27.1.21

KOTA BESAR YANG BERSIH

4 JULI 2019.

Menepi Sejenak di Bandar Lampung: Secangkir Kopi, Sebuah Kamar, dan Jejak Teman Lama


Pagi masih malu-malu menyapa saat saya menjejakkan kaki di terminal Rajabasa yang bersih dan tertata rapi itu. Sinar matahari belum sepenuhnya membelah kabut, tapi langkah sudah bergerak menyaring informasi tentang tempat menginap. Google Maps pun jadi kompas digital di tangan, sementara aroma kopi dari warung dalam terminal memikat hati lebih dulu.

Secangkir kopi Lampung dari sang ibu pemilik warung menjadi pembuka obrolan hangat pagi itu. Ia menyebut beberapa nama penginapan yang bisa saya pertimbangkan, lengkap dengan arah dan harga seadanya. Tak butuh banyak pertimbangan, saya pun melompat ke atas ojek dan menyusuri jejak tempat-tempat itu.

Setelah beberapa kali singgah dan bertanya, saya menemukan satu tempat yang terasa pas: sebuah penginapan sederhana milik seorang dosen di Universitas Lampung. Asri, tenang, dan menawarkan tarif yang bersahabat, persis seperti harapan saya.

Kamar mungil berukuran 2x3 meter itu dihiasi kipas angin menggantung di dinding, dan yang pastinya kamar mandinya bersih, cukup untuk beristirahat semalam. Tarifnya hanya Rp100 ribu, cocok dengan anggaran perjalanan yang sudah saya susun dari jauh-jauh hari. Lokasinya pun strategis, tak jauh dari terminal Rajabasa dan kampus Unila. 

Petugas resepsionis menyampaikan dengan sopan bahwa kamar baru bisa ditempati mulai pukul dua siang karena masih dihuni. Saya pun mafhum, lalu kembali ke terminal untuk mengambil sepeda yang tadi saya titipkan ke ibu warung.

Karena tak ada angkot, pengemudi ojek mengusulkan cara yang tak biasa tapi masuk akal: menggendong dus sepeda di atas motor. Dus besar seberat sekitar 15 kg itu memang tak terlalu berat, namun bentuknya yang lebar membuat kami berkeringat saat mencoba menyeimbangkannya. Untung jaraknya hanya satu kilometer—dengan usaha dan tawa kecil di antara kesulitan, akhirnya kami tiba di penginapan dengan selamat.

Sambil menunggu waktu check-in, saya menyusun kembali sepeda yang telah lama tertidur dalam kardus. Tak lama kemudian, masa lalu datang mengetuk dalam wujud seorang sahabat semasa SMP. Kami terhubung kembali lewat grup alumni, dan ternyata ia kini menjadi petugas kepolisian di kota ini.

Ia datang mengenakan seragam dinas, ditemani sang istri yang membawa tas berisi oleh-oleh khas Lampung sebagai bingkisan hangat. Obrolanpun mengalir ringan, saling tukar cerita setelah sekian lama tak bersua. Meski tak lama, pertemuan itu terasa menggenapkan pagi yang sudah penuh warna.

Sebelum berpisah, ia mengajak saya menjelajah Bandar Lampung malam nanti—menyentuh denyut kota dari dekat, dan mungkin, membiarkan kenangan lama berbaur dengan langkah-langkah baru.



Sepeda itu akhirnya utuh kembali, satu per satu mur dikencangkan, pedal disusun, roda ditegakkan. Di luar, matahari mulai beringsut ke puncaknya, sementara perut mulai mengirim sinyal lapar. “Kedai makan di ujung jalan itu enak,” saran seorang pegawai hotel dengan senyum ringan. Langkah saya pun bergegas, sebab langit tiba2 menggelap dan hujan mulai jatuh perlahan.

Penjual di warung itu menyambut dengan cerita. “Ini hujan pertama setelah kemarau panjang,” katanya, matanya memandang ke luar seolah bernostalgia. Hujan turun pelan, membasahi daun-daun kering yang sudah terlalu lama menunggu tetes air. 

Di satu sisi, ini berkah—alam mulai bernapas lagi. Tapi di sisi lain, hati sedikit was-was: apakah hujan akan ikut menumpang di setiap etape perjalanan saya nanti?

Malam datang seperti janji yang ditepati. Kami keluar dari hotel, dan Bandar Lampung menyambut dengan wajah kota yang tumbuh cepat. Deretan perusahaan multinasional mulai mengisi ruang-ruang usaha, gedung tinggi berbaris rapi, dan jalanan bersih seperti baru disapu hujan tadi sore. Kotanya terasa lebih teratur, lebih tertata, dibanding kota kelahiran saya yang masih menyimpan riuh.

Tanpa diduga, kami melangkah menuju sebuah mall yang baru diresmikan tahun lalu. Saya sempat kikuk, jaket lapangan, celana petualangan, kontras dengan sahabat saya yang tampil rapi. Tapi ia hanya tersenyum dan menepuk bahu, “Tenang saja, kamu tidak salah kostum. Kamu cuma sedang jadi dirimu sendiri.”

Mall itu terawat dengan baik. Fasilitasnya lengkap, atmosfernya seperti cuplikan dari kota besar. Beberapa ekspatriat terlihat berlalu-lalang, menjadi penanda bahwa Lampung bukan lagi halaman belakang, tapi mulai jadi persimpangan bagi orang-orang dari berbagai belahan dunia.

Saat kami menyusuri koridor menuju Food court, beberapa pengunjung menyapa sahabat saya dengan hormat. Rasa penasaran menuntun saya mencari tahu. Ternyata ia bukan sembarang kawan SMP: ia adalah perwira polisi dengan rekam jejak panjang di berbagai wilayah dan posisi. Terkenal, disegani, tapi tetap membawa ketulusan yang sama seperti dulu.


Bersambung