24.5.23

NELAYAN & SANG PENGHUBUNG ITU.


 6 JULI 2019.

Tanjakan Basah, Duren Hangat, dan Guguran Way Lalaan


Langit subuh baru saja bergeser ketika roda mulai bergerak. Tanjakan terjal langsung menyergap—jalan basah bekas hujan dini hari seolah memberi kejutan di awal etape kedua ini. Di tengah musim kemarau, rintik yang turun semalaman terasa seperti berkah tak terduga. 

Udara dingin menggigit kulit, tapi tubuh cepat memanas. Kalori dari sarapan pagi terasa seperti menguap dalam kayuhan pertama.

Gisting, kota kecil di kaki Gunung Tanggamus, berdiri pada ketinggian sekitar 700 meter dpl. Udara sejuknya berseling suhu 18–25 °C, menghadirkan rasa pegunungan yang tak bisa dibeli. 

Sebagai pusat ekonomi dan sentra wisata Kabupaten Tanggamus, Gisting juga dikenal sebagai lumbung sayuran dan bunga. Hasil panennya menyuplai dapur dan taman kota hingga ke Bandar Lampung.

Warganya beragam: Jawa, Sunda, Lampung, Minang dll. Mayoritas muslim, tapi keragaman hidup berdampingan dengan tenang di sini, seperti warna-warni bunga dari ladang di dataran tinggi itu.

Setelah pendakian rampung, jalan menurun panjang melintasi pertanian yang sedang sibuk panen. Turunan dari puncak 800 dpl ke dataran rendah di bawah 10 meter terasa seperti meluncur dalam lukisan—berliku, penuh warna, dan diselingi bau tanah basah.

Di satu tikungan, keramaian kecil memanggil perhatian. Ternyata itu Air Terjun Way Lalaan, salah satu spot wisata alam yang tersohor di daerah ini. Tiket masuk Rp10.000 sudah termasuk parkir, rasanya seperti hadiah murah untuk melihat keindahan.

Nama “Way Lalaan” diambil dari bahasa Lampung: way berarti sungai, lalaan bermakna bermuara—merujuk pada Teluk Semangka yang menjadi tujuannya. 

Terjunan air setinggi 15 meter itu mengalir deras ke kolam alami, dikelilingi batu besar yang tampak seperti panggung alam. Bersih, menyegarkan, dan menggoda untuk direnangi. 

Lokasi ini dikelola bersama antara Dinas Pariwisata Tanggamus dan komunitas sadar wisata lokal, lengkap dengan mushola, kamar mandi, kios makanan, dan parkiran luas.

Tak hanya air terjun, di sekitar terdapat kebun durian yang terbuka untuk pengunjung. Saat musimnya tiba, siapa pun boleh memilih sendiri buahnya—dengan bantuan tim pemetik.

Saat duduk di tepi Way Lalaan, saya menghubungi seorang nama: Iqal Kitting, sosok yang direkomendasikan oleh Iwan Setyawan—pesepeda dari Bandar Lampung yang saya jumpai di event sepeda massal di Bogor itu. Sayangnya, Iwan sedang tugas di luar kota.

Iqal sedang bersepeda bersama komunitasnya saat saya menghubungi. Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di bengkelnya yang terletak di ruas utama Kota Agung. Mudah dicari, sederhana tampilannya, namun terasa ada semangat yang membuncah di dalamnya.

Tempat itu bukan hanya bengkel, tapi juga sekretariat GOKAS—Goweser Kota Agung. Sebuah ruang silaturahmi bagi para pengayuh roda dua yang menjadikan sepeda bukan sekadar alat transportasi, tapi cara hidup.

Tak lama setelah tiba, obrolan kami diselingi aroma khas: Duren Jatohan yang baru dibawa dari kebun miliknya. Sebuah sambutan hangat yang menggoda lidah dan menyuburkan kenangan. Dalam sekejap, suasana berubah dari bengkel menjadi pesta kecil—diiringi aroma durian dan gelak ringan, menjadi salah satu momen paling wangi di sepanjang perjalanan ini.

