25.9.19

KAPAL CEPAT, DERMAGA BARU



3 JULI 2019.

Menuju Lampung:

Dalam Balutan Debu, Cahaya, dan Mesin yang Menyalak


Langit kemarau menggurat panas yang tak bersahabat saat saya melangkah pelan menuju pool Damri di utara kota Bandung. Matahari serasa menenggelamkan aspal, namun semangat telah dibungkus rapi—bersama sepeda di dalam dus karton, siap bersandar di bagasi bus menuju Bandar Lampung.

Tiket telah dibayar kemarin: Rp195 ribu untuk tempat duduk, dan tambahan Rp150 ribu untuk si roda dua kesayangan, langsung ditunaikan ke awak bus sebelum waktu keberangkatan. Praktis, tak banyak basa-basi.

Selepas Isya, mesin dipanaskan. Bus berkabin dingin dan kursi yang bisa direbahkan mulai melaju menembus malam, dengan formasi 2-2 yang memuat 40 jiwa dengan beragam tujuan. Di sebelah saya, seorang pemuda yang merantau lima tahun lamanya di Bandung, akhirnya pulang ke kampung halaman. Ia bukan hanya membawa koper dan kerinduan, tapi juga cerita-cerita kecil yang dipungut dari rak-rak toko ritel tempatnya bekerja.

Memasuki Bekasi, perjalanan tersendat. Di luar jendela, tiang-tiang beton menjulang: jalan layang tol dan LRT sedang dirakit serentak. Infrastruktur yang katanya dibangun untuk mengalirkan manusia dan barang dari timur ke jantung negeri, tapi malam itu ia jadi dinding penghambat bagi kami yang hanya ingin berpindah tempat.

Lambat laun, laju bus kembali seperti biasa. Penumpang terlelap, dan saya pun ikut hanyut, bergoyang ringan bersama suspensi.

Dini hari menjelang. Di pintu masuk pelabuhan Merak, polisi tidur menggiring kami terjaga perlahan. Sang kondektur, layaknya pramugara darat, menawari dua pilihan: mau menyeberang dengan kapal ferry biasa atau yang berkecepatan tinggi? Kami sepakat, tak ingin berlama-lama di laut - ferry cepat jadi jawabannya, meski harus merogoh tambahan Rp10 ribu.

Dermaga yang kami tuju terlihat masih baru. Dibangun dengan estetika modern: kios-kios ritel dengan sistem transaksi elektronik, atap baja ringan yang memantulkan cahaya lampu dermaga, dan deretan kursi tunggu yang bersih. Sayang, pusat belanjanya sudah tutup. Mungkin nanti saya kembali sebagai turis, bukan penumpang bus.

Kapal melaju, dan benar saja—tak sampai satu jam kami sudah berlabuh di Bakauheni. Sang supir segera menyalakan mesin dan meluncur sigap. Kota masih diselimuti kabut pagi saat bus menjejak terminal Rajabasa pukul enam. Selamat datang di Lampung: kota yang dipenuhi elemen Siger, simbol kebesaran tradisi dan keramahan bumi Ruwa Jurai.





Labels: , , , , , , , , , , , , ,

17.9.19

BIKE TO PULAU #2 Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai

MENGAYUH KE SELATAN : 

Sepenggal Cerita dari Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai..


Setelah sekian lama roda sepeda beristirahat dari petualangan panjang, akhirnya saya kembali menyusuri jalanan, kali ini menuju Lampung, sebuah provinsi yang berada di ujung selatan pulau Sumatera. 

Perjalanan solo sepanjang kurang lebih 450 kilometer ini dimulai dari Bandar Lampung dan berakhir di Bukit Kemuning, dengan jalur yang melintasi Kota Agung, Bengkunat, Krui, Liwa, hingga Danau Ranau yang mistis.

Rute ini bukan pilihan acak. Ia lahir dari percakapan hangat dengan seorang kawan bernama Iwan Setyawan, yang saya jumpai dalam acara Zero to Zero tahun 2017, sebuah hajatan sepeda massal dari kilometer nol Bogor ke kilometer nol Bandung. 

Di sanalah, di antara keringat dan semangat, Iwan berkisah tentang kampung halamannya: Lampung, dengan lanskap alam yang memesona, budaya yang kaya, dan sejarah yang menyimpan lapisan-lapisan makna.

Obrolan itu merasuk jauh ke benak saya. Rasa ingin tahu bertumbuh, dan akhirnya mesin pencari menjadi pintu masuk menuju Lampung secara virtual, sebelum kaki ini benar-benar menapakinya. Dan saya tahu, ini bukan sekadar perjalanan. Ini adalah pemenuhan janji pada rasa penasaran.

Pantai baratnya, yang menatap langsung ke samudra Hindia, membentangkan garis pesisir berpasir putih dan ombak yang menggoda. Sementara Danau Ranau, tersembunyi jauh di dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, menawarkan ketenangan yang seolah melupakan dunia luar. 

Tapi bukan hanya itu, budaya di sini lahir dari percampuran yang unik: lokal dan pendatang, tua dan baru, bersatu dalam keharmonisan yang menyusun wajah Lampung hari ini.

Sejarah Lampung tak kalah menggugah. Pada tahun 1905, wilayah ini menjadi panggung kolonisasi Belanda. Mereka membawa rombongan dari Jawa dan Bali, melintasi laut dengan kapal, lalu berjalan kaki sejauh lebih dari 70 kilometer dari pelabuhan Panjang menuju hutan belantara di daerah Gedong Tataan. Tiga hari perjalanan, mereka memikul barang di pundak, sebelum akhirnya membuka lahan untuk kepentingan penjajah.

Pasca kemerdekaan, ide itu dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia dalam skema transmigrasi. Dari waktu ke waktu, percampuran etnis membentuk identitas baru: budaya Lampung yang plural, yang berakar tapi tetap terbuka.

Dan dari metamorfosis itulah muncul semboyan yang memayungi kebhinekaan: Lampung, Sang Bumi Ruwa Jurai. Sebuah tanah yang menjadi rumah bagi mereka yang datang dari berbagai penjuru, dan pelabuhan bagi jiwa-jiwa petualang seperti saya.



Labels: , , ,