017.
Matahari menjulur perlahan dari balik Pulau
Adonara, mengantar cahaya hangat ke sudut kamar pagi itu. Debur ombak di selat
Flores seolah mengiringi sarapan sederhana yang dibawa petugas penginapan: roti
lapis telur ceplok dan secangkir kopi lokal yang mengepul hangat, meninggalkan
aroma bumi yang dalam. Satu hirupan, satu seruput, ditemani sebatang rokok,
sungguh ritual pagi yang nikmat yang tak butuh embel-embel.
Mendapat kabar tentang bengkel motor dengan
fasilitas pompa ban ada di dekat penginapan, sepeda hitam yang saya beri nama
“Idi Amin”— benda tangguh yang akan menjadi sahabat sejati di tanah timur
ini—saya keluarkan dari gudang dengan penuh antusias untuk mengisi angin ban.
Bengkelnya berdiri berhimpitan dengan Pasar Baru
Larantuka, sederhana tapi ramai. Orang-orang dari penjuru Flores Timur datang
ke sana untuk mencari onderdil, reparasi, dan juga solusi. Deretan barang di
etalasenya mengejutkan: lengkap seperti bengkel kota besar.
Pemiliknya ramah dan informatif, menyebut semua
stok barang datang dari Kupang yang diangkut seminggu dua kali oleh kapal Feri.
Ritme perdagangan yang terus hidup dalam denyut pelabuhan.
Merakit Mimpi: Pannier, Bel dan
Nasi Merah.
Selesai urusan ban, dengan duduk di teras cottage saya
bongkar Pannier Eiger yang akan menggendong berbagai perlengkapan sepeda. Rak
depan, pompa mini, botol minum, Extender Bar, Speedometer, bel kecil. Satu per
satu dipasang. Di siang yang lengang itu sepeda terasa kian siap.
Setelah semua rapi saatnya tes beban. Sambil
menyusuri jalan mencari tempat makan pedal dikayuh perlahan, menjaga ritme dan
memperhatikan getaran, beberapa warung dilewati hingga akhirnya sebuah warung
pecel khas Surabaya berhias spanduk besar “Sedia Es Buah” menarik lidah saya.
Pemiliknya beretnis Tionghoa, pendatang dari Kota
Buaya, ia melatih warga lokal jadi juru masaknya. Pecel datang hangat dengan
bumbu kacang kental dan kerupuk udang yang renyah, menyentuh lidah dengan
kejutan rasa. Sayangnya es buah yang diingini ternyata sudah
habis—diborong pegawai kabupaten, katanya. Es buah di tengah siang yang terik itu
tiba-tiba hilang dari daftar rasa.
Obrolan dengan pemilik warung membuka jalan cerita
lain. Ia menyarankan saya untuk mengunjungi Pantai Weri, tak jauh dari pusat
kota. Setelah menyelesaikan bon, sepedapun langsung melaju.
Menapaki Pasir Putih, Menyentuh
Laut Adonara.
Pantai Weri cukup indah dengan pasir putihnya,
menghadap langsung ke selat kecil pulau Adonara yang seolah bisa dijangkau
dengan satu lemparan batu. Sayangnya tempat tersebut belum digarap oleh
pemerintah.
Namun ada secercah harapan—lokasi bernama Asam
Satu Beach itu mulai dikembangkan oleh warga lokal dipimpin oleh pemuda bersemangat
bernama Nong Gembel. Disana saya melihat rombongan ibu-ibu Bhayangkara dengan
seragam ungu tengah menggelar outbond. Drone melayang di langit, merekam
gerak-gerik mereka dengan elegan.
Pantai ini cukup menjanjikan. Fasilitas toilet,
tempat bilas, kuliner, parkir motor, gazebo beratap rumbia dan arena bermain
anak tersedia walau sederhana. Tiket masuk hanya sumbangan seikhlasnya yang
ditaruh di kotak kaca. Merasa cukup, kemudian saya tuju Gereja Besi—Gereja
Katedral Reinha Rosari—landmark religius kota ini. Sore itu, tempat ibadah ini
tampak tenang, sepi dari keramaian.
Gereja yang dibangun oleh Raja Adobala setelah
pembaptisannya itu pada awalnya terbuat dari bambu lalu direnovasi pada tahun
1884 dengan besi yang dikirim dari Den Haag Belanda. Kisahnya luar biasa: warga
lokal bergotong royong menjemput perahu yang berisi besi-besi di laut karena pada
saat itu belum tersedia fasilitas dermaga.
Senja di Pelabuhan, Aroma Laut Sawu.
Langit mulai menguning saat perjalanan pulang, namun
saya sempatkan mampir ke dermaga Tempat Pelelangan Ikan karena beberapa kapal
Phinisi tengah membongkar muatannya. Saat berbincang dengan para nelayan,
mereka bercerita laut Sawu di selatan Flores—yang konon ikan-ikannya lebih
gurih daripada laut utara. Mungkin rasa yang lahir dari kedalaman dan tekanan.
Matahari tenggelam perlahan. Saya kembali ke penginapan untuk beristirahat. Isya akan datang dan saya butuh makan malam yang cukup, esok petualangan sesungguhnya akan dimulai—mengayuh sendiri di jalur-jalur tersembunyi di Pulau Flores. Maka malam itu, makan banyak dan tidur cepat menjadi moto sederhana saya.
![]() |
| Bungalow sederhana di tepi selat Adonara. |
![]() |
| Pantai Weri. |
![]() |
| Ujung pulau Adonara. |

![]() |
| Pulau Solor tampak dari kejauhan. |
| Gereja Reinha Rosari yang biasa disebut juga Gereja Besi. |
| Beberapa nelayan melakukan bongkar muat di Pelabuhan Tempat Pelelangan Ikan. |
![]() |
| Larantuka menjelang malam. Bersambung |
Labels: bike to pulau, biketopulau, eiger adventure, flores, larantuka, maumere, sepeda, specialized, tour, veloforfun, wisata








0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home