KAPAL CEPAT, DERMAGA BARU
Menuju Lampung:
Dalam Balutan Debu, Cahaya, dan Mesin yang Menyalak
Langit kemarau menggurat panas yang tak bersahabat saat saya melangkah pelan menuju pool Damri di utara kota Bandung. Matahari serasa menenggelamkan aspal, namun semangat telah dibungkus rapi—bersama sepeda di dalam dus karton, siap bersandar di bagasi bus menuju Bandar Lampung.
Tiket telah dibayar kemarin: Rp195 ribu untuk tempat duduk, dan tambahan Rp150 ribu untuk si roda dua kesayangan, langsung ditunaikan ke awak bus sebelum waktu keberangkatan. Praktis, tak banyak basa-basi.
Selepas Isya, mesin dipanaskan. Bus berkabin dingin dan kursi yang bisa direbahkan mulai melaju menembus malam, dengan formasi 2-2 yang memuat 40 jiwa dengan beragam tujuan. Di sebelah saya, seorang pemuda yang merantau lima tahun lamanya di Bandung, akhirnya pulang ke kampung halaman. Ia bukan hanya membawa koper dan kerinduan, tapi juga cerita-cerita kecil yang dipungut dari rak-rak toko ritel tempatnya bekerja.
Memasuki Bekasi, perjalanan tersendat. Di luar jendela, tiang-tiang beton menjulang: jalan layang tol dan LRT sedang dirakit serentak. Infrastruktur yang katanya dibangun untuk mengalirkan manusia dan barang dari timur ke jantung negeri, tapi malam itu ia jadi dinding penghambat bagi kami yang hanya ingin berpindah tempat.
Lambat laun, laju bus kembali seperti biasa. Penumpang terlelap, dan saya pun ikut hanyut, bergoyang ringan bersama suspensi.
Dini hari menjelang. Di pintu masuk pelabuhan Merak, polisi tidur menggiring kami terjaga perlahan. Sang kondektur, layaknya pramugara darat, menawari dua pilihan: mau menyeberang dengan kapal ferry biasa atau yang berkecepatan tinggi? Kami sepakat, tak ingin berlama-lama di laut - ferry cepat jadi jawabannya, meski harus merogoh tambahan Rp10 ribu.
Dermaga yang kami tuju terlihat masih baru. Dibangun dengan estetika modern: kios-kios ritel dengan sistem transaksi elektronik, atap baja ringan yang memantulkan cahaya lampu dermaga, dan deretan kursi tunggu yang bersih. Sayang, pusat belanjanya sudah tutup. Mungkin nanti saya kembali sebagai turis, bukan penumpang bus.
Kapal melaju, dan benar saja—tak sampai satu jam kami sudah berlabuh di Bakauheni. Sang supir segera menyalakan mesin dan meluncur sigap. Kota masih diselimuti kabut pagi saat bus menjejak terminal Rajabasa pukul enam. Selamat datang di Lampung: kota yang dipenuhi elemen Siger, simbol kebesaran tradisi dan keramahan bumi Ruwa Jurai.
Labels: Bandar lampung, Bicycle touring, bike to pulau, bike touring, Brooks, Chris king, danau ranau, eiger, Kota Agung, Krui, Liwa, Stans no tubes, Surly, wisata lampung