Etape Tangguh: Lintas Wonosobo, Jejak Semaka, dan Iringan Kebaikan

Ia bercerita panjang lebar—tentang komunitas sepeda yang ia geluti, tentang nelayan yang menjerat hasil laut melebihi kapasitas, hingga pasar yang tak sanggup menampung sehingga harga jatuh tak berdaya. 

Di sela obrolan, ia memberi saya opsi tempat bermalam jika langkah hari itu tak bisa mencapai Ngaras di Bengkunat. Kalimat-kalimatnya ramah, sarat empati.

Sebelum kami berpisah, mereka mengusulkan sesuatu yang mengejutkan: mengawal saya hingga Semaka, 30 kilometer jauhnya. Saya sempat ragu, tak ingin merepotkan, tapi mereka bercerita tentang Wonosobo, kawasan yang katanya “merah”—terkenal rawan bagi pendatang baru. Kekhawatiran di mata mereka tak bisa saya abaikan. Akhirnya, saya pun menyetujui iring-iringan kawal: dua motor trail, empat orang, dan niat baik yang tulus.

Kami bergerak. Jalanan lengang, halus, dan mendatar. Sepeda saya melaju stabil, satu motor di belakang saya seperti bayangan yang berjaga, satu lagi melompat dari spot ke spot untuk memotret momen. Bahkan, GoPro saya sempat berpindah tangan ke rekan-rekan GOKAS—agar perjalanan ini memiliki lebih banyak sudut pandang.

Langit cerah tanpa kompromi. Mentari membakar waktu, bus-bus antar kota melintas sesekali, memberi kami sapaan debu yang ringan.

Kampung demi kampung terlewati, hingga kami memasuki pemukiman yang lebih ramai—Wonosobo. Secara kasat mata, tak ada yang mencurigakan. Seperti kampung lainnya: tenang, sederhana, dan sepi. Hanya pasar yang menyimpan denyut kehidupan. Namun di etape berikutnya, saya mendengar cerita dari seseorang yang sempat menjadi korban di wilayah itu—dan barulah saya memahami betapa pentingnya kawalan tadi.

Di tengah arus yang lambat, sesekali biker dari Jakarta melintas—motor gede menyapa dengan tangan terangkat. Ternyata, lintas barat ini adalah jalur favorit menuju Krui dan Bengkulu. Sawah kuning terhampar, kelapa berdiri tenang, dan dua sungai besar berpadu seolah mengantar kami sampai di tujuan: rest area Way Kerap di Kecamatan Semaka.

Tempat ini bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah komplek Masjid Agung Semaka, menjadi titik istirahat para pejalan dan pengendara. Fasilitasnya lengkap—luas, bersih, dan penuh keramahan. Beberapa kios kecil menjual makanan lokal yang menggoda.

Waktu dzuhur memanggil. Banyak pengunjung mengisi ruang ibadah atau menikmati makan siang. Beberapa menatap sepeda saya, bertanya-tanya tentang barang-barang yang saya bawa. Darimana? Mau kemana? Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang menyimpan keingintahuan tulus.

Setelah tiba dan beristirahat, teman-teman dari GOKAS pamit. Mereka kembali ke Kota Agung, mengakhiri iring-iringan dengan senyum dan salam. Saya membalas dengan dua jari yang terangkat, penuh terima kasih atas kebaikan mereka—yang tanpa pamrih mengawal jejak saya di hari itu. ✌✌



Di Ambang Hutan dan Hujan: Sepeda, Harimau, dan Dua Tas Misterius

Setelah sejam beristirahat—makan, ibadah dan meresapi sunyi Semaka—saya kembali mengayuh. Matahari mulai bersahabat, bidon terisi penuh, tubuh segar, semangat stabil. 

Jalanan setelah rest area mengalir datar, membelai roda dengan lembut. Tapi hanya sebentar, sebab tikungan tajam membawa pandangan ke tanjakan curam, yang berdiri seperti tantangan. Di pinggir jalan beberapa warga berteduh di pos kecil, siap siaga membantu mobil-mobil yang kalah oleh gravitasi.

Berbekal tenaga dari nasi dan doa sebelumnya, saya mulai menanjak pelan. Gradient sekitar 20%—2 kilometer penuh perjuangan. Medan lalu berubah menjadi rolling, naik-turun silih berganti. Langit kelabu menggantung dan tak lama, hujan turun tanpa ragu. Deras dan dingin.

Saya melihat ada rumah sederhana di tepi jalan dan dengan harap bisa ikut berteduh di terasnya. Ketukan di pintu tak disambut, jadi  duduk saja di kursi bambu, menunggu diam dalam hujan.

Suasana hutan mulai terasa kental. Pohon-pohon raksasa menatap langit, bunyi satwa bersahutan—saat itu saya baru faham, kaki sudah melangkah masuk ke jantung Bukit Barisan Selatan.

Beberapa saat kemudian, motor pengangkut kelapa muncul dari jalan tanah di samping rumah. Pengendara memanggil penghuni, dan seorang ibu tua akhirnya membuka pintu. Aku meminta izin berteduh, dan ibu itu menyambut dengan ramah, meski sempat merasa curiga sebelumnya.

"Ke mana arahnya?" tanya si ibu. “Bengkunat,” jawab saya. Ia menghela napas, “Masih jauh, Pak... sore begini tak aman melintasi Bukit Barisan, banyak binatang, termasuk harimau.”

Saya sempat mikir untuk mundur ke rest area, tapi teringat pesan teman-teman GOKAS: sebelum masuk BBS, ada kantor pengelola taman. Aku tanya si ibu, dan ia membenarkan. Kantornya tak jauh dari sini.

Gedung bertuliskan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan berdiri kokoh di depan. Saya masuk dan mengajukan permohonan untuk menginap sambil menunjukkan identitas. Petugas yang berasal dari dari Pringsewu itu menyambut baik, “Tidurnya nanti bareng Polisi Hutan yang besok berpatroli ya,” ujarnya.

Dengan rasa lega, saya pun membuka percakapan. Sebagai pendatang, saya ingin tahu lebih banyak. Mereka menjelaskan bahwa TNBBS ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Hutan Hujan Tropis Sumatra oleh UNESCO pada thn. 2004 dan masuk daftar Global 200 Ecoregions versi WWF—karena habitatnya, baik darat, air tawar, maupun laut.

Di sinilah harimau, gajah, dan badak Sumatra berlindung. Kawasan ini adalah rumah terakhir mereka. Total 350 ribu hektare mencakup wilayah di Lampung dan Bengkulu, dan dikelola langsung oleh Kementerian LHK.

Menjelang maghrib, saya siapkan perlengkapan mandi dan tidur. Air dari hutan menyegarkan tubuh yang mulai lelah. Saat istirahat, terdengar suara di lobi kantor. Tak lama ada petugas datang, “Ada tamu cari Bapak.”

Ternyata tamu itu adalah Kepala Dusun. Katanya, Polsek setempat menghubunginya untuk memastikan apakah saya benar sesuai KTP yang tadi ditunjukkan ke petugas jaga. Saya mengangguk.

“Nanti akan ada yang datang menemui,” ujarnya. Pikiran pun berkecamuk. Ada apa ini? Curiga, aku menebak pasti ini ulah teman lama yang ‘berjaringan’ di Polda itu. Dan benar saja.

Mobil patroli Polsek masuk pelan ke halaman kantor. Dua petugas keluar sambil menjinjing dua tas. “Kami mohon maaf, Kapolsek tak bisa hadir langsung, tapi beliau titip ini untuk Bapak.” Ternyata, teman di Polda menghubungi Kapolsek lagi setelah saya share lokasi terakhir.

Obrolan mengalir hangat, dan mereka pun pamit. Pak Kadus dan petugas kantor bertanya-tanya: “Siapa sebenarnya Bapak ini?” saya hanya mesem aja.

Kami akhirnya makan malam bersama. Suasana cair. Dan dua tas pemberian itu menjadi semacam ‘legenda kecil’ yang menutup hari penuh kejutan di ambang hutan.




Bersambung